Sheila & Rey

Sheila & Rey
Perjuangan Jimmy



Jimmy kembali menjemput Icha malam ini. Dia sudah sejak dua jam yang lalu menunggu di parkiran. Sama seperti kemarin Rey tidak datang ke kafe.


Icha sibuk melayani pelanggan. Malam Minggu seperti ini kafe memang sangat ramai.


Sementara itu Rey duduk melamun. Dia duduk sendiri di pinggiran danau buatan tak jauh dari kota. Rey merenung sendiri. Dia selalu ke tempat ini untuk menenangkan diri saat memilki masalah.


Rey diam, dia sangat merindukan Icha tapi dia sudah berjanji untuk tidak menemuinya selama satu Minggu ini. Tapi baru dua hari saja Rey sudah sangat merindukannya.


"apa aku temui saja dia, tapi aku kan sudah janji padanya.. aku akan melihatmu dari jauh saja." ucap Rey dalam hati.


Rey masuk kedalam mobil dan melajukan nya menuju kafe miliknya. Diliriknya jam di tangannya sudah setengah sebelas malam, sudah waktunya kafe tutup. Rey menambah kecepatan nya. Dia ingin melihat Icha walau dari kejauhan.


Icha keluar bersama Siti dan putri. Jimmy yang melihatnya datang mendekat.


"Kak Jimmy," ucap Icha terkejut. "Ada apa kakak malam malam disini?" tanya Icha polos. Dia gagal paham maksud kedatangan Jimmy.


"Aku sengaja menjemputmu. Aku akan mengantarkan mu pulang." ucap Jimmy tersenyum.


"Kenapa Kaka harus repot repot, aku kan bisa pulang sendiri. Kakak tidak perlu khawatir." ucap Icha sedikit kesal.


"Aku tidak merasa direpotkan. Malah aku senang melakukannya. Sudah ayo, mau sampai kapan kita disini." Ucap Jimmy menarik Icha berjalan ke arah mobilnya.


"aku duluan ya!" ucap Icha kepada Siti dan putri sambil terus berjalan.


Icha melepaskan tangan Jimmy yang menarik nya. Dia berjalan masuk ke dalam mobil tanpa bersuara.


Jimmy menghela nafas kecewa. Dia sedih Icha menolaknya.


Dari kejauhan Rey memperhatikan Icha dan pria yang menjemputnya. Rey memegang kuat stir mobilnya. Dia sangat kecewa dengan apanyang dia lihat. Icha dijemput oleh cowok lain. Rey memukul stir mobilnya meluapkan semua kekesalannya.


"Apa benar dia tidak memiliki perasaan padaku?" tanya Rey pada dirinya sendiri.


"Mau singgah makan malam sebentar.!" tawar Jimmy pada Icha. Memecah kesunyian diantara keduanya.


"Belum!" jawab Jimmy cepat. Dia tahu pasti Icha tidak akan tega menolak tawarannya jika dia mengatakan sudah makan.


Icha merasa tidak enak untuk menolak. "Baiklah, mau makan dimana?"


"Gimana kalau kita makan steak di restoran yang ada di ujung sana. Steak nya paling enak di kota ini lho."


Icha hanya mengangguk.


Jimmy membelokkan mobilnya ke restaurant yang dia maksud. Masuk ke dalam dan duduk di ujung dekat dengan jendela. Pelayan pun datang.


"Mau pesan apa, tuan?" tanya pelayan sopan.


"Saya mau pesan beef steak, kamu mau pesan apa Cha?" tanya Jimmy pada Icha.


"Aku.. ehm..aku pesan minum aja orange juice." ucap Icha.


"Kamu nggak makan?" tanya Jimmy lagi.


"Maaf kak, tapi aku sudah kenyang." ucap Icha tersenyum.


Jimmy menghela nafas kecewa. "Ya sudah itu saja pesanannya." ucap Jimmy lagi.


"Kenapa kau tidak bilang, kalau kau sudah makan. kalau tau gitu, kita tadi langsung pulang saja." ucap Jimmy kecewa.


"Nggak apa apa kakak makan saja. Setelah itu kita bisa langsung pulang." jawab Icha.


Rey yang merasa cemburu mengikuti Icha dan Jimmy dari belakang. Jimmy tidak menyadari jika Rey mengikutinya. Dia terkejut Jimmy berbelok ke arah restauran. Dilihatnya Icha dan Jimmy turun dan masuk kedalam. Rey semakin kesal.


"jadi mereka berkencan? Aku nggak boleh biarin ini semau terjadi, aku harus..... tapi siapa aku? lagipula aku sudah berjanji untuk tidak menemuinya, bagaimana ini!!"