Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Semakin Gemas



Gadis itu semakin penasaran. “Tapi apa, Dam?” tanyanya menuntut. Dia tak suka orang yang plintat-plintut dalam berbicara.


Lawan bicaranya menghela napas panjang. Dengan berat hati dia berkata, “Tapi seandainya kelak kamu mempunyai masalah yang berat sekali sampai rasanya sulit dipecahkan…, barangkali bisa kauceritakan padaku. Siapa tahu aku bisa membantumu, Rose. Setidaknya menjadi teman bagimu untuk mencurahkan isi hati….”


Ada apa lagi ini? batin Rosemary tak percaya. Masa orang ini menaruh hati padaku?


Tiba-tiba gadis itu tertawa terbahak-bahak. Damian memandangnya keheranan. “Apa ada kata-kata yang lucu, Rose? Kamu kok sampai tertawa seperti itu?” tanyanya kebingungan.


“Kata-katamu puitis sekali, Dam. Hehehe…. By the way, thanks a lot ya, Bro. Aku benar-benar menghargai maksud baikmu,” kata Rosemary tulus. “Tapi apa kamu nggak takut kalau suatu saat janjimu itu akan kutagih?”


Giliran sang pemuda yang merasa geli. “Aku udah kadung ngomong, ya berarti harus kutepati, dong. Tapi kuharap sih, kamu nggak akan menagihku,” ucapnya sungguh-sungguh.


“Lho, gimana sih, kamu ini?” balas Rosemary tak terima. “Ngomong kok plintat-plintut! Nggak ngerti aku.”


Damian menatapnya dalam-dalam. Lalu ia berkata penuh arti, “Karena…kalau suatu saat kamu datang padaku menagih…berarti kamu sedang sangat terluka, Rose. Aku tak mengharapkan hal itu terjadi. Aku kasihan padamu.”


Gadis di hadapannya mengernyitkan kening. Ngomong apaan sih, orang ini? batinnya penuh tanda tanya. Dari tadi kok muter-muter melulu. Aku sama sekali nggak paham.


“Sudahlah, nggak usah bingung,” lanjut sang pemuda seperti memahami kegundahan hati Rosemary. “Kelak kamu akan mengerti apa maksud kata-kataku tadi. Ayo, kita prospek lagi. Tuh, lihat. Pengunjung semakin ramai. Sayang kalau nggak di-handle.”


Rosemary mengangguk. Selanjutnya mereka berpencar mendekati pengunjung mal yang semakin membludak.


***


Keesokkan paginya Rosemary mengikuti ujian untuk memperoleh lisensi sebagai agen asuransi. Ujian yang diadakan secara online di kantor perwakilan itu dengan cepat dikerjakannya. Begitu selesai, gadis itu langsung keluar meninggalkan ruangan. Selanjutnya dia minta izin pulang pada resepsionis karena ada urusan yang urgent.


“Kalau begitu, hasil ujiannya nanti saya laporkan ke kantor Mbak Rosemary, ya,” kata resepsionis tersebut.


“Baik, Mbak. Terima kasih banyak,” jawab Rosemary sambil tersenyum.


Kemudian dirinya melangkah ringan keluar dari kantor tersebut. Dia menuju lift yang akan membawanya turun ke parkiran sepeda motor.


Semoga aku lulus ya, Tuhan, doanya dalam hati. Jadi nggak usah ngulang ujian. Bisa fokus mencari nasabah.


Rosemary teringat pada kerja kerasnya sepanjang hari kemarin di pameran. Ada dua puluh tiga database yang diperolehnya. Tinggal di-follow up lagi. Dia sangat berharap segera closing sehingga bisa memberitahu kabar bahagia itu kepada Edward dan Martha.


Oya, aku belum bilang sama Mama kalau sudah selesai ujian, cetusnya dalam hati. Dengan segera dia mengirim pesan WA kepada ibunya di Balikpapan.


Selanjutnya gadis itu mengklik tanda Send. Pesannya langsung terkirim pada ibundanya yang tinggal di seberang lautan.


Lift di depannya terbuka. Tidak ada orang. Masuklah Rosemary sambil tersenyum senang. Aku akan segera pulang, mandi lagi, dan pakai baju yang bagus untuk pergi sama Bang Edward, gumamnya dalam hati.


Dirinya merasa kangen sekali pada manajernya itu. Terakhir kali dia melihatnya di kantor saat diadakan kelas sehari sebelum pameran. Itupun mereka tidak sempat bercakap-cakap karena Edward sedang sibuk berbincang-bincang dengan dua anak buahnya yang sudah berhasil menjadi manajer.


Rosemary berusaha tahu diri. Atasannya itu mempunyai banyak urusan lain yang juga penting. Tak melulu harus memperhatikan dirinya terus. Gadis itu hanya menyapa singkat laki-laki itu dan langsung pamit untuk ikut kelas. Edward waktu itu sempat menyemangatinya sekilas. Dibegitukan saja, hati Rosemary sudah berbunga-bunga.


Tak terasa gadis itu kini telah sampai di parkiran sepeda motor. Terdengar ponselnya berbunyi tanda ada pesan WA masuk. Segera diperiksanya. Dilihatnya ada pesan balasan dari ibunda tercinta.


Mama, Oliv, dan Nelly baik-baik saja, Nak. Nelly memang sedang ujian minggu ini. Oya, Mama senang kamu antusias dengan pekerjaan barumu. Tuhan memberkatimu, Nak. Kamu pasti lulus ujian dan mendapatkan banyak nasabah. Hehehe…. Kamu sedang apa sekarang, Rose? Ikut pameran lagi di mal? Semoga berhasil, ya.


Aduh, mesti kujawab bagaimana chat Mama ini, ya? batin Rosemary panik. Masa aku bilang diajak Bang Edward makan siang terus melihat-lihat apartemen? Mama bisa mikir macam-macam nanti. Tapi aku nggak bisa bohong. Haizzz….


Gadis itu berpikir keras. Dia merasa bingung sekali. Dibacanya pesan WA Martha sekali lagi. Tiba-tiba dia tersenyum. Sebuah ide cemerlang berkelebat dalam benaknya. Selanjutnya diketiknya pesan balasan.


Terima kasih banyak, Ma. Rose jadi tambah semangat kalau begini. Nanti Rose kabari lulus tidaknya ujian lisensi keagenan, ya. Bye.


Dengan perasaan puas Rosemary mengirim pesan yang telah diketiknya. Aku kan tidak berbohong, kilahnya dalam hati. Hanya tidak menjawab dengan lengkap pertanyaan yang ditujukan padaku. Hehehe….


Dan beberapa waktu kemudian gadis yang tengah dilanda api asmara itu terlihat melaju dengan sepeda motornya keluar meninggalkan gedung perkantoran tersebut.


***


“Terima kasih, Rose. Kamu mau menemaniku di saat sulit seperti sekarang ini,” ucap Edward dengan sorot mata penuh terima kasih. Mereka berdua kini berada di sebuah restoran masakan Jepang, menunggu pesanan makan siang disiapkan.


Rosemary tersenyum manis. Edward terpesona dengan kecantikan gadis yang duduk di hadapannya. Begitu natural dengan polesan make-up tipis. Kali ini Rosemary mengenakan gaun terusan tanpa lengan berwarna hijau pupus yang panjangnya sampai lutut. Rambut panjangnya yang lurus dan hitam legam terurai indah ke belakang. Betapa ingin laki-laki itu membelai mahkota agennya yang tampak halus itu. Ia penasaran ingin mencium bau harumnya dan sekaligus…ehm…bau harum sekujur tubuh gadis itu!


“Kamu cantik sekali pakai baju ini, Rose,” pujinya sungguh-sungguh. “Rasanya setiap kali pergi denganku dirimu selalu tampil istimewa.”


Rosemary menunduk malu. Wajahnya merah padam. Aduh, ketahuan kalau aku selalu berdandan maksimal setiap kali pergi berdua dengannya! cetus gadis itu dalam hati.


Edward tersenyum geli menyaksikan sikap agennya yang salah tingkah. Ia gemas sekali melakukan pendekatan dengan gadis senaif Rosemary. Biasanya perempuan-perempuan yang menjalin hubungan tanpa status dengan dirinya adalah gadis, janda, ataupun istri orang yang memang suka bersenang-senang saja tanpa perasaan.


Lambat-laun Edward tak merasakan lagi nikmatnya menjalin hubungan asmara dengan perempuan-perempuan seperti itu. Hanya terasa enak di atas ranjang, namun tanpa lika-liku pendekatan yang membuat jiwanya sebagai penakluk kaum hawa tertantang. Gadis baik-baik seperti Rosemary membuat gairahnya sebagai pria petualang mendidih.