
Rey melepaskan Icha dari pelukannya.
"Cha, aku akan melepaskan mu dengan satu syarat." ucap Rey menggantung kalimatnya.
"Apa Rey?"
"Jika kau bahagia, aku akan melepaskan mu." ucap Rey
Icha terdiam mencerna kalimat Rey, "bahagia? apakah aku bahagia?" tanya Icha di dalam hatinya.
Tok...tok....
terdengar suara pintu di ketuk.
"Masuk" ucap Rey
Pak Budi masuk, "Pak waktunya rapat dengan perusahaan X, mereka menunggu kita di restoran Bulan." ucap pak Budi.
"Baik, ayo kita berangkat. Icha bawa berkasnya dan ikut dengan ku." ucap Rey
Mereka bertiga pergi menemui klien di restoran yang disebutkan oleh pak Budi. Rey menjelaskan tentang kerjasama mereka dan Icha bertugas mencatat hal-hal yang dianggap penting.
"Saya tertarik " ucap Rudi urusan dari perusahaan X.
"Terima kasih. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." ucap Rey menjabat tangan Rudi.
"Silahkan di tanda tangani pak." ucap Icha menyodorkan kontrak kerjasama mereka.
Setelah menandatangani kontrak kerja sama mereka makan siang bersama.
"Sekretaris anda sangat cantik pak Rey," puji Rudy.
Sebenarnya sejak awal tadi Rudy sudah berulang kali melirik kearah Icha dan curi pandang. Namun baru kali ini dia berani mengungkapkan isi hatinya.
"Anda benar pak." jawab Rey tertawa kecil.
"Nona Icha, boleh saya meminta no ponsel anda?" tanya Rudi sopan.
"Untuk apa pak Rudi? apa anda tertarik dengan nya?" tanya Rey masih mengunyah makanannya.
Icha sampai tersedak mendengar ucapan Rey yang begitu gamblang. Apa dia pikir aku barang dia menawarkan ku dengan mudahnya. bathin Icha marah.
"Jika masih single, jujur saya tertarik pak," jawab Rudi jujur.
"Tapi sayang sekali, anda terlambat pak Rudi. Karena Icha adalah tunangan saya dan dua bulan lagi kami akan menikah." jawab Rey santai
"Anda bercanda pak Rey!"
"Tidak, saya serius pak. Maaf membuat anda patah hati."
"Maafkan aku. Jujur anda sangat beruntung. Sekali lagi maaf." ucap Rudi lagi.
"Tidak apa apa pak." jawab Rey santai tanpa melirik kearah Icha.
Selesai makan siang bersama, Rey kembali ke perusahaan nya begitu juga dengan Rudi.
"Baik pak Rey." jawab pak Budi
Sampai di pelataran parkir apartemen, pak Rudi menurunkan Rey, Icha masih duduk santai di dalam.
"Kau, dorong kursi rodaku. Dan antarkan aku kedalam." ucap Rey ketus.
Icha terpaksa turun dan mendorong Rey memasuki kamar apartemen nya.
"Pak, tugas saya sudah selesai. Bolehkan saya pulang?" tanya Icha
"Pulang? kau adalah asisten pribadiku, tugasmu berada di dekatku dan melayaniku." tegas Rey
"Sekarang siapkan air mandi untuk ku!"
Dengan kesal dan marah Icha berjalan ke kamar mandi menyiapkan air hangat di dalam bath up untuk Rey mandi.
"Sudah pak."
"Ambilkan baju ganti ku, dan buatkan aku makanan. Aku merindukan nasi goreng buatan mu." ucap Rey sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Icha menyiapkan pakaian ganti Rey dan segera turun ke bawah. Membuka kulkas dan memasak nasi. Dia kemudian menyiapkan bumbu untuk membuat nasi goreng. Setelah semua siap dia mulai memasak nasi goreng nya.
Setengah jam kemudian, nasi goreng yang diinginkan oleh Rey telah siap dan di letakkan diatas meja.
Icha kembali ke kamar Rey dan akan memanggilnya untuk makan. Namun Rey tidak ada disana, Icha menutup pintu dan mencari Rey diruangan lainnya. Tetap tidak ada, dia kembali ke dapur dan ternyata Rey ada disana. Duduk di meja makan.
"Kau, sini!" ucapnya kearah Icha.
"Suapi aku!"
"Suap? kau bukan anak kecil Rey?" protes Icha
"Kalau kau tidak mau menyuapi aku, aku yang akan menyuapi mu, gimana? kau mau!"
Rey menaik turunkan alisnya melihat kearah Icha dengan senyum licik.
Icha mendesah pasrah.
"Baiklah baiklah aku yang akan menyuapi mu! Dasar kekanakan dan menyebalkan, makan saja minta disuapin. Makin lama makin melunjak ini anak. bathin Icha.
"Buka mulutnya?" ucap Icha
"Yang ikhlas donk sayang." ucap Rey
"Cepat buka mulut nya, jika tidak mau ya sudah aku mau pulang."
ucap Icha yang kembali merasa kesal.
Icha berdiri bersiap untuk jalan pulang.
Rey menghentikan langkahnya, dengan menarik pergelangan tangannya hingga dia terduduk di pangkuan Rey. Dan Rey memeluknya dari belakang, melingkarkan tangannya di perut Icha.
"Cha, aku merindukan mu, aku merindukan saat saat kita bersama seperti dulu, apa kau tahu betapa tersiksanya aku selama ini tanpa mu. Aku hampir gila Cha. aku mohon biarkan seperti ini sebentar saja." ucap Rey lirih.