
Rosemary mengangguk setuju. Dia sendiri banyak belajar dari pemuda yang menjadi satu-satunya sahabatnya di bisnis asuransi itu. Entah mengapa meski gadis itu berhubungan baik juga dengan agen-agen lainnya, namun ada perasaan tak nyaman untuk bergaul lebih dekat dengan mereka. Sikap percaya diri yang berlebihan dan hedonisme yang diagung-agungkan di bisnis itu dirasa Rosemary tak sesuai dengan kepribadiannya yang lebih suka tampil apa adanya.
Dia memang mencintai profesinya. Selain bisa menghasilkan pendapatan yang tak terbatas, gadis itu merasa memperoleh banyak pengalaman dan pengetahuan yang berharga dengan bertemu berbagai macam orang.
Rosemary tak peduli kalangan apa yang diprospeknya. Pokoknya bisa tembus dan menambah banyak relasi. Bahkan saking senangnya berjualan asuransi dia sampai lengah belum merekrut seorang agen pun selama ini.
Edward beberapa kali menegurnya. “Kalau kamu terus-terusan bekerja single fighter seperti ini, kamu akan capek sendiri, Rose. Nasabahmu semakin banyak, tapi tangan yang kamu pakai tetap dua. Kaki juga sama. Otak apalagi, cuma satu. Lihatlah aku. Keberhasilanku mencapai level manajer tertinggi juga akibat omzet anak-anak buahku, kan? Bahkan diantara mereka sudah ada dua orang yang menjadi manajer level menengah. Dan sekarang kamu juga akan naik menjadi manajer level satu. Pekerjaanku akan terasa lebih ringan untuk mencapai omzet yang lebih tinggi.”
Rosemary biasanya manggut-manggut saja mendengarkan nasihat manajer sekaligus kekasihnya itu. Dia tak mau melawan kata-kata Edward mengingat rasa hormat dan cintanya yang besar pada pria itu.
Dan gadis itu pun menurut saja ketika diminta tidak terlalu dekat dengan Edward saat bepergian ke London bersama rombongan agen berprestasi lainnya. Mereka kebetulan juga ditempatkan dalam pesawat yang berbeda. Dan untungnya Rosemary duduk tepat bersebelahan dengan Damian.
“Hai, Rose. Kok seat kita bisa pas berdampingan gini, ya?” sapa pemuda itu ceria. Lalu dengan suara pelan pemuda itu melanjutkan, “Apa Bang Edward request sama panitia? Dia kan tahu kita dekat.”
“Lho, memang bisa request?” tanya gadis itu sambil mengernyitkan dahinya. Sepengetahuan dirinya, pengaturan pesawat, kamar hotel, maupun seat di berbagai acara di London nanti merupakan keputusan panitia yang tidak bisa diganggu-gugat. Mana bisa request ini-itu? pikirnya heran.
Jawaban pelan pemuda di sampingnya sungguh mengejutkan Rosemary. “Manajer sekelas Bu Teresa dan Bang Edward biasanya mendapatkan jatah permintaan khusus dari panitia,” jelasnya dengan nada suara yang direndahkan supaya tidak didengar orang lain.
“Permintaan khusus apa?” tanya gadis di sebelahnya dengan suara tak kalah pelan.
“Macam-macam, sih. Misalnya mau digabungkan dengan rombongan pesawat yang mana, sekamar dengan siapa di hotel, duduk sama siapa di acara-acara penting, dan lain-lain,” jawab pemuda itu dengan nada suara hampir seperti berbisik.
“Oh, gitu,” jawab Rosemary sambil mengangguk-angguk. Berarti sebenarnya Bang Edward bisa saja minta untuk dimasukkan dalam pesawat yang sama denganku, batin gadis itu agak kecewa. Setidaknya aku kan masih bisa melihatnya meskipun kami berdua nggak duduk berdampingan.
Perubahan raut wajah gadis itu yang sendu menjadi perhatian Damian.
“Kenapa memangnya, Rose?” tanya pemuda itu penasaran. “Kaget, ya? Kamu baru tahu kalau ternyata bisa request sama panitia? Tunggu levelmu setara Bang Edward atau big boss deh, nanti kamu bebas request apa aja. Hehehe….”
Gadis itu nyengir mendengar lelucon sahabatnya. Ya sudahlah, batinnya mencoba menerima keadaan. Setidaknya aku nggak kesepian hampir dua puluh jam berada dalam penerbangan menuju London. Ada kawan baik yang menemaniku di sini.
Sementara itu di pesawat lain, Edward duduk manis di business class. Di ruangan itu tak ada seorang pun agen asuransi. Semuanya berada di kelas ekonomi. Pria tampan itu tersenyum cerah saat seorang wanita muda berambut ikal panjang berwarna burgundy muncul dan duduk tepat di sebelahnya.
Serta-merta kedua insan itu saling mendekatkan diri dan mengecup bibir satu sama lain. “I miss you, Honey,” cetus Edward merayu.
“Me, too,” jawab wanita itu sambil tersenyum manis. Dibiarkannya laki-laki itu menggenggam erat tangannya. “Kamu pintar sekali, Bang. Berhasil request seat ini sama panitia. Kita berdua bisa santai menikmati perjalanan ke London tanpa gangguan agen-agen lain.”
“Kamu sering ya, request kayak gini ke panitia?” selidik wanita itu penasaran.
Edward menggeleng. Dia mengelus pipi pasangannya. “Baru kali ini kok, Hon. Spesial buat kamu,” rayunya gombal.
“Really?” tegas wanita itu tak percaya. Matanya menatap lekat-lekat laki-laki don juan itu.
Edward mengangguk pelan. Si wanita tampak lega. Kepalanya bersandar pada bahu kekar laki-laki itu. Selanjutnya terdengar bisikan lembut, “Aku sudah bawa macam-macam lingerie, G-string, dan stocking yang tempo hari kamu kasih, Bang. Kan belum kupakai semuanya di depanmu. Nanti di London kita puas-puasin, ya.”
Laki-laki itu cengengesan membayangkan pengalaman tak terlupakan yang akan dialaminya setiap malam di ibukota negeri Inggris itu.
***
Setibanya di London, Rosemary ditempatkan di hotel bintang lima yang sangat megah. Tampak luar bangunannya sangat klasik, khas negeri Ratu Elizabeth tersebut.
Dia sekamar dengan Renata, gadis sebayanya yang juga baru satu tahun lebih berkecimpung di bisnis asuransi. Sebagaimana dirinya, Renata selain memperoleh hadiah wisata gratis ke London juga mendapatkan promosi sebagai manajer level satu.
Gadis asal Yogyakarta itu merupakan rekan sekamar yang menyenangkan. Sikapnya yang ramah dan terbuka membuat Rosemary merasa lekas akrab bagaikan kawan lama. Mereka saling bercerita tentang awal mula terjun ke bisnis asuransi serta kendala yang sering ditemui di lapangan.
Renata terkejut sekali mengetahui Rosemary ternyata merupakan anak buah Edward Fandi, manajer terkenal yang pernah diundang sebagai pembicara tamu di kantornya.
“Wah, gimana rasanya punya manajer kayak Bang Edward, Rose?” tanya gadis berambut keriting sebahu itu penasaran.
Lawan bicaranya terkekeh. Dia menjawab santai, “Ya biasa-biasa aja sih, Ren. Dia kan atasanku. Hubungan kami profesional. Sebatas manajer dan agennya.”
“Tapi dia tuh kan cakep dan keren banget, Rose. Aduh, apa jantungmu nggak deg-degan setiap kali berdekatan dengan Bang Edward?” cetus Renata polos.
Masa-masa itu sudah lewat, Ren, batin Rosemary geli. Karena aku sudah menjelajahi setiap jengkal diri laki-laki itu.
“Yah, gimana sih, Ren,” tukas gadis itu pura-pura cuek. “Umurnya kan belasan tahun lebih tua dariku. Pantas jadi om-ku sendiri. Malah dulu aku manggil dia Om Edward, lho. Terus setelah direkrut jadi agennya ya ikut-ikutan orang-orang kantor manggil dia Bang Edward.”
“Tahu nggak, Rose. Selama satu tahun aku bergabung di kantor Yogya, Bang Edward udah dua kali datang sebagai pembicara tamu di acara seminar kantor. Banyak agen cewek yang terpesona sama penampilannya, lho. Cakep, keren, berwibawa…. Sempurna banget deh, sebagai cowok! Sampai semua pada penasaran kayak apa istrinya. Akhirnya ketemu fotonya di Instagram. Cantik juga orangnya. Serasi deh, sama Bang Edward.”