Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Curhat Sama Damian



Setelah proses penandatanganan selesai, Danu menyerahkan kunci apartemen dan kartu aksesnya kepada Edward. Wajahnya berseri-seri, menunjukkan kepuasan laki-laki itu atas kelancaran transaksi yang baru selesai.


“Terima kasih, Danu. Nanti kalau aku bermaksud memperpanjang masa sewa apartemen, kuhubungi kamu lagi, ya,” kata Edward kemudian. Diterimanya seperangkat kunci serta kartu akses apartemen dari broker properti tersebut.


Danu mengangguk. Lalu sambil tersenyum dia menyindir halus, “Memangnya ada rencana mau diperpanjang masa sewanya, Pak Edward?”


Pria yang ditanya menyeringai. “Lihat saja ke depannya gimana nanti,” jawabnya penuh teka-teki. “Yang penting kamu tolong keep secret, Dan. Jangan sampai ada yang tahu aku menyewa apartemen. Bahaya. Hahaha….”


Manajer asuransi top itu tertawa terbahak-bahak.


Danu tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Beginilah laki-laki kalau sudah memperoleh harta, dan tahta. Akhirnya terjerumus juga dalam permainan berbahaya dengan wanita! cetusnya dalam hati. Sebenarnya kasihan juga gadis yang bernama Rosemary itu. Kelihatannya dia masih lugu. Tapi aku bisa apa? Mungkin sudah nasibnya harus masuk dalam jeratan pesona laki-laki mesum ini.


***


Lima hari kemudian. Rosemary belum juga berhasil menutup transaksi dengan calon nasabah. Setiap hari ada saja orang yang berhasil ditemuinya di rumah ataupun kantor. Terkadang sehari bisa sampai dua hingga tiga klien yang dikunjunginya untuk menjelaskan ilustrasi proteksi kesehatan, tabungan pendidikan, maupun tabungan hari tua.


Karena sudah ditelepon oleh gadis itu satu-dua hari sebelumnya, maka database yang dikenalnya dari pameran itu selalu menyambut kedatangannya dengan hangat. Proposal atau ilustrasinya pun diterima dengan baik. Akan tetapi selalu diakhiri dengan jawaban, “Baik, akan saya pelajari dulu nanti, Mbak Rosemary.”


Atau ada juga yang beralasan mau merundingkannya dengan suami atau istrinya terlebih dahulu, membandingkan manfaat ilustrasi yang dibuat Rosemary dengan manfaat ilustrasi produk lain, dan sebagainya. Lambat-laun gadis itu lelah juga selalu pulang tanpa hasil.


Kalau keadaan masih memungkinkan, ujung-ujungnya dia akan datang lagi ke pameran untuk mencari database lagi. Selain itu semangatnya muncul kembali kala bercengkerama dengan agen-agen baru yang bernasib sama seperti dirinya, belum pecah telor.


Ada kalanya Rosemary juga bertemu dengan agen-agen senior di pameran tersebut. Namun dari semua agen yang dikenalnya, dia merasa paling nyaman bercakap-cakap dengan Damian. Pemuda itu dianggapnya paling nyambung kalau diajak ngomong. Pun rendah hati dan tak pelit berbagi ilmu.


Rosemary bercerita pada Damian tentang Pak Tedja dan Bu Sarita. Dua kliennya itu pada kunjungan pertamanya terlihat antusias dan welcome. Namun ternyata dua hari kemudian sulit sekali dihubungi. Telepon dari gadis itu tidak dijawab. Pesan WA-nya pun tidak dibaca. Padahal mereka berjanji akan mengabari gadis itu segera begitu telah mengambil keputusan.


“Berarti mereka masih membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk mengambil keputusan, Rose. Hahaha…,” celetuk Damian seraya tertawa keras.


Rosemary menatap pemuda itu putus asa. Bagaimana orang ini bisa rileks banget ketawa, ya? batin gadis itu penasaran. Padahal omzetnya sendiri nggak istimewa. Belum sepadan dengan kerja kerasnya.


“Kenapa kamu memandangiku seperti itu, Rose?” tanya pemuda itu setelah berhenti tertawa. “Ada yang aneh sama mukaku-kah?”


Gadis yang duduk di hadapannya itu menggeleng. “Aku cuma bingung melihatmu, Dam. Gimana kamu tetap bisa rileks dan optimistis padahal…sori…ehm…apa, ya? Anu…mungkin belum mencapai hasil maksimal dalam bekerja,” kata Rosemary terbata-bata. Dirinya berusaha mencari kata-kata yang tepat agar tidak menyinggung perasaan lawan bicaranya.


Damian nyengir menyaksikan kegugupan gadis itu. Ia menghela napas panjang.


Kemudian pemuda itu bertutur penuh makna, “Begini, Rose. Ada hal-hal di dunia ini yang berada di luar kendali kita sebagai manusia. Walaupun di kantor kita diajarkan bermacam-macam jurus yang katanya jitu untuk membuat klien cepat mengambil asuransi, tapi kenyataan di lapangan seringkali tidak sesederhana itu. Ada problem-problem yang dihadapi klien dan tidak bisa diutarakan pada agen seberapapun lihainya dia dipancing. Jadi…ya sudahlah, Non. Just do the best you can. Then, let God do the rest. Pahamkah?”


Melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan. Lalu biarkan Tuhan yang mengurus sisanya, batin Rosemary berusaha mencerna maksud perkataan rekannya itu. Masuk akal juga sih, pikirnya setuju. Nggak semua teori yang diajarkan di kantor dapat dipraktikkan di lapangan dan langsung menuai keberhasilan. Butuh proses. Hmm….


Damian menambahkan, “Yang penting kita bekerja dengan lapang dada, Non. Besar hati. Kalau dianggurin atau bahkan ditolak klien, ya sudah. Nggak usah diambil hati. Coba prospek orang lain. Masih banyak jalan terbentang lebar di depan kita. Jangan kuatir, Tuhan nggak akan membiarkan orang yang sungguh-sungguh berusaha. Anggaplah itu keberhasilan yang tertunda. Bahkan terkadang closing-an itu muncul tiba-tiba dari orang yang tak terduga….”


“Mamaaa…. Huwaaa….”


Tiba-tiba terdengar suara tangisan nyaring seorang anak kecil. Rosemary dan Damian sama-sama menoleh. Di dekat booth mereka tampak seorang bocah laki-laki berambut jabrik dan berkulit putih menangis keras. Air mata bercucuran membasahi wajah anak berusia sekitar lima tahun itu.


Rosemary spontan bangkit dari tempat duduknya. Didekatinya anak itu. Dia berjongkok hingga tinggi badan mereka sejajar.


“Hai, kenapa menangis, Sayang? Cup-cup. Tante hapus air matanya, ya,” kata gadis itu lembut sambil menyeka wajah anak itu dengan tisu. Damian yang berada di belakangnya diam saja memperhatikan. Diamat-amatinya sikap Rosemary yang tampak perhatian sekali dengan anak kecil yang tak dikenalnya.


“Mama hilaaanggg….”


“Mama nggak hilang kok, Nak. Ayo ikut Tante duduk di sebelah sana. Ada minuman, lho. Kamu haus, kan?”


Si bocah mengangguk. Rosemary lalu bangkit berdiri. Digandengnya anak bertubuh montok itu agar mengikutinya berjalan menuju booth. Sesampainya di sana, gadis itu mempersilakannya duduk. Lalu dikeluarkannya sebuah sedotan dari plastik dan ditusukkannya pada tutup gelas air mineral itu.


“Ayo diminum dulu. Biar tenang,” kata gadis itu ceria.


Disodorkannya air mineral tersebut pada kawan barunya. Tanpa ba bi bu si bocah langsung meminum habis air mineral tersebut. Rosemary tersenyum geli. Dia senang anak kecil itu sudah lebih tenang.


“Namamu siapa?” tanya Rosemary ingin tahu.


“Boy, Tante,” jawab anak itu lancar.


“Boy umur berapa sekarang?”


“Lima tahun.”


“Oh, masih TK, ya?”


“Iya. Mama mana, Tante?”


Rosemary tersenyum. Dia lalu berkata tenang, “Boy jangan kuatir. Mama sekarang juga sedang nyari Boy. Makanya duduk di sini aja dulu, ya. Kalau sama-sama nyari nanti malah nggak ketemu.”


Anak itu mengangguk-angguk. Dia sudah tak menangis lagi.


“Boy tadi pergi ke mal sama Mama aja? Atau ada Mbak, Bibi, Suster?” pancing Rosemary mencari informasi. Ditatapnya anak kecil di hadapannya ramah, agar tidak takut kepadanya.