Sheila & Rey

Sheila & Rey
Maaf



Rey mengontrak rumah tak jauh dari tempat tinggal Icha. Dia memilih rumah yang kecil dan sederhana, lagipula begitu Icha selesai sidang dia ingin membawa Icha kembali ke Jakarta.


Icha sudah berangkat ke kampus, dan Rey dia memilih menemui bibi Mery.


"Bu, ada tamu yang ingin bertemu." ucap salah satu pegawai Bik Mery.


"Siapa? suruh masuk."


Rey masuk ke dalam ruangan bu Mery.


"Oh kamu Rey, silahkan duduk. Ada apa nih, kok.tiba tiba nyariin bibi kesini." ucap Bu Mery


"Saya kesini mau minta ijin, dan sebelumnya saya ucapkan terimakasih karena sudah mau menerima dan menjaga Icha. sebenarnya saya ingin melamar Icha dan ingin menikah dengannya." ucap Rey


Rey berhenti sejenak dan menciptakan kebisuan diantara mereka berdua.


"Saya ingin membawa Icha kembali kerumah orangtuanya dan menikahinya disana.


Saya ..


saya tahu selama ini bibi lah yang telah merawat Icha, menampungnya dan memberikannya kehidupan yang layak.


Tanpa bibi, aku nggak tahu gimana Icha dan kemana dia sekarang. Aku ucapkan banyak terima kasih. " ucap Rey.


Bu Mery menangis mendengar ucapan tulus Rey, akhirnya Icha mendapatkan kebahagiaannya, aku senang akhirnya Icha kembali bersatu dengan orang yang dia cintai tapi aku juga sedih, Jimmy harus melepaskan nya. melepaskan gadis yang selama ini diam-diam dia cintai. bathin Bik Mery.


"Bibi melakukan apa yang seharusnya di lakukan. Bibi tidak menganggap Icha sebagai orang lain, bibi sudah menganggapnya seperti anak kandung bibi sendiri.


Satu yang bibi minta Rey, jaga dia dan jangan sakiti dia lagi. Bibi mohon, karena dia begitu menderita."


"Baik Bi, Rey janji kali ini Rey tak akan membiarkan mama menyakitinya lagi."


"Terima kasih Rey." ucap Bik Mery.


"Maaf Bu, ada tamu. Dia memaksa untuk bertemu dengan ibu." ucap pegawai Mery yang tiba tiba masuk ke dalam ruangan.


"Siapa?"


"Nggak tahu Bu, tapi dia maksa."


"Rey, pamit ya Bik. Nanti Rey balik lagi dengan Icha."


"Rey, kamu tinggal dimana? sebaiknya kamu tinggal saja di rumah bibik, sambil menunggu Icha."


"Rey, sudah mengontrak tak jauh dari sini bi, Rey nggak mau tambah ngerepotin bibik."


"Siang nyonya."


"Pak Budi!" ucap Rey kaget


"Tuan Rey?" pak Budi juga tak kalah kaget


"Ada apa pak Budi datang menemui Bik Mery?" tanya Rey dengan nada tinggi dan sorot mata tajam, siap membunuh.


"Begini tuan, nyonya ingin membeli butik nyonya Mery." ucap pak Budi takut.


Rey mendesah kecewa. Lagi lagi mama menghalalkan segala cara untuk mencapai semua keinginannya. Apalagi ini dia ingin menindas ku dan Icha dengan cara menekan Bik Mery.


"Maaf tuan, bukankah sudah saya bilang, saya Tidak berniat menjual butik saya. Butik ini peninggalan suami saya, Mengapa anda tidak paham juga." ucap buk Mery kesal


"Tapi nyonya, kami bawa penawaran sepuluh kali lipat dari harga pasaran. anda pastikan akan senang." jawab pak Budi.


Rey yang sudah begitu emosi membentak pak Budi.


"Keluar sekarang juga dan bilang kepada nyonya Sinta yang terhormat, simpan uangnya tak semua hal bisa dia beli dan dia ukur dengan uangnya."


"Ba...baik tuan." ucap pak Budi takut. Dia berjalan keluar ruangan.


"Maafkan ibu saya Bik, Mama selalu begitu, menganggap semuanya bisa diukur dengan uang. Maafkan mama ku bik." ucap Rey sedih


"Rey pamit Bik, Rey mau menemui mama dulu."


"Rey..." cegah Mery


"Jangan cegah Rey Bik, mama sudah keterlaluan." ucap Rey


Rey keluar dari ruangan Merryi dan segera menemui mamanya. "Mama benar benar keterlaluan. Aku benci mama." bathin Rey.