Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Mentor Tak Terduga



“Di lantai tiga,” jawab Farida lugas. “Mari kita naik ke atas.”


Kedua perempuan itu lalu menaiki tangga menuju ke lantai tertinggi dari panti asuhan tersebut. Di sana Rosemary diperlihatkan sebuah ruangan besar berisi berbagai peralatan untuk terapi Sensori Integrasi (SI). Terapi ini bertujuan meningkatkan kemampuan motorik kasar seperti berguling, berayun, melompat, berlari, memanjat, merayap, berjalan naik-turun, dan lain sebagainya.


Peralatan yang tersedia antara lain matras, silinder besar yang terbuat dari bantalan, bola besar yang biasa dipakai orang untuk berlatih yoga, trampoline, ayunan, tiang-tiang dan tali-tali untuk memanjat, seluncuran, kolam pasir sintetik, kolam bola, dan lain sebagainya.


“Alat-alat ini seperti yang biasa saya lihat di wahana bermain anak di mal, Bu Farida. Ternyata gunanya untuk terapi juga, ya,” komentar Rosemary.


“Betul,” jawab lawan bicaranya sambil mengangguk. “Sebenarnya wahana bermain yang banyak menguras tenaga itu mengandung maksud untuk melatih kemampuan sensori anak. Sayangnya banyak orang tua yang tidak memahami. Dikiranya itu cuma permainan biasa. Karena tidak mau capek, mereka seringkali membiarkan anaknya bermain sendiri atau ditemani suster. Atau lebih senang kalau anaknya bermain game digital di tempat lain. Padahal justru wahana yang banyak menguras energi itu lebih bermanfaat bagi tumbuh-kembang anak….”


“Oya? Manfaatnya apa saja, Bu?”


“Untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar dan keseimbangan tubuh anak. Juga mengembangkan saraf-saraf yang berhubungan dengan kemampuan konsentrasi, berpikir, dan wicara anak.”


“Wow! Saya nggak nyangka ternyata sebanyak itu faedahnya. Ccck, ccck, ccck….”


“Anak-anak di sini dijadwalkan untuk terapi Sensori Integrasi seminggu tiga kali, Rose. Durasi terapinya satu jam. Jadwalnya setiap hari Senin sampai Jumat, mulai jam dua siang hingga lima sore. Sedangkan kalau Sabtu mulai jam sembilan pagi hingga dua siang. Yang menjadi terapis adalah guru-guru yang tadi mengajar sekolah di lantai bawah. Setiap guru menangani satu ABK. Khusus untuk murid laki-laki yang sudah remaja akan ditangani dua terapis laki-laki dewasa dari luar panti yang sudah saya ceritakan tadi.”


Setelah puas melihat-lihat ruang terapi SI, Rosemary diajak untuk meninjau dapur. Wanita itu takjub melihat ruangan dapur yang luasnya hampir sama dengan ruang terapi SI. Peralatan masak-memasaknya lengkap sekali.


Ada dua buah kompor lengkap dengan penghisap asap di atasnya, sebuah oven besar, dua buah microwave, meja dapur yang lebar untuk menata makanan, dan dua buah rak piring besar yang penuh berisi perlengkapan makan dan memasak.


“Di sini ABK juga diajari memasak,” kata Farida menjelaskan. “Mulai dari yang sederhana seperti merebus telur, membuat puding, memasak nasi goreng, menumis sayur, hingga yang kompleks seperti membuat soto, rawon, gule, dan lain-lain. Tapi tidak semua ABK diberikan materi yang sama. Kami tetap memperhatikan kemampuan, talenta, dan minat mereka masing-masing. Kalau yang tidak suka memasak, maka tidak akan diajari memasak yang ribet-ribet. Tapi setidaknya bisa membuat makanan yang sederhana seperti menggoreng telur, merebus mie instan, dan sejenisnya demi kemandirian dirinya sendiri.”


Rosemary manggut-manggut mengerti. Dia semakin mengagumi adik kandung Dokter Mirna ini. Betapa dirinya memikirkan segala sesuatunya dengan detil demi kemajuan anak-anak berkebutuhan khusus yang berada dalam asuhannya.


Ketika mereka keluar dari dapur, Rosemary melihat dua buah pintu yang berdampingan. Farida yang menyadari arah pandang tamunya langsung menerangkan, “Itu kamar-kamar untuk asisten-asisten rumah tangga di panti ini. Perempuan semua. Tiap kamar tidur dihuni dua orang asisten.”


Kriiinnnggg…. Suara bel berdering mengagetkan Rosemary. Sang pemilik panti tergelak melihat reaksi spontan tamunya.


“Itu bel tanda istirahat sekolah. Nggak terasa sudah jam sepuluh rupanya. Apa ada yang hendak ditanyakan mengenai lantai tiga ini, Rose? Ya cuma ada ruang terapi SI, dapur, dan kamar-kamar asisten panti saja, sih,” ujar Farida sabar.


“Saya rasa sudah cukup, Bu. Barangkali bisa tolong dijelaskan apa saja yang bisa saya bantu di sini dan apakah ada jadwalnya?” tanya Rosemary ingin tahu. Sudah tak sabar rasanya dia memulai kegiatan barunya di tempat itu.


Farida terkekeh. “Soal itu, jangan kuatir. Sudah ada seorang mentor yang bersedia mendampingimu secara sukarela untuk membantu di tempat ini. Dia berjanji akan datang hari ini tepat waktu istirahat sekolah. Mestinya dia sudah datang di bawah. Kita sekarang turun, yuk.”


Wanita di hadapannya menjawab, “Dia sama denganmu, Rose. Pasien kakakku yang dulu juga mengalami depresi lalu memutuskan untuk mencoba suasana baru di panti ini.”


“Oya? Pasien Dokter Mirna?” tanya Rosemary keheranan.


“Mantan pasien sih, tepatnya. Karena depresinya sudah sembuh total,” jawab Farida terus terang. “Ayo kita turun sekarang. Kamu akan segera melihatnya.”


Sang tamu mengangguk setuju. Separuh hatinya senang akan mempunyai teman baru yang sama-sama pasien Dokter Mirna. Separuh lagi penasaran siapakah orang itu. Polemik apa yang dihadapinya sehingga mengalami depresi.


Dan pertanyaan-pertanyaan itu terjawab ketika dirinya sudah sampai di lantai satu. Dilihatnya seorang pria berusia akhir tiga puluhan berkulit putih, beralis tebal, bermata bulat, dan berhidung mancung duduk tenang di ruang tamu. Orang itu sontak berdiri dan tersenyum melihat Farida yang muncul bersama Rosemary.


“Kamu selalu tepat waktu, Chris,” sapa Farida sambil tersenyum lebar.


Dia tampak akrab sekali dengan pria tampan itu. “Ini aku baru selesai mengantar Rosemary melihat-lihat ruangan-ruangan di sini. Sekarang giliranmu menjelaskan apa saja yang bisa dilakukannya di sini sekaligus mendampinginya mengerjakannya. Sampai jam berapa kamu bisa menemaninya, Chris?”


“Sampai jam empat sore nggak apa-apa,” jawab laki-laki itu santai. “Habis itu aku pulang terus bersiap-siap untuk praktik di rumah sakit.”


Rosemary melongo. Dia tadi sempat merasa pernah bertemu laki-laki yang mengenakan kaos polo berwarna putih dan celana panjang jeans itu. Tapi entah di mana. Sekarang wanita itu menyadari siapa tamu yang baru datang ini sebenarnya. Dia adalah….


“Dokter Christopher Wibisana!” cetusnya seketika. “Benar, kan?”


Pria di hadapannya tersenyum lebar. Sederetan gigi putih bersihnya terlihat begitu cemerlang. “Halo, Nona Rosemary Laurens. Anda ternyata masih mengenali saya,” sahutnya ramah.


Farida merasa inilah saatnya dirinya mengundurkan diri. “Nah, kalian sudah saling mengenal, kan? Kalau begitu kutinggal dulu, ya. Supaya kalian lebih nyaman ngobrol berdua,” celetuknya sambil tersenyum lebar.


“Siap, Bu Farida,” jawab Christopher lugas.


Pemilik panti itu lalu berpamitan pada Rosemary. Kini tinggal si dokter internis dan mantan pasiennya berdiri di ruang tamu.


“Duduk, yuk,” ajak pria itu. “Banyak hal yang mesti kita bicarakan. Kamu kaget sekali melihatku tiba-tiba muncul di sini, ya?”


Mendengar dokter ini berbicara padanya layaknya seorang kawan membuat Rosemary merasa nyaman. Dia mengikuti Christopher duduk di atas sofa.