Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Kerongkongan Terbakar Lagi



Beberapa menit kemudian Rosemary sudah berada di ruangan itu kembali. Namun kali ini dia hanya berdua dengan Hanifah, nasabahnya yang tiba-tiba datang ke kantor mencarinya. Perempuan berkulit sawo matang dan berjilbab warna coklat muda itu rupanya hendak menutup polisnya.


“Saya dan suami akan bercerai, Mbak Rosemary,” aku Hanifah terus terang. Matanya tampak berkaca-kaca. “Gugatan cerainya sudah saya ajukan ke pengadilan agama satu minggu yang lalu.”


Agen asuransinya terkejut mendengar berita buruk itu. Ekspresi wajahnya tampak prihatin. Dia berkata dengan hati-hati, “Saya turut prihatin mendengarnya, Bu Hanifah.”


Klien yang duduk di hadapannya itu mengangguk. “Sebenarnya HP saya nggak hilang, Mbak Rose. Tapi rusak dibanting suami saya,” akunya terus terang.


Rosemary terperangah. Dia mendesah sedih. Kabar perpisahan dalam bentuk apapun selalu menggugah rasa empatinya. Apalagi jika sampai diwarnai dengan kekerasan dalam rumah tangga.


“Tapi saya tidak menyalahkan dia,” lanjut Hanifah kemudian. “Sayalah yang lebih dulu membanting HP-nya sampai rusak..”


Agen asuransi kaget sekali. “Kenapa Ibu melakukannya?” tanyanya penasaran.


“Saya menemukan foto-foto mesra suami saya dengan perempuan lain di HP-nya. Hal itu membuat saya naik darah.”


“Ya, Tuhan!”


“Kami bertengkar hebat. Dia berkata takkan meninggalkan istri sirinya itu. Bahkan dia sudah menikahi perempuan itu tanpa persertujuan saya sebagai istri sahnya!”


Wanita itu tak sanggup menahan isak-tangisnya lagi. Diluapkannya segenap beban dalam hatinya pada agennya.  Rosemary mendengarkan dengan seksama. Dia tak berkomentar maupun bersikap menghakimi. Hanya duduk diam dan memperhatikan dengan cermat setiap kata yang keluar dari mulut Hanifah.


“Saya langsung keluar dari rumah, Mbak Rose. Anak-anak saya bawa. Sialnya saya lupa membawa buku polis asuransi. Mau balik lagi ke rumah itu, malas sekali rasanya. Bisakah tanpa buku itu saya menutup polis dan mencairkan semua dana pensiunnya?”


Sang agen mengangguk. Selanjutnya dia berkata, “Akan saya bantu proseskan, Bu Hanifah. Tapi karena buku polisnya tidak ada, maka saya butuh kerja sama Ibu untuk meminta surat keterangan kehilangan dari kantor polisi….”


“Tapi buku polis itu kan tidak hilang, Mbak. Masih ada di rumah suami saya,” kilah sang nasabah.


“Saya paham, Bu Hanifah. Tapi Ibu kan sudah tidak mau pergi ke rumah itu lagi. Jadi saya carikan solusi yang lebih praktis buat Ibu. Begini caranya. Ibu datang ke kantor polisi terdekat dan….”


Rosemary lalu menjelaskan maksudnya dengan terperinci. Hanifah terpana mendengarnya. “Apakah dengan cara begini polis saya bisa ditutup, Mbak?” tanyanya ragu-ragu.


Lawan bicaranya mengangguk. “Seratus persen bisa, Bu. Asalkan Ibu menuruti petunjuk saya tadi. Jangan ada kata-kata Ibu yang salah waktu melapor di kantor polisi, ya. Surat kehilangan itu akan dibuat dan diberikan pada Ibu saat itu juga. Jangan kuatir. Praktik ini selalu berhasil dilakukan oleh nasabah saya yang kehilangan buku polisnya.”


“Tentu saja bisa, Bu. Tunggu sebentar, ya.”


Rosemary lalu mengutak-atik Ipad-nya. Dia sedang mengakses data polis nasabahnya itu melalui aplikasi digital. Tiga menit kemudian ditunjukkannya saldo yang tertera pada sistem.


“Dana yang bisa dicairkan sebesar tujuh puluh enam juta, Bu Hanifah.”


“Hah?! Kok cuma segitu, Mbak Rose? Saya kan sudah menabung selama delapan tahun lebih. Seharusnya nominal yang saya dapatkan jauh di atas itu!”


Sang agen mengerutkan dahinya. “Sebentar, Bu Hanifah. Saya jelaskan dulu. Pada sistem kami tertera bahwa Ibu telah menabung sebesar satu juga per bulan selama sembilan puluh delapan bulan….”


“Nah, berarti uang saya seharusnya kembali paling sedikit sembilan puluh delapan juta, dong! Kok cuma ada tujuh puluh enam juta? Selisih dua puluh dua jutanya kemana?!” seru Hanifah agak histeris. Dia tampak terpukul uang yang akan diterimanya tidak sebesar perkiraan.


Rosemary mendesah. Benar kata Damian tadi, pikirnya. Aku harus tenang menghadapi orang ini. Dia bukan sekadar tidak enak hati. Tapi emosinya sedang tidak stabil akibat prahara yang menimpa rumah tangganya.


Selanjutnya wanita itu berusaha menjelaskan dengan hati-hati, “Sebagaimana yang dulu telah saya jelaskan pada Ibu, polis asuransi ini selain menyediakan fasilitas dana pensiun, juga manfaat proteksi jiwa sebesar lima ratus juta jika nasabah meninggal dunia sebelum usia 75 tahun. Akibatnya ada potongan biaya asuransi dan administrasi terhadap premi 1 juta yang setiap bulan Ibu bayarkan. Jadi meskipun Ibu sudah menabung total sembilan puluh delapan juta, tapi potongan biaya asuransi dan administrasi itu menyebabkan nominal sembilan puluh delapan berkurang menjadi tujuh puluh enam. Tapi kalau Ibu menutup polis persis setelah sepuluh tahun menabung, uang yang Ibu bayarkan itu akan kembali seratus persen, yaitu seratus dua puluh juta….”


“Tapi saya kan butuh uangnya sekarang, Mbak. Mana bisa menunggu dua tahun lagi!” teriak sang nasabah naik darah. “Saya juga sudah nggak mampu bayar premi lagi. Suami saya sudah nggak ngasih uang. Dia sibuk ngurusin istri mudanya itu. Dasar pelakor nggak tahu malu! Tega sekali  berbahagia di atas penderitaan orang lain!”


Tiba-tiba kerongkongan Rosemary tiba-tiba terasa panas sekali seperti terbakar. Persis sekali dengan waktu dulu bertengkar dengan ibunya. Dengan panik diraihnya gelas air mineral dan sedotan yang berada di atas meja. Ditusukkannya tutup plastik gelas itu dengan sedotan lalu segera diminumnya dengan rakus.


Hanifah sampai melongo melihatnya. Dia lalu berkata dengan perasaan bersalah, “Ma…maaf, Mbak Rosemary. Saya…saya tadi kelepasan ngomong. Bukan maksud saya berkata-kata kasar sama Mbak. Saya…saya ini putus asa sekali, Mbak. Saya nggak nyangka nasib perkawinan saya akan seperti ini. Anak-anak saya masih kecil dan saya cuma perawat biasa di rumah sakit. Saya…saya nggak tahu harus bagaimana nanti kalau sudah berpisah dengan suami. Tapi…tapi…saya nggak sanggup hidup dimadu. Nggak sanggup….”


Tumpah-ruahlah isak-tangis Hanifah. Rosemary tergerak hatinya untuk memeluk nasabahnya itu. Kerongkongannya sudah agak lega setelah menghabiskan segelas air mineral. Dibiarkannya nasabahnya itu mencurahkan seluruh kepedihannya. Sebagai agen yang telah lama menggeluti dunia asuransi, dia sudah terlatih untuk mendengarkan keluh kesah klien dengan penuh kesabaran.


Setelah Hanifah agak tenang, si agen berkata dengan lembut, “Saya mengerti kesulitan yang Ibu hadapi saat ini. Memang tidak mudah. Karena itu saya tergerak untuk turut membantu….”


“Ya sudahlah, Mbak,” ucap nasabahnya itu pasrah. “Saya terima berapapun uang yang bisa dicairkan dari penutupan polis saya. Mohon maaf karena tadi saya sempat emosional….”


Rosemary berkata dengan tenang,“Kalau begitu saya tunggu surat kehilangan buku polis dari kepolisian sesuai yang saya terangkan tadi ya, Bu. Apabila Ibu berhalangan mengantarkannya sendiri, nggak apa-apa dikirimkan lewat pos saja ke sini. Tolong ditujukan kepada saya sekaligus Mbak Indri, sekretaris saya. Dan setelah itu….”