Sheila & Rey

Sheila & Rey
Kecelakaan



Rey yang sedang kalut melajukan mobilnya sangat kencang. Melebihi batas maksimum kecepatannya.


Suasana hatinya yang panas dan penuh amarah dia lampiaskan dengan kebut kebutan di jalan. Tak sedikit orang yang memaki dirinya.


Hingga pada sebuah tikungan tajam, Rey coba mendahului mobil di depannya, namun naas ada mobil dari arah berlawanan yang juga melaju kencang. posisinya tepat berada di depan mobil Rey dan dalam beberapa detik berikutnya kecelakaan terjadi.


Mobil yang di kendarai Rey menghantam pembatas jalan karena mengelakkan mobil yang berada di depannya. Rey tak sadarkan diri dan mobilnya hancur. Orang yang berada di sekitarnya langsung berkerumun dan coba menyelamatkan Rey, begitu juga dengan mobil.yang hampir menabrak Rey, mobil tersebut sama menabrak pembatas jalan.


Rey sudah tak sadarkan diri di bawa ke rumah sakit. Pihak berwajib segera menghubungi ibunya.


Mama Rey langsung berangkat ke rumah sakit, begitu mendengar Rey mengalami kecelakaan. Rasa panik dan menyesal menghantuinya.


Mama Rey tahu jika Rey pergi dengan keadaan marah karena dirinya. Dia menyesal sangat menyesal akan perbuatannya.


Mama Rey takut jika terjadi sesuatu terhadap anaknya. Kemungkinan terburuk menghantuinya. Ini semau tak akan terjadi jika dia tak bertengkar dengan Rey tadi.


Ini semua karena perempuan kampung itu, Rey berani melawanku. Dan kini Rey mengalami kecelakaan juga karena perempuan pembawa sial itu. bathinnya.


Mama Rey Sampai kerumah sakit, dengan langkah cepat dan di penuhi kecemasan, mama Rey berjalan menuju ruang UGD. Tedy , orang kepercayaan nya telah tiba disana lebih dulu.


"Nyonya, tuan Rey masih ditangani di dalam." ucap tedy kepada mama Rey.


"Bagaimana kondisinya?" tanya mama Rey dengan suara bergetar.


"Kondisi nya lumayan parah dan dokter sedang melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya." ucapnya lagi.


"Bagaimana penyelidikan mu?" tanya nya pada Tedy.


"Semua murni kecelakaan nyonya, tuan Tomi ngebut dan menabrak pembatas jalan." ucapnya.


"Apa kau yakin? bagaimana kondisi mobil yang hampir menabraknya?" tanya mama Rey lagi.


"Sama rusak parah nyonya. Mobil itu di kemudian oleh sepasang lansia. Sebenarnya mereka tidak ngebut, karena tuan Rey yang tak dapat mendahului mobil di depannya, dan hampir menabrak pasangan lansia tersebut. Sayangnya kedua pengendara mobil itupun meninggal di tempat kejadian, nyonya." jelas Tedy.


"Ada keluarganya disini?" teriak seorang perawat yang baru keluar dari ruang operasi.


"Saya ibunya," jawab mama Rey cepat.


"Silahkan masuk Bu." ucap perawat tersebut dan memasangkan baju steril kepada mama Rey.


"Operasinya berjalan lancar, Saat ini ibu bisa melihatnya di sana." tunjuk Dokter pada ruang ICU.


Tampak jelas tubuh Rey terbaring lemah, dengan berbagai peralatan yang di pasangkan di tubuhnya. Kepalanya di perban, tangan dan kakinya juga di perban.


Miris dan sangat sedih, hati ibu mana yang tak akan sedih melihat anaknya terbaring lemah, sendirian menentang maut.


"Satu hal yang ingin saya sampaikan. Saya harap ibu sabar menerimanya. Operasinya berjalan baik dan lancar, hanya patah di kakinya yang teramat parah, sepertinya dia akan mengalami lumpuh permanen. Rey tidak akan bisa berjalan lagi." ucap dokter.


Bagai disambar petir mama Rey mendengar semua ucapan dokter. Dia terduduk lemah di kursinya. Hancur sudah semua harapannya. Mimpi mimpi nya tentang masa depan Rey, hancur, musnah dalam sekejap mata.


Cairan bening tak mampu lagi terbendung di pelupuk matanya. Mengalir deras dan menyisakan isakan yang dalam dan menyayat.


"Apa tidak ada cara lain dokter, untuk membuatnya berjalan kembali." ucap mama Rey di sela tangisnya.


"Untuk sementara hanya ini yang dapat saya lakukan Bu. Nanti setelah Rey sehat, ibu bisa membawanya keluar negeri untuk melakukan terapi. Saya akan merekomendasikannya kepada dokter spesialis ortopedi terbaik disana." jawab dokter Manaf.


"Terima kasih dokter." ucap mama Rey.


" Tugas ibu, adalah bagaimana cara memberitahukannya kepada Rey, saya yakin ini akan menjadi hal yang paling mengagetkan baginya. Tolong berikan dia dukungan dan pengertian, Bu." ucap dokter Manaf.


Mama Rey terkejut. Sungguh dia belum berpikir sampai kesana. Dia masih di hantui ketakutan dan kengerian akan kondisi anaknya.


Mama Rey belum berpikir bagaimana kondisi Rey saat dia tahu dirinya tidak akan bisa berjalan lagi untuk selamanya.


"Saya...belum berpikir sampai kesan dokter." jawabnya pelan.


"Apa Rey mampu menerima kenyataan ini, ya tuhan cobaan apalagi ini. Tolong bantu aku tuhan." ucapnya dalam hati.


Mama Rey keluar dan menunggu disana. Rey masih tertidur pulas didalm tuang ICU, terlihat tenang.


Apa yang akan terjadi padanya saat dia tahu kondisi dirinya yang sebenarnya. Aku tahu dia pasti akan merasa sangat hancur. Rey..


anakku maafkan mama, nak.


Like ,vote dan koin seikhlasnya, Terima kasih.