
“Kakakmu itu sudah sangat mengecewakan Mama, Nelly. Mama merasa dikhianati! Bisa-bisanya dia berperilaku murahan seperti itu. Padahal Mama selama ini tak pernah mengajarinya untuk menjadi pelakor!”
Nelly terkejut sekali mendengar kata-kata mencemooh yang keluar dari mulut ibunya itu. “Cukup, Ma,” tegurnya tegas. “Kak Rosemary itu anak kandung Mama sendiri. Tak seharusnya Mama mencaci-makinya seperti itu. Itu kejam sekali, Ma!”
Emosi Martha semakin memuncak. “Jadi tujuanmu mengajak Mama kemari untuk membujuk Mama agar memaafkan kakakmu itu? Ayo bilang sama Mama, Nelly. Rosemary-kah yang memintamu melakukannya? Dia sudah berdosa besar terhadap keluarga kita, Nak. Perbuatannya sungguh merendahkan martabat Mama, Oliv, dan kamu….”
“Mama…,” ucap Nelly berusaha menahan diri. “Di dunia ini nggak ada orang yang sempurna. Termasuk Kak Rosemary. Dia sudah menceritakan semuanya. Kak Rose mengaku dulu terlalu naif, lemah, dan bodoh. Jangan lupa, Ma. Saat itu Kak Rose baru sembuh secara fisik dan psikis akibat kecelakaan berat yang menimpanya. Wajar saja kalau dia masih rapuh dan membutuhkan perlindungan orang lain. Salahnya orang itu adalah manajernya sendiri yang sudah beristri. Tapi Kak Rose sudah menyesalinya, Ma….”
“Karena laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya,” cetus Martha getir. “Coba seandainya Edward bersedia menikahinya. Kakakmu pasti takkan menyesal! Dari dulu dia memang selalu lebih dekat dengan papa kalian dibandingkan Mama. Makanya sifatnya banyak yang menurun dari Papa. Termasuk dalam hal suka berselingkuh!”
Nelly geleng-geleng kepala menyaksikan kegeraman ibunya pada sang kakak. Dia tak tahu lagi harus berkata apa untuk mencairkan kebencian dan amarah dalam hati Martha terhadap kakaknya itu. Tak disangkanya setitik noda yang pernah dibuat Rosemary di masa lalu telah menghapuskan seluruh kebaikan dan pengorbanan kakaknya itu di mata ibu mereka.
“Kamu jangan mencontoh sikap kakakmu itu, Nelly. Daripada menjadi perebut suami orang, lebih baik kamu menikah saja seperti kakakmu Oliv. Carilah anak orang kaya sehingga hidupmu kelak sejahtera.”
“Kak Oliv menikah dengan orang kaya tapi tidak bebas mengatur keuangan, Ma,” kilah Nelly berkelit.
“Ya, salah kakakmu itu terlalu cepat mengambil keputusan. Ternyata suaminya itu perhitungan sekali dalam hal keuangan. Tapi setidaknya mereka hidup berkecukupan. Kalau kamu pintar dan cermat, pasti bisa memperoleh jodoh yang lebih baik dari suami Oliv.”
Mama sudah kembali materialistis seperti dulu, keluh Nelly dalam hati. Segala sesuatu diukur dengan materi. Aku lebih suka dengan sikap Mama yang dulu waktu kami masih tinggal di rumah kontrakan. Sifat keibuan dan rendah hatinya mampu memberi kehangatan bagi orang-orang di sekitarnya. Tapi sejak pindah ke rumah baru Kak Rose dan bergaul dengan kelompok sosialita di gereja, Mama kembali bersikap borju dan tinggi hati seperti dulu waktu Papa masih hidup. Ah, kekayaan memang bisa membutakan mata hati seseorang….
Selanjutnya gadis itu memutuskan untuk diam menikmati bubur ayamnya saja daripada membujuk ibunya lagi untuk memaafkan Rosemary. Dia tak ingin mendengar kata-kata cemoohan yang lebih menyakitkan lagi tentang kakak sulungnya tersebut.
***
“Maafkan aku ya, Kak,” ucap Nelly malam itu di dalam kamar Rosemary. “Aku belum berhasil membujuk Mama untuk memaafkan Kakak.”
Sang kakak tersenyum bijaksana. “Terima kasih banyak, Nel. Kamu bukannya membenci Kakak, tapi malah mau membantu mendamaikan Mama dengan Kakak. Kamu benar-benar adik yang baik,” ucapnya terharu. Dielus-elusnya rambut panjang adiknya penuh kasih sayang.
Nelly tersenyum getir. “Menurutku kesalahan tidak sepenuhnya berada di pundak Kakak. Kami sekeluarga juga turut berkontribusi. Kakak waktu itu benar-benar membutuhkan dukungan moril untuk mencari nafkah demi kelangsungan hidup kita sekeluarga. Dan orang yang menawarkan hal itu adalah manajer Kakak sendiri. Wajar saja kalau Kakak terjerumus semakin dalam karena merasa dialah satu-satunya orang yang dapat memahami beban yang ditanggung Kakak. Apalagi dia adalah orang yang dipercaya Mama untuk membimbing Kakak….”
“Jangan membujuk Mama lagi, Nel,” saran wanita itu. “Kakak nggak mau kamu dibenci Mama seperti Kakak. Oliv juga sudah Kakak nasihati agar diam saja kalau Mama menjelek-jelekkan Kakak di telepon.”
Nelly terbelalak. Dia tak percaya pada pendengarannya. “Jadi Kak Oliv juga sudah tahu? Siapa yang memberitahunya?” tanyanya cemas. “Mamakah?”
“Siapa lagi,” sahut Rosemary sambil terkekeh. “Kamu tahu sendiri Mama dekat sekali dengan Oliv. Dia merasa sifat-sifat mereka banyak kemiripan. Wajar kalau segala sesuatu yang diketahuinya selalu diceritakan pada Oliv.”
“Terus tanggapan Kak Oliv gimana, Kak?” tanya Nelly penasaran. Gadis itu memang jarang sekali menelepon kakak keduanya. Paling-paling cuma mengirim pesan WA sekadar menanyakan kabar Oliv, suami, dan anak-anak mereka. Kalaupun video call lebih sering dengan keponakan-keponakannya itu.
Karena seperti halnya Rosemary, dirinya juga suka anak kecil. Karakternya memang lebih mirip kakak sulungnya yang mandiri dan realistis. Sedangkan Olivia cenderung seperti ibunya yang suka bermimpi dan perfeksionis.
“Oliv tidak menyalahkanku, Nel,” jawab Rosemary tenang. “Sepertinya kakakmu itu sudah semakin dewasa setelah menjalani rumah tangga sekian lama. Dia bisa menerima kesalahan-kesalahanku di masa lalu sebagaimana dirimu. Bahkan Oliv berjanji akan berusaha pelan-pelan meluluhkan hati Mama agar mau memaafkanku.”
Nelly mendengus kesal. “Menurutku Mama terlalu kejam pada Kak Rose. Padahal Kakak sudah berkorban begitu besar buat keluarga. Sampai-sampai nggak sempat memikirkan diri sendiri. Lihat saja, sudah umur segini Kakak belum juga berumah tangga. Waktu, tenaga, dan pikiran Kakak habis buat menafkahi keluarga kita. Terima kasih banyak ya, Kak.”
Mata gadis itu berkaca-kaca. Dipeluknya kakaknya tercinta dengan penuh kasih sayang. Rosemary tersentuh sekali mendengar kata-kata adiknya itu. Dia merasa pengorbanannya selama ini dihargai. Terima kasih, Tuhan, batinnya penuh rasa syukur. Setidaknya adik-adikku sendiri senantiasa memberikan dukungan padaku. Kalau tentang Mama…ah, kuserahkan sepenuhnya kepadaMu, Bapa. Aku percaya Kau sanggup meluluhkan kekerasan hatinya dengan caraMu sendiri…..
“Kak, bolehkah Nelly meminta sesuatu?” tanya sang adik kemudian. Rosemary menatapnya heran. Adiknya ini sebenarnya yang paling jarang merepotkannya dibandingkan Martha dan Olivia. Kalau sekarang dia ingin minta sesuatu, berarti itu penting sekali buatnya.
Tanpa ragu-ragu wanita itu menganggukkan kepala. Adiknya tersenyum dan berkata, “Aku ingin sekali pergi mengunjungi panti asuhan ABK itu. Kapan Kakak akan mengajakku ke sana? Penasaran rasanya seperti apa tempat yang membuat Kak Rose jatuh hati dan rela meninggalkan pekerjaan yang sudah ditekuni selama sepuluh tahun.”
Rosemary terkekeh. Dia jadi teringat janjinya pada Damian untuk membawanya melihat-lihat panti. Wanita itu mengangguk. “Gimana kalau hari Sabtu pagi aja? Senin sampai Jumat kamu kan masuk kerja. Nanti juga kuajak Damian dan Chris. Biar ramai. Gimana?”
Nelly mengangguk mengiyakan. Dia sudah lama mengenal Damian sebagai kawan baik kakaknya. Sedangkan Christopher, gadis itu penasaran sekali seperti apa tampang internis yang merupakan mentor Rosemary di panti itu.
Sementara itu hati Rosemary semakin tenteram mendapatkan dukungan dari adiknya ini. Kalau Tuhan sudah berkehendak, tak ada yang tak mungkin, batinnya tenang. Semakin lama semakin banyak orang yang mendukungku menekuni pelayanan di panti asuhan ABK. Semoga ini merupakan pertanda baik bagi langkahku selanjutnya. Amin.
***