
Pemuda di hadapannya tertawa keras. “Rosemary, Rosemary,” katanya geli. “Tahu nggak, aku setelah tiga bulan lulus ujian keagenan baru closing. Itupun cuma satu polis dengan premi lima ratus ribu! Tenang aja, Non. Sekarang waktunya kamu menabur yang banyak. Kelak pasti akan menuai hasil.”
Tapi aku nggak mau nunggu tiga bulan lagi baru memperoleh nasabah, protes si gadis dalam hati. Bayar uang kos, angsuran sepeda motor, bensin, dan biaya hidup pakai apa? Uang tabunganku nggak bisa bertahan selama itu!
Ekspresi wajah Rosemary yang berubah menjadi serius sekali membuat Damian menghentikan tawanya. Pemuda itu lalu berkata lirih, “Kamu sepertinya ada masalah, Rose, sampai ingin cepat-cepat closing.”
Ya, masalah besar, batin gadis itu gemas. Masalah yang menyangkut harkat dan martabat keluargaku. Masalah yang hanya bisa kuselesaikan step by step kalau aku berhasil mendapatkan banyak nasabah. Masalah keuangan!
Menyaksikan lawan bicaranya diam saja namun raut wajahnya semakin mengeras membuat pemuda itu menghentikan tawanya. Dia menyadari Rosemary mempunyai masalah pribadi yang tak dapat diceritakannya pada orang lain.
“Ayo, kita duduk-duduk di sana dulu,” ajak Damian seraya menunjuk ke arah kursi-kursi yang terletak di booth mereka. “Akan ku-sharing-kan cara mendapatkan database di mal.”
Paras Rosemary sontak berubah sumringah. “Thank you, Bro. Aku berhutang budi padamu!” pekiknya sambil tersenyum lebar.
Pemua itu geleng-geleng kepala saja menyaksikan keriangan gadis itu.
Beberapa menit berikutnya pemuda itu mengajarkan cara-cara yang berhasil dipraktikkannya untuk menarik nasabah di mal. Rosemary dan agen-agen baru lainnya mendengarkannya dengan seksama.
“Nah, itu ada ibu muda sedang berjalan menggandeng anak kecil,” cetus Damian seraya menggerakkan dagunya ke arah orang yang dimaksud. “Ibu yang pakai jilbab dan gamis warna merah muda itu, lho. Ayo Rosemary duluan yang maju.”
“A…aku?” tanya gadis itu gelagapan. Ditatapnya pengunjung yang dimaksud rekannya itu. Well, kelihatannya ibu muda itu baik orangnya. Jalannya pelan-pelan sekali, menyesuaikan dengan langkah kaki putrinya yang masih balita. Penampilan keduanya serba pink. So girly!
“Lho, jangan diliatin aja, Rose,” tegur Damian. “Cepat dekati dia. Mumpung jalannya masih santai dan anaknya nggak rewel.”
Rosemary menarik napas panjang. Dia terlebih dahulu membuat tanda salib di kening dan dadanya. Tolong berkati aku, Tuhan, doa gadis itu dalam hati. Kemudian dia melangkah mendekati ibu yang dimaksud.
“Selamat siang, Bu,” sapanya dengan nada suara seceria mungkin. Tangan kirinya yang membawa brosur dan notes kecil dihadapkan ke bawah, sehingga sang ibu tidak melihatnya.
“Iya. Ada apa, Mbak?” jawab perempuan cantik yang berusia awal tiga puluhan itu sopan.
Senyum Rosemary semakin lebar. “Cantiknya Ibu dan putri pakai baju sama-sama merah muda. Feminin sekali,” puji gadis itu setulus mungkin.
Lawan bicaranya menimpali, “Hehehe…, mumpung saya masih muda, Mbak. Jadi nggak malu-maluin pakai baju kembaran sama anak.”
“Betul juga ya, Bu,” sahut Rosemary menyatakan persetujuannya. Dia lalu membungkukkan badan dan bertanya pada anak kecil berambut dikuncir dua itu, “Halo, Sayang. Umur berapa sekarang? Manis sekali kamu pakai baju pink.”
Si bocah melongo. Dia mendongak menatap ibunya.
“Maira jawab pertanyaan Tante, dong,” instruksi sang ibu. “Maira umur berapa sekarang?”
Bocah berkulit kuning langsat dan berpipi ranum itu mengarahkan pandangannya pada Rosemary lagi. “Empat tahun,” jawabnya singkat.
“Wah, pintarnya Maira!” puji Rosemary dengan wajah berseri-seri. “Ngomongnya jelas sekali, ya.”
Perempuan di depannya merasa tersanjung. Dia tersenyum senang sembari menjawab, “Anak saya baru satu ini, Mbak.”
“Wah, sebentar lagi bakal punya adik, dong,” pancing Rosemary halus.
“Mudah-mudahan,” jawab si ibu ramah. “Doakan, ya.”
“Pasti, Bu,” sahut si gadis mengangguk tanpa ragu-ragu. “Oya, Ibu sama Maira kan sekarang lagi jalan-jalan. Saya kasih brosur sebentar aja boleh, ya?”
Tanpa menunggu persetujuan lawan bicaranya, Rosemary langsung menyodorkan brosur yang dibawanya. Ibu itu otomatis menerimanya. “Apa ini, Mbak?” tanyanya sembari membaca sekilas kertas berwarna kombinasi hijau dan kuning berukuran A-5 tersebut.
“Oh, ini cuma keterangan singkat mengenai tabungan pendidikan kami yang baru launching, Bu,” jelas si agen asuransi sambil terus tersenyum. “Berhubung Ibu dan Maira masih mau jalan-jalan, kertas ini dibawa saja buat dibaca-baca. Nanti saya bikinkan lagi brosur yang lebih lengkap. Kalau nantinya nggak ambil, nggak apa-apa kok, Bu.”
Secepat kilat Rosemary membuka notes kecilnya. Diambilnya bolpoin yang menempel di buku kecil itu. Dia langsung berlagak hendak mencatat nama lawan bicaranya. Senyumnya tetap tak berhenti mengembang.
“Saya catat namanya dulu, ya,” ucapnya ceria. “Ibu….”
Sorot matanya dibuat seramah mungkin menatap perempuan di depannya. Lawan bicaranya terpesona dan menjawab, “Rima.”
“Oh, Ibu Rima,” sahut Rosemary cepat tanggap. Dicatatnya cepat pada notesnya. Lalu tatapannya kembali mengarah pada Rima. “Nanti kalau brosurnya sudah jadi saya hubungi Ibu Rima di nomor WA 081….”
“Oh, bukan 081, Mbak. Nomor WA saya itu 085….”
Hati Rosemary girang sekali mendengar Rima menyebutkan nomor teleponnya. Terima kasih, Tuhan, batin gadis itu penuh syukur. Dicatatnya nomor tersebut lalu dia kembali memandang lawan bicaranya.
“Oya, brosurnya kalau saya kirim ke rumah Bu Rima, alamatnya di Jalan….”
Lagi-lagi ibu yang baru kali itu bertemu Rosemary terpancing memberitahukan alamat lengkapnya. Si agen asuransi tersenyum puas. “Terima kasih, Bu Rima. Nanti saya hubungi lagi, ya. Silakan dilanjutkan jalan-jalannya. Dadah, Maira….”
Gadis itu melambaikan tangannya pada Maira yang membalasnya dengan lambaian serupa. Rima tersenyum lalu berpamitan. Begitu sosok ibu muda dan anak perempuannya itu menghilang, Rosemary membalikkan badannya ke arah rekan-rekan sesama agen yang sejak tadi memperhatikannya dari jauh.
Segera didekatinya mereka. Para agen baru itu bersorak-sorai memuji keberhasilan gadis itu mendapatkan nama, nomor telepon, serta alamat lengkap ibu tadi. Rosemary berkomentar, “Tapi mukaku sekarang kaku rasanya karena tadi kebanyakan tersenyum. Hehehe….”
Dia lalu berpaling pada Damian, “Gimana cara prospekku tadi, Senior Damian?” tanyanya sambil bergurau. “Ada yang kurang?”
Pemuda itu mengacungkan jempol. “It’s ok-lah buat permulaan. Tapi dari mana kamu tahu kalau ibu tadi berkata yang sejujurnya? Bisa saja nomor telepon atau alamatnya palsu, kan?” komentarnya menohok.
Rosemary terperangah. “Iya, ya. Jangan-jangan datanya itu palsu,” cetusnya kecewa.
Damian langsung membesarkan hatinya. “Belum tentu, Non. Coba nanti kamu check nomor WA-nya di HP. Kan langsung kelihatan palsu nggak-nya. Saranku sih, lain kali kamu langsung ketik nomor WA klien di HP-mu langsung. Terus kamu telepon tepat di hadapannya….”
“Hah?!” seru gadis itu terkejut. “Sopankah itu, Dam? Kok rasanya nggak enak, ya?”