Sheila & Rey

Sheila & Rey
Menikah??



Rey akhirnya tertidur menunggu Icha menyelesaikan tugasnya.


"Rey, bangun. Ayo kita pulang." ucap Icha


"Pulang? kemana? aku tak memiliki rumah lagi cha." jelas Rey.


"Kita akan ke rumah bik Sumi, dia bibinya Jimmy. Besok kita baru mencari kontrakan untukmu." sahut Icha.


"Terserah padamu, aku ikut denganmu saja." jawab Rey.


Rey dan Icha keluar butik, Icha mengajak Rey makan sebelum pulang kerumahnya.


"Rey, ayo di makan. Bukankah tadi kamu sudah melewatkan makan siang, aku nggak mau kamu sakit Rey." bujuk Icha.


Icha tahu sebenarnya Rey kehilangan selera makannya karena peristiwa tadi.


Rey makan walau sebenarnya dia tidak berselera. Rey masih saja teringat dengan mamanya yang lebih mementingkan hartanya daripada kebahagiaan anaknya. Bahkan hanya Rey anak satu satunya yang dia miliki.


"Rey" panggil Icha mengusap lembut tangan Rey. Membuyarkan lamunan nya.


Rey menyuapkan makanan ke mulutnya, namun semua terasa hambar, Rey benar benar tak berselera. Dan dia tak menghabiskan makanannya.


Setelah selesai makan, mereka berdua naik taksi pulang ke rumah bik Sumi.


Buk Sumi menyambut Rey dengan suka cita, apalagi setelah tahu jika Rey adalah bos keponakan nya.


Icha mendatangi kamar Rey, dia hanya ingin memastikan jika Rey sudah tertidur.


Namun yang dia lihat Rey masih berdiri mematung di balkon dan menatap lurus ke depan. Entah apa yang dia lihat.


Icha berjalan mendekat dan memegang pundaknya.


"Tidurlah Rey" ucap Icha pelan


Kemudian Icha duduk dilantai dan bersandar di pinggiran balkon.


"Kenapa nasibku seperti ini Cha?" tanya Rey dengan suara lirih


Rey mengikuti Icha duduk bersandar di balkon dan menatap langit malam yang kelam.


"Semua orang punya masalah Rey, tapi semua masalah pasti ada jalan keluarnya."


"Mengapa mama tak pernah bisa memahami ku, dia tak pernah mencintai ku, dia hanya mencintai hartanya." ucap Rey lirih.


Rey menyandarkan kepalanya di pundak Icha.


Rey menarik napas dalam, dia ingin mencurahkan semua kesedihannya.


Rey yang terlihat kuat, kejam dan dingin memiliki sisi rapuh di dalam hatinya, dan dia tak menutupinya di hadapan Icha.


"Aku hanya memiliki mu Cha, aku nggak tahu apa yang akan terjadi padaku, jika sampai kau pergi meninggalkan ku, mungkin aku juga akan pergi meninggalkan dunia ini." ucap Rey lagi.


Icha mengusap rambut Rey perlahan dengan penuh kasih sayang. "Aku tidak akan pernah meninggalkan mu lagi, aku janji." ucap Icha yang juga berderai airmata.


Icha bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Rey saat ini. Rey sedang rapuh dan butuh seseorang untuk bersandar. Icha kini sadar mengapa Rey begitu posesif terhadap nya.


lama keduanya menangis.


"Cha"


"Hemmm"


"Kita nikah yuk? Agar mama nggak bisa misahin kita lagi. Kamu nggak perlu takut Cha, aku bisa menghidupimu dari bengkel ku yang di kelola oleh Jimmy."


"Kau melamarku?" tanya Icha menatap Rey. Dia mengangkat sebelah tangannya mengusap lembut wajah pria itu.


"Bisa dibilang begitu?"


"Kau sungguh tidak romantis, Rey.. melamar anak gadis orang dengan cara seperti ini, aku menolak mu Rey "ucap Icha menahan senyumnya.


Padahal didalam hatinya Icha bersorak gembira.


"Maafkan aku Cha, tapi nanti aku akan melamar mu dengan cara yang romantis." ucap Rey mencium tangan Icha


"Besok kita ke rumah orangtua mu, ya?"


"untuk apa?"


Rey memukul kepala Icha pelan


"Auw..... teriak Icha mengaduh


"Tentu saja untuk melamarmu," ucap Rey bersungut


"Tapi aku menolak Rey?" jawab Icha mencebik kesal


"Apa kau lupa, dalam kamus Rey, tidak pernah ada yang namanya penolakan " ucap Rey memeluk Icha kuat.


"Aku tetap menolak, "


"Terserah, aku ajak Bik Sumi dan Jimmy saja " jawab Rey tertawa


Icha juga ikut tertawa.