
Rey berjalan memasuki area kampus. Dia langsung menuju ke ruangannya.
Dia belum sarapan dan lagi kepalanya masih sangat pusing.
Rey langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa begitu masuk ke dalam.
tok.....tok.....tok
Sheila mengetuk pintu dan masuk.
"Pagi kak." Sapa Sheila.
Reyhan tidak menjawab tapi dia memperhatikan penampilan Sheila. Kacamata tebal dan rambut di kuncir.
"Tapi aku tidak salah melihat yang kemarin malam sangat mirip dengannya."
"Belikan aku sarapan!" Perintah Rey.
"kakak mau sarapan apa?" Tanya sheila.
"Terserah, dasar bodoh. Hal seperti itu aja masih tanya." Geram Rey.
"Kalau aku tidak tanya dan nanti salah membeli, kau akan memarahi aku." jawab Sheila.
"Beli bubur ayam yang kemarin. Cepatlah,,, aku akan menghukum mu kalau kau telat satu menit saja."
Sheila belum juga beranjak pergi.
"Apalagi?"
"Mana uangnya?" tanya Sheila mengulurkan tangannya.
Reyhan mengambil dompet dan mengeluarkan uang pecahan seratus ribuan. Sekalian beli untukmu kalau kau mau."
Sheila mengambil uang tersebut dan dengan cepat pergi membeli bubur ayam pesanan Rey.
Sheila melangkah dengan sangat cepat. Tadi dia harus mengantri dulu. Banyak yang beli bubur ayam disana.
Dilihatnya jam di tangannya, huh.... tiga menit lagi. Aku harus cepat.
Sheila berlari dan tak sengaja menabrak Selina si ratu kampus.
"Heh, kau buta ya!!!" bentak Selina.
"Ma....maaf kak. Saya terburu buru."
sekali lagi maaf. "
Sheila membungkuk meminta maaf.
"Kau... tidak tahu siapa aku??? Berani sekali kau cari masalah denganku." Selina masih geram dengan Sheila.
Sebenarnya dia tidak apa apa. Tapi dia merasa kesal...
"Maaf!!!" ucap Sheila kemudian berlari meninggalkan Selina dan teman temannya.
"Siapa anak baru itu. Dia tidak tahu sudah cari masalah dengan ku. Tunggu saja , aku kan membalasnya." geram Selina.
"Untung aku bisa lari dari sana. Huh... sial benar sih aku. Mana orangnya galak lagi. Apa semua orang disini sombong dan galak?" bathinnya sambil terus berlari.
Sheila menabrak pintu dan masuk ke dalam. Nafasnya masih ngos ngosan. Dia meletakkan bubur Rey diatas meja.
Rey heran melihat sikapnya.
"Hei, Cupu. Kau kenapa?" tanya Rey heran.
Sheila masih mengatur nafasnya. Dia tidak menjawab pertanyaan Rey.
"Kau seperti habis dikejar anjing saja." Ucap Rey.
Sheila masih belum menjawab.
"Kau..kalau di tanya jawab?" Bentak Rey.
"Aku ti...tidak apa pa. Aku hanya lelah berlari dari gerbang kesini." jawab sheila terbata bata.
"Kenapa kau berlari? Atau jangan jangan kau.....?"
Belom selesai Rey bicara, Sheila sudah memotong ucapannya.
"Bukan kah aku tidak boleh telat walau sedetik pun. Makanya aku berlari. Mana tadi ada Mak lampir lagi dijalan." ucap Sheila cepat.
Ups.....dia keceplosan.
"Mak lampir???? ulang Rey heran. Dia memandang Sheila meminta penjelasan.
"Bu..bukan. Aku salah bicara tadi. Aku tidak bertemu siapa pun." Sheila meralat ucapannya cepat.
"Baiklah, makanlah bubur ayam milikmu. Karena setelah ini ada pekerjaan berat buatmu."
Rey mengambil bubur miliknya dan mulai memakannya.
Sheila menarik nafas berat. "Apa lagi yang dia rencanakan. Dia pasti mau mengerjai aku lagi." Bathin Sheila.
Sheila makan dengan cepat.
"Aku sudah selesai. Katakan apa tugasku hari ini."
"Kau begitu bersemangat. Baiklah." Rey tersenyum licik.
"Tugasmu adalah menyalin dan menyusun semua laporan ospek dari tiap kelompok dan menyusunnya menjadi satu file. Laporan ospek tahun ini." Jangan lupa buat dalam rangkap Tiga." tunjuk Rey.
"Sebanyak ini?" tanya Sheila kaget.
"Yups. Kau benar. Selamat bekerja." ucap Rey dan tersenyum mengejek.
Rey berjalan keluar dari ruangannya. Belum sampai di pintu dia kembali berbicara.
" Ingat, aku mengawasimu. Jangan meninggalkan tempat ini jika pekerjaan mu belum selesai."
Setelah mengatakan itu Rey melenggang keluar ruangan.
Sheila mengumpat dan memaki Rey. Dia tahu Rey sengaja mengerjainya. ini bukan tugasnya. Ada sekretaris panitia yang harusnya mengerjakan ini semua.
Sheila mulai mengerjakan tugasnya. Dia tampak sangat sibuk. Dia hatus mengejar waktu. karena dia juga masih harus bekerja di Kafe.
Dukung penulis dengan berikan like and vote. Thanks y