Sheila & Rey

Sheila & Rey
Manis



Alarm membangunkan Icha, dia terkejut merasakan sebuah tangan kekar melingkar diperutnya. Icha tegang beberapa saat, bayangan malam panjang mereka muncul satu persatu, wajahnya tiba-tiba memerah menahan malu. Pelan tangannya mengangkat tangan Rey, dia ingin turun tanpa membangunkan suaminya.


Rey terbangun, bukannya melepaskan pelukannya Rey justru semakin mengeratkan pelukannya. Icha menatapnya, Rey masih memejamkan mata, tapi dia tak dapat menahan senyuman di bibirnya.


"Mas...." panggil Icha pelan.


"Morning sayang," ucap Rey dan dengan tiba-tiba mengecup pipinya. Lagi wajah Icha memerah.


"Mas..lepaskan, a..aku mau mandi," ucap Icha dengan malu-malu. Reyhan semakin gemas.Ingin rasanya dia kembali menyerang istrinya saat ini, namun dia coba menahannya.


"Sun dulu," seru Rey menyodorkan pipinya. Icha dengan malu memajukan bibirnya bersiap memberikan kecupan pada pipi suaminya, namun saat tinggal dua Senti Rey berpaling dan akhirnya bibirnya bertemu dengan bibir Rey. Mata Icha membola sempurna, dia ingin memundurkan wajahnya namun dengan cepat Rey menahannya, dan di memberikan morning kiss yang dalam.


"Mas curang," cebik Icha saat tautan mereka terlepas.


"Curang?" Rey menautkan kedua alisnya.


"Iya, mas sengaja kan,"


"Tapi kamu suka kan?" goda Rey. Dan dia melonggarkan pelukannya.


Icha segera bangkit dan berjalan ke kamar mandi, beberapa menit kemudian dia keluar dengan tubuh segar. "Buruan mas, waktu subuh sudah hampir habis." seru Icha melihat Rey masih bermalas malasan di ranjang.


Icha kemudian membuka kopernya yang belum sempat dia buka tadi malam, dia mengambil mukena dan sholat. Kali ini dia tidak menunggu Rey.


Rey keluar kamar mandi, dia tersenyum lebar mendapati istrinya sedang sholat. "Tak salah aku memilih istri, selain baik dan cantik dia juga gadis yang Sholeha." ucapnya pelan.


"Kamu nggak sholat mas?" tanya Icha melipat mukenanya.


"Nanti saja, lagipula aku sudah lupa bacaan sholat, aku dulu pernah belajar sama bibik, tapi... sekarang aku sudah lupa." cicitnya sedih.


"Aku akan mengajarimu mas, asal kamu mau. Sholat itu kewajiban, sebagai umat muslim. Mas, jangan malu aku akan mengajarimu." Rey mengangguk.


"Aku akan.ke bawah membuat sarapan." seru Icha.


"Mas akan membantumu," sahut Rey bersemangat.


Mereka masak bersama, selesai masak keduanya sarapan dan setelah itu Rey mengajak Icha berbelanja ke mini market yang dekat dengan bengkelnya.


Rey mendorong troly belanjaan dan Icha memilih dan memasukkan apa saja kebutuhan mereka. Selesai membayar belanjaannya, mereka kembali ke rumah.


"Berani mas,"


"Ya udah. Mas pergi dulu, jangan lupa kunci pintu. Mas nggak akan lama, karena mas akan makan siang di rumah."


"Hati-hati mas," Icha meraih tangan Rey dan menciumnya. Rey terdiam beberapa saat, hatinya terharu, ini hal sederhana namun baginya itu adalah hal luar biasa. Rey sangat senang dan bahagia. Dia mencium kening.ocha sebelum.benar- benar pergi.


Sepanjang jalan dia tersenyum mengingat momen indah tadi, rasanya sungguh menyenangkan.


"Pagi bos"sapa beberapa anak buahnya.


"Pagi"


Rey terus berjalan menuju ruangan Jimmy. "Wah pengantin baru, apa kabar?" ucapnya menyambut kedatangannya Rey.


"seperti yang kami lihat. Aku kesini mau ngucapin terima kasih. Kau sudah sangat banyak membantu, aku berutang Budi padamu."


"Eh..apa yang kau katakan bos, kita ini kan teman. Tidak ada hutang Budi dalam persahabatan. Aku tulus melakukannya, apalagi Icha sudah aku anggap sebagai adikku sendiri."


"Sekali lagi terima kasih." ucap Rey tulus. Dia maju dan memeluk sahabatnya itu. "Gue cuma punya loe, gue nggak tahu gimana kisah gue kalau nggak ada loe, gue nggak bisa balas jasa baik loe"


"Ehm.. loe ingin balas kebaikan gue?" tanya Jimmy setelah melepaskan pelukannya. Rey mengangguk


"Gampang, bahagiakan Icha dan jangan pernah menyakiti hatinya, itu sudah lebih dari cukup bagi gue." ucapnya yakin.


"Pasti!" jawab Rey tanpa ragu.


"Satu lagi, gue minta keponakan yang lucu,"


"Heheheh...." Rey terkekeh


" Kalau yang itu loe tenang aja, gue pasti kabulin. Bentar lagi juga pasti jadi, gue dan Icha sedang berusaha."


Jimmy terkejut, matanya membulat sempurna. "Jangan bilang loe dah tanam saham duluan ya Rey? pantas bokapnya langsung menerima loe, nggak nyangka gue!" seru Jimmy geleng-geleng kepala.


"Sialan loe, gue nggak kayak gitu, lagian kalaupun gue mau Icha pasti nggak akan mau."


"Baguslah, ya udah laporan dah gue susun di meja. jika ada apa -apa, panggil aja gue ada di sebelah." ucap Jimny. Dia melangkah keluar dari ruangan Rey.