
Rey gelisah duduk didalam mobilnya. menunggu Icha dan Jimmy keluar dari restoran.
Rey seperti seorang pengintai, dia terus mengawasi Icha. Hatinya panas terbakar api cemburu. Karena terlalu lama Rey menghidupkan mobilnya dan melajukannya menuju rumah Roni.
Rey sampai dan langsung masuk ke dalam rumah. Roni sudah bersiap dengan pakaian casualnya, kelihatan sekali dia akan pergi.
"Rey.." ucapnya kaget melihat Rey berjalan masuk kedalam rumahnya.
"Sejak kapan kau sampai. Kenapa aku tidak mendengar suara mobilmu?"
Rey tidak menjawab dia menjatuhkan tubuhnya di sofa. Rey merasa sangat kesal dan lelah.
"Rey...kau kenapa?" tanya Roni lagi. Kini dia duduk tepat didepan Rey.
Rey menghela nafas berat.
"Aku memberinya waktu satu minggu untuk berpikir. Bukan untuk berkencan!" ucap Rey.
"Berkencan! siapa yang kau maksud?" tanya Roni menyelidik dan terus menatap Rey penasaran.
" Siapa lagi?" ucap Rey. Dia mengusap kasar wajahnya. Rey menyandarkan tubuhnya di sofa. dan menengadahkan kepalanya melihat langit langit rumah Roni.
"Apa yang kau maksud Icha, si culun?" ucap Roni menggantung, dia kurang yakin dengan ucapannya.
Dengan menarik nafas berat Rey mengangguk. "Ha..ha...ha . Roni tertawa dengan lebar. Dia sampai terpingkal pingkal menertawakan Rey.
Rey semakin merasa kesal. Dia bangkit hendak pergi. Bukan mendapat solusi malah di tertawakan oleh Roni.
"Tunggu Rey.." panggil Roni masih tertawa. "Jangan marah. Aku hanya tidak menyangka, Rey si playboy prustasi dan hampir gila gara gara seorang gadis culun." Ha.ha..ha Roni masih tertawa.
"Kau...jika kau masih tertawa aku akan menghajar mu sekarang juga." ucap Rey penuh emosi.
"Maaf..maaf.!" ucap Roni mengangkat tangannya.
"Aku yakin, kau sudah benar benar jatuh cinta padanya. Katakan, apa yang aku katakan benarkan?" tanya Roni.
Rey mengangguk.
"Apa kau sudah mengatakan padanya, jika kau menyukainya?" tanya Roni lagi.
"Dan kau merasa tersiksa?" ucap Roni.
Rey kembali mengangguk. "Tapi bukan hanya itu, kini dia di deketin oleh Jimmy. Kau tahu kan Jimmy manager bengkel ku. Ternyata mereka teman masa kecil. " ucap Rey, wajah nya terlihat prustasi.
"Lalu kau mau apa? Mau marah dan menghajar jimmy? atau mau marah pada Icha?"
"Entahlah..aku bingung. Aku terjebak dengan ucapanku sendirinya." ucap Rey terlihat pasrah.
"Kamu suka padanya?"
Rey kembali mengangguk.
"Kalau kau suka, kejar dia."
"Kalau dia menolak?" ucap Rey nyaris tak terdengar.
"Dia mengatakan dia tidak menyukaimu."
Rey menggeleng.
"Kejar sampai dia mau menerima mu. Mana Rey si playboy yang banyak dikejar kejar cewek. Masak baru ditolak sekali aja langsung down. Kejar dan perjuangkan. Aku yakin dia juga mencintai mu. Kau hanya perlu usaha sedikit lagi untuk meyakinkan hatinya." ucap Roni menepuk pundak Rey.
"Semangat!!" ucapnya lagi.
Rey mengangguk. Dia bangkit dan berjalan keluar.
"Mau kemana?" tanya Roni.
"Memperjuangkan cintaku?" jawab Rey tanpa menoleh ke belakang. Roni kembali tertawa dibuatnya.
Rey melajukan mobilnya ke rumah Icha. Dia berhenti diseberang jalan, dan menoleh ke rumah Icha. Kosong dan gelap. Mungkin Icha sudah tidur, pikirnya. Lama Rey memandangi rumah Icha , kemudian dia melajukan mobilnya pulang ke rumahnya.
Kalau suka baca cerita ini, beri like and vote ya. Biar mamie makin semangat nulisnya.
Jika banyak yang vote ntar mamie crazy up, ok.