
Icha pulang ke rumah dengan perasaan senang sekaligus sedih. Senang karena sebentar lagi dia akan lulus, apalagi magangnya hanya tinggal beberapa hari lagi. Sedih karena dia sudah merasa nyaman berada di perusahaan tersebut.
Icha membolak balik laporan magangnya yang akan dia berikan kepada dosen pembimbingnya besok. Setelah di rasa benar benar sudah pas, Icha meletakkan nya diatas meja dan berjalan kearah tempat tidurnya.
Membaringkan tubuhnya yang lelah. Tak lama kemudian dia pun tertidur pulas.
Berbeda dengan Rey. Malam ini justru dia tak dapat tidur. Dia terbayang bayang wajah cantik Icha yang dilihatnya siang tadi.
Kerinduan yang dia rasakan semakin dalam dan Rey sangat tidak sabar ingin segera menemui Icha nya.
"Halo, " ucap Rey menelpon Seseorang.
"Bagaimana?"
"Tuan, nona Sheila pulang ke rumah yang berada di jalan x, pemiliknya adalah seorang pengusaha dan pemilik beberapa butik terkenal di daerah ini." ucapnya melaporkan.
"Terus awasi, dan cari tahu apa hubungan mereka." ucap Rey mematikan ponselnya.
"Icha tunggu sebentar lagi aku akan datang menjemputmu, itu janjiku." ucap Rey pelan.
Rey berusaha merebahkan dirinya dan mencoba tidur, namun bayangan kejadian di kantor tadi membuat mata nya enggan tertutup.
pagi menjelang, Icha bangun cepat seperti biasa. Melaksanakan kewajibannya dan juga rutinitas paginya.
Icha keluar dengan berpakaian rapi dan sudah bersiap ke kantor.
Hari ini rencananya Icha akan berpamitan dan keluar. Karena tugas magangnya sudah selesai.
"Pagi, pak." sapa Icha kepada pak Devan yang kebetulan satu lift dengannya.
"Ca, kamu kenal dengan boss kita?" tanya Devan
"Boss yang mana pak?" tanya Icha bingung.
"Pak Reyhan." jawab Devan.
"Oh itu, saya nggak kenal pak. Saya juga baru lihat orang nya kemarin. Emang kenapa pak?" tanya Icha penasaran.
"Tidak apa apa. Semalam pak boss menanyakan mu, dan aku pikir dia mengenal mu. Ya sudah bapak duluan ya." ucap Devan begitu pintu lift terbuka.
Icha juga berjalan keluar lift menuju ruangannya.
"Cha, loe tau nggak, pak Reyhan itu ganteeeeng banget, tadi gue lihat beliau dari dekat lho. loe pegang dada gue, masih ser seran dari tadi." celoteh Nindy
" Mana ak tahu Nindy, aku kan baru sampai. Oh ya, gimana laporan mu sudah. selesai." tanya Icha mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, hari ini aku akan minta tanda tangan pak boss. Kamu gimana?" tanya nindy balik.
"Aku... aku juga dah selesai. Tapi aku belum minta tanda tangan untuk sertifikat ku. kamu duluan saja." ucap Icha
"Ok, aku ke ruangan Boss dulu ya, Siapa tahu boss naksir ma aku, bye. "
Icha tertawa kecil melihat tingkah Nindy. Sahabatnya itu memang selalu bertingkah lucu.
"Pagi pak," sapa Nindy pada Rey.
"Ada apa?" tanya Rey ketus.
"Saya mau minta tanda tangan untuk laporan magang saya, ini pak." ucap Nindy menyodorkan laporan nya kepada Rey.
"Letakkan disitu, kapan masa magang mu berakhir?" tanya Rey
"Besok pak." jawab Nindy.
"Lalu Icha?" tanya nya lagi.
Nindi tak percaya mendengar ucapan Rey. Bagaimana boss besar seperti Rey mengenal Icha.
"Aku akan menandatangani nya, tapi aku mau kau suruh Icha menemui ku sekarang juga." ucap Rey.
"Baik pak." jawab Nindy lemas.
Nindy masuk ke ruangannya dengan wajah lesu. Icha menoleh kearahnya dan tak sabar menanyakan perubahan wajahnya. Tadi saat berangkat , wajahnya berseri seri berbanding 180 derajat dengan sekarang.
"Nindy, kamu kenapa ?" tanya Icha mengguncang bahunya.
Bukan menjawab pertanyaan Icha, Nindy malah memandang sedih padanya.
"Cha. loe di panggil pak boss." ucapnya.
"Aku?" tanya Icha heran.
"Iya, pak boss menyuruh aku memanggilmu. Dan bawa juga laporan magang mu. Ternyata pak boss kejam Cha, habislah kita." ucapnya.
"Apa maksud mu?" ucap icha yang semakin penasaran.
"Cepat temui pak boss sebelum semua mendapatkan amukannya." ucap Nindy lagi
"Ok!"
Icha berjalan menuju ruangan Rey. Dia berdiri lama di depan pintu. Bimbang antara masuk atau tidak.
Rey bisa melihat icha karena dia memasang CCTV di depan pintu ruangannya.
Menunggu lama tak juga Icha mengetuk pintu. Rey memanggil dari dalam.
"Masuk!" ucap Rey keras.
Icha terperanjat kaget dan tangannya sudah memegang handle pintu. Bersiap untuk membukanya.
Cklek...
Icha melangkah masuk ke dalam ruangan Rey.
"Pagi pak, anda memanggil saya." tanya Icha sopan dan menundukkan pandangannya.
Rey menatap penampilan Icha, kemeja krem dan rok pensil berwarna abu yang sangat pas ditubuhnya. Rambutnya di kuncir tinggi dan rapi ke belakang. Make up flowless dan lipstik pink, Membuat Icha semakin terlihat cantik.
"Sheila Anjani, apa kabar mu!" ucap Rey.
Icha diam dan berdiri di depannya. Sementara Rey memutar kursi rodanya kearah Icha.
Seperti bom yang tiba tiba meledak, Icha terkejut, darahnya mendesir hebat, tubuhnya lemas.
Rey bisa mengenalinya, walau dia sudah memprediksi kan ini sebelumnya, namun dia tidak kuat saat semua itu terjadi.
Icha sedikit terhuyung ke belakang, dan dengan sigap Rey menangkap dan memeluknya.
Mata keduanya saling bertemu dan saling mengunci dalam waktu lama. Hingga Icha yang sadar menundukkan kepalanya dan coba bangkit dari pelukan Rey.
Namun sedikitpun Rey tidak mau melepaskannya, Rey tak bergeming.
"Pak, tolong lepaskan aku!" ucap Icha.
Rey tak menjawab, namun dia tetap memeluk Icha.
"Lepaskan aku pak, atau kau akan berteriak." ancam Icha.
Rey tersenyum tipis mendengar ucapannya.
"Jika kau berteriak, dan orang orang datang kesini, apa orang akan percaya jika aku yang menggoda mu. Mereka akan mengira jika kau lah yang coba merayu aku yang cacat ini. Bagaimana bisa mereka menyalahkan aku karena kaulah yang duduk di pangkuan ku" ucap Rey tersenyum mengejek.
Icha berontak dan mencoba melepaskan dekapan Rey, namun sia sia. Tenaga Rey sangat kuat memeluknya.
"Apa kau sudah melupakan ku sayang!" ucap Rey di telinga Icha. Panas nafasnya terasa hangat menyentuh kulit pipi dan telinganya. Membawa sensasi aneh dalam diri Icha.
"Lihatlah, bahkan tubuh mu sudah merespon diriku, karena dia sudah mengenalku, bagaimana kau berpura pura lupa. Aku merindukan mu sayang.." kembali Rey berbisik, kali ini nafasnya terasa panas di pipi Icha.
"Maafkan aku Rey, please...lepaskan aku." ucap Icha menunduk sedih.
Apa yang akan dilakukan Rey selanjutnya???"