
Rey masuk kedalam dan mendorong Icha ke sofa. Icha memandang tajam kepada Rey. "Kali ini aku harus melawannya. Aku sudah tidak kuat dengan tindakannya yang semena-mena." ucap Icha dalam hati.
"Apa mau mu sebenarnya?" tanya Icha lantang. Rey terkejut melihat perlawanan Icha. Dia tersenyum miring.
"Kau mau tahu apa mauku?" tanya Rey berjalan mendekat ke arah Icha. Dan menjatuhkan dirinya di sofa tepat di sebelah Icha. Tangannya memegang kedua tangan Icha ke atas. Tubuhnya maju mendekat ke arah icha. Dan menghimpitnya ke sofa. Otomatis dia semakin terjepit. Icha semakin ketakutan karena tubuhnya sudah terdesak di pinggiran sofa. Wajah Icha spontan berubah pucat dan panik.
Rey tersenyum, "Kau bertanya apa mauku?" ulang Rey masih terus memandang Icha. Tatapan matanya yang dalam siap menerkam Icha. Membuat Icha semakin tak berkutik.
"A..apa yang akan kau lakukan, jangan macam macam!" ucap Icha terbata bata. dia masih terus berusaha melepaskan tangannya. Rey semaikn mwnhimpitnya. kini posisi mereka sangat dekat. Bahkan Icha bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Rey di wajahnya.
"Kenapa kau diam?" tanya Rey masih dengan senyum mengejek. "Mana keberanianmu tadi! Kau tanya aku mau..."
"Maaf!" ucap Icha memotong perkataan Rey. "Maaf kan aku, aku janji akan mematuhi semua perintahnu, tapi tolong lepaskan aku!" ucap Icha dengan wajah memelas.
"Apa kau yakin, kau akan mematuhi semua perintahku.?" tanya Rey lagi. Icha mengangguk, "Iya aku yakin." jawab Icha cepat.
"Cium aku!" ucap Rey memajukan wajahnya. Icha terkejut dengan ucapan Rey. Bukan seperti ini yang dia maksudkan. Rey masih diam menunggu, tapi Icha tak juga bergerak.
"Bukan kah kau yang bilang akan menuruti semua keinginanku, tapi mana buktinya. Aku cuma minta cium saja kau..."
Cup... Icha mencium pipi Rey dengan sangat cepat. Membuat Rey terdiam. Tak lama Rey tersenyum. "Bukan disitu, yang aku maksud kan cium aku disini." Rey menunjukkan bibirnya.
"Kau tadi tidak bilang harus cium dimana. Cepat lepaskan aku. Aku sudah menuruti perintah mu. Kau jangan ingkar janji." ucap Icha.
Icha di tarik Rey hingga duduk di pangkuannya. "Apa lagi...."
Hmmpt... Rey dengan cepat menarik tengkuk Icha dan menciumnya lama. Icha berontak tapi Rey tidak memperdulikan nya, dia terus mencium Icha. Setelah di rasa Icha kehilangan nafasnya Rey baru melepaskan ciumannya.
Icha masih mengatur nafasnya yang tersengal sengal. Begitu juga dengan Rey. Icha melayang tatapan marah dan protes. Icha ingin memukul Rey, tapi Rey gerak cepat menangkap kembali tanagn Icha dan dia kembali mencium Icha. Tapi kali ini dia mencium dengan lembut. Sangat lembut hingga membuat Icha terbuai dan menikmati ciumannya. Walau Icha tidak membalasnya.
Setelah Rey melepaskan ciumannya. Rey tersenyum lebar. "Ini milikku dan hanya milikku." ucap Rey sambil mengelap bibir Icha dengan ibu jarinya.
"Jangan pernah coba coba lari dariku. Karena aku pasti akan menemukanmu." ucap Rey lagi.
"Kau selalu saja sesuka hatimu, kau pikir aku apa, kau perlakukan seperti ini. Aku bukan seperti wanita yang selalu di dekatmu Rey. Jangan samakan aku dengan mereka."
" Aku mencintaimu, Cha!" ucap Rey tulus. Icha memandang kedua mata Rey, mencari kebohongann disana tapi dia tidak menemukannya. Hanya tatapan asa dan cinta yang dia lihat.
Icha tertunduk tak tahu harus menjawab apa. Dia masih bingung dengan perasaannya sendiri."Beri aku waktu untuk berpikir!" ucap nya setelah lama terdiam.
"Aku beri waktu satu Minggu, selama itu aku akan menjaga jarak darimu. Jika dalam waktu satu Minggu itu, kau menemukan jawabannya. Temui aku, Aku akan menerima apapun keputusanmu."
"