Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Positif Hamil



Teman sekamarnya mengangguk. “Bu Teresa mestinya ikut. Tapi tiba-tiba dibatalkan karena mamanya sakit,” jawabnya menjelaskan. “Beliau cuma tinggal berdua bersama mamanya, Ren. Ditemani beberapa orang pembantu rumah tangga. Jadi kalau ada apa-apa dengan mamanya, Bu Teresalah yang bertanggung jawab sepenuhnya.”


“Oh, gitu. Big boss-mu itu belum menikah ya, Rose?”


“Dengar-dengar sih, udah pernah nikah. Tapi terus bercerai. Dan nggak ada anak. Sejak itu dia fokus membesarkan bisnisnya. Sampai akhirnya bisa membangun kantor sendiri….”


“Dan sekarang menjadi yang terbesar di area Indonesia Timur!”


Rosemary mengangguk mengiyakan. “Bu Teresa memang hebat sekali orangnya. Bermental baja. Pantang menyerah menghadapi apapun juga,” pujinya berapi-api. Gadis itu mudah merasa kagum dengan wanita-wanita yang berprestasi tinggi di bidangnya. Tak terkecuali Teresa, pemilik kantor asuransi tempat dirinya dan Edward bernaung.


“Manajermu juga hebat, Rose. Si cakep Bang Edward. Hehehe….”


Rosemary tersenyum getir. Yah, dia memang hebat sekali. Berprestasi di karir sekaligus menaklukkan hati wanita! cetusnya sebal dalam hati.


Renata yang tak menyadari perubahan ekspresi wajah teman sekamarnya itu tak henti-hentinya nyerocos, “Manajermu itu kelihatan menikmati sekali tur keliling London ini, Rose. Padahal mestinya ini bukan yang pertama kali baginya, ya. Kulihat dia selalu bergerombol dengan manajer-manajer senior yang selevel dengannya. Cuma ada satu manajer baru seangkatan kita yang bisa bergabung dengan kelompok itu. Cantik dan modis sekali orangnya. Inge namanya. Kamu kenal nggak, Rose? Apa dia satu kantor sama kamu?”


Lawan bicaranya menggeleng. “Beda kantor, Ren. Aku juga nggak kenal. Cuma saling senyum dan sapa aja waktu kita sama-sama dilantik di panggung sebagai manajer baru. Waktu itu kamu ada juga, kan? Kita saking belum saling kenal saat itu.”


Renata manggut-manggut membenarkan. Dia tak tahu betapa menderitanya perasaan gadis di hadapannya saat diajak berbicara mengenai Edward dan Inge.


Rosemary lalu mengoleskan minyak kayu putih di sekujur tubuhnya. Renata sampai melogo.


“Banyak banget ngolesin minyak kayu putihnya, Rose. Nggak takut kepanasan?”


Gadis yang ditanya menggeleng pelan. Lebih baik tubuhku yang kepanasan daripada hatiku yang panas mendengarmu mengoceh tentang Bang Edward dan Inge terus-terusan, batinnya pedih.


“Aku tidur dulu ya, Ren. Ngantuk,” katanya pada teman barunya itu. Renata mengangguk. Diperhatikannya Rosemary menutupi tubuhnya dengan selimut lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Renata.


Kasihan sekali kamu, Rose, batin Renata iba. Pertama kali dapat bonus wisata gratis kok malah nggak bisa menikmati karena sakit. Hmm….


Sementara itu perasaan Rosemary berkecamuk tak karuan. Aku di sini berbaring dengan kondisi badan nggak sehat, pikirnya nelangsa. Sementara kekasihku mungkin sedang indehoi dengan perempuan lain di dalam kamar lantai tujuh….


***


Akhirnya tibalah hari yang sangat dinanti-nantikan Rosemary. Kembali ke tanah air, negeri tercinta. Untungnya selama penerbangan gadis itu hanya merasa lemas dan mual sedikit. Tidak sampai muntah-muntah.


Tak henti-hentinya dia mengoleskan minyak kayu putih andalannya di sepanjang leher, dada, perut, dan punggungnya. Dioleskannya minyak tersebut pada hidungnya guna meredam rasa mual yang dirasakannya.


“Akhirnya selesai juga trip ini ya, Rose. Sayangnya kamu cuma mengikutinya dua hari saja. Sisanya banyak kamu habiskan di dalam kamar hotel. Nggak nyesel?” seloroh Damian menggoda.


Sahabatnya nyengir saja. Dia balas menggoda pemuda itu. “Aku kan ngasih kamu kesempatan berduaan sama Renata. Dia ngefans berat lho, sama kamu. Sampai nanya ini-itu sama aku. Kamu udah punya cewek apa belum, suka makan apa, punya berapa saudara, masih tinggal sama ortukah, macam-macam deh. Hehehe….”


Damian menyeringai. “Kamu kan tahu nggak mungkin terjadi apa-apa di antara kami berdua, Rose. Sudahlah. Bilang aja sama temanmu itu supaya tidak berharap banyak,” cetus pemuda itu enteng.


Rosemary tertegun mendengarnya. Ditatapnya sahabatnya itu lekat-lekat. Diberanikannya dirinya untuk bertanya, “Sudah fixed ya, keputusanmu ini, Dam? Kamu beneran nggak mau nyoba jalan sama Renata?”


Pemuda yang duduk di sampingnya menggeleng mantap. “Buat apa aku menjalani sesuatu yang kutahu mustahil terjadi, Rose? Itu seperti menipu diri sendiri. Yang paling kasihan nanti ya temanmu itu. Diberi harapan palsu oleh orang yang nggak mungkin bisa menaruh perasaan pada dirinya….”


Tiba-tiba dada Rosemary terasa sakit sekali. Dia merasa kata-kata Damian barusan tepat menusuk hatinya.


Diberi harapan palsu…, batin gadis itu pilu. Kenapa aku merasa kalimat itu tepat menggambarkan keadaanku yang sebenarnya? Apakah Bang Edward selama ini hanya berpura-pura saja di depanku? Apakah dia sesungguhnya tak mencintaiku? Tapi...ah, masa dia tega melakukan hal sekeji itu?


Lagi-lagi Rosemary berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran negatif mengenai kekasihnya tersebut. Dia lalu mengambil keputusan. Setibanya di Surabaya nanti, akan segera dilakukannya pemeriksaan mandiri mengenai kemungkinan dirinya hamil. Dia akan membeli beberapa merek test pack. Apapun hasilnya nanti, gadis itu akan meminta ketegasan pada Edward mengenai hubungan mereka.


Rosemary tak mau lagi hidup dalam panggung sandiwara. Di depan umum dia berpura-pura sebagai anak buah Edward, sedangkan pada kenyataannya mereka adalah sepasang kekasih.


Sudah cukup hubungan kami berlangsung selama satu tahun lebih tanpa kepastian, tegasnya dalam hati. Begitu Bang Edward kembali dari wisatanya keliling Inggris dan Perancis selama dua minggu ke depan, akan kukonfrontasi dia mengenai keseriusan hubungan kami. Juga akan kubahas tentang desas-desus hubungannya dengan Inge. Aku sudah nggak mau diombang-ambingkan lagi. Capek!


***


Selama dua minggu berikutnya Edward tetap tidak menghubungi Rosemary. Kekasihnya itu sendiri merasa gengsi mengontak laki-laki itu duluan. Dia hanya mengikuti informasi tentang Edward melalui status WA-nya serta akun media sosialnya.


Dari sana Rosemary bisa menyaksikan foto-foto kekasihnya itu selama berwisata keliling Inggris dan Perancis. Pria itu masih bersama geng-nya yang merupakan manajer-manajer senior selevel dirinya. Namun ada hal yang berbeda. Tak satupun dari foto-foto Edward menampakkan sosok Inge.


“Barangkali cewek itu nggak ikut,” komentar Rosemary. “Penghasilannya belum cukup besar untuk menambah biaya perjalanan dari koceknya sendiri. Dia baru dilantik sebagai manajer level satu. Setara denganku. Kalau sampai dia ikut, takutnya manajer-manajer lain akan curiga.”


Diperhatikannya wajah Edward yang selalu tampak ceria di foto-foto dan video-video yang diunggahnya. “Kamu kelihatan gemukan, Bang,” celetuk sang kekasih. “Juga bahagia sekali. Tapi entah bagaimana reaksimu nanti begitu pulang kembali ke Surabaya dan kuberitahu bahwa aku sedang mengandung darah dagingmu….”


Ya, Rosemary telah berkali-kali melakukan pemeriksaan mandiri melalui test pack. Hasilnya positif semua. Dia tak tahu harus senang atau sedih menghadapi kenyataan itu. Akhirnya diambilnya keputusan untuk tak terlalu memikirkannya. Akan ditunggunya sang kekasih pulang dari perjalanan wisatanya untuk membicarakan persoalan serius tersebut.


***