
Dibelainya lembut pipi kekasihnya tersebut. Empat kursi di samping kanan pemuda itu kosong sehingga dia dengan leluasa menunjukkan perasaan kasihnya pada Damian. Lalu diterimanya sebotol minuman dingin dan sepotong sandwich yang disodorkan padanya. Perutnya memang terasa lapar karena memang sudah waktunya makan malam. Dinikmatinya roti lapis berisi sehelai ham, telur, tomat, timun, dan selada itu dengan lahap.
Aku memang selalu perhatian terhadap pria-pria yang kukencani, batin Damian mengakui. Karena aku menghargai sebuah hubungan. Sayangnya satu-satunya orang yang berhasil menggenggam hatiku tak menyadari keberadaanku, batin pemuda itu pilu. Edward Fandi, bagaimana caranya kuhilangkan perasaan cintaku padamu?
***
“Filmnya tadi bagus, ya?” celetuk Edward pada Rosemary. Mereka baru selesai nonton dan kini telah berada di dalam mobil. Laki-laki itu mengemudi dengan kecepatan standar menuju ke tempat kos agen perempuannya tersebut.
Diliriknya gadis yang duduk di sebelahnya itu. Rupanya Rosemary tengah menguap. Kelihatan sekali dia merasa kelelahan. Edward melanjutkan ucapannya, “Kamu udah mengantuk rupanya, Rose. Capek banget, ya?”
Gadis itu mengangguk pelan. “Tapi terima kasih ya, Bang. Udah diajak nonton. Filmnya bagus. Nggak melulu adegan action. Ada drama rumah tangganya juga. Jadi nggak bosen,” pujinya sungguh-sungguh.
Dia jarang sekali menonton fim Asia di bioskop. Jet Li dikenalnya sebagai aktor Asia yang sukses menembus pasar film Hollywood. Namun jarang sekali Rosemary menonton film-film yang dibintanginya. Gadis itu lebih suka menonton film-film yang penuh konflik dan intrik daripada aksi laga.
“Besok kamu cuti saja satu hari, Rose,” ujar manajernya menganjurkan. “Duduk tenang di kamar kos sambil me-review apa saja yang sudah kamu lakukan selama satu minggu terakhir. Lalu memikirkan strategi baru untuk dilaksanakan satu minggu berikutnya. Begitulah caraku bekerja. Kita ini manusia, dianugerahi akal budi. Bekerja keras itu harus, tapi alangkah baiknya kalau diimbangi dengan strategi sehingga tujuan lebih cepat tercapai. Selain itu juga mengurangi tindakan-tindakan yang tidak diperlukan.”
Rosemary mendengarkan kata-kata manajernya barusan dengan seksama. Hmm…, masuk akal juga saran bosku ini, pikirnya setuju. Dengan begitu waktu dan upaya yang kukeluarkan untuk mendapatkan nasabah akan lebih efektif dan efisien.
Tiba-tiba sebuah pertanyaan hinggap dalam benaknya. “Bang, Damian itu apakah sudah lama menjadi agen?” tanya gadis itu ingin tahu.
“Hampir satu tahun rasanya. Dia direkrut langsung oleh big boss. Kenapa?”
“Posisinya sekarang apa, Bang? Masih agen biasa sepertiku atau sudah naik level manajer?”
“Masih agen biasa sepertimu.”
“Oh, begitu. Kelihatannya dia orang baik ya, Bang?”
Edward terkekeh. “Dia memang baik sekali. Giat bekerja juga. Omzetnya standar-lah. Kelemahannya dia kurang bisa menilai mana orang yang layak dijadikan agen dan mana yang tidak. Agak sembrono orangnya. Tapi aku memakluminya. Dia masih muda dan belum banyak pengalaman.”
“Tapi Bu Teresa kan tidak mungkin salah dalam menilai orang, Bang. Beliau merekrut Damian pasti karena melihat potensi dalam dirinya.”
“Hahaha….”
“Kenapa ketawa, Bang? Apa yang lucu?”
“Kamu tahu nggak, apa pendapat big boss sewaktu melihatmu pertama kali di kantor?”
Rosemary menggeleng. Atasannya lalu berkata, “Bu Teresa menilai dirimu sebagai gadis yang lugu, suka belajar, dan pantang menyerah. Kamu mengingatkannya pada seseorang yang teramat dikenalnya ketika dulu baru terjun sebagai agen asuransi.”
“Nanti kuberitahu,” jawab atasannya penuh teka-teki.
Rosemary jadi dongkol karenanya. Mukanya langsung cemberut. Edward yang melirik ke arahnya tertawa terbahak-bahak. Cewek ini memang menggemaskan sekali, batinnya tergoda.
Tiba-tiba diberhentikannnya mobil di pinggir jalan. Secepat kilat didekatkannya wajahnya pada gadis yang duduk di sebelahnya. Rosemary menahan napas. Dirinya mengira akan dicium. Parasnya memerah karena malu. Tapi hatinya tak mampu menolak.
Tak dinyana, ternyata Edward hanya berbisik lembut di sisi telinga gadis itu, “Kamu mengingatkan Bu Teresa pada dirinya dulu waktu baru terjun sebagai agen asuransi….”
Setelah mengucapkan kalimat yang membuat anak buahnya mematung, pria itu langsung memundurkan wajahnya. Dia duduk tegak lagi di belakang kemudi dan menjalankan kendaraannya kembali.
Momen yang berlangsung sekian detik itu benar-benar menegangkan bagi Rosemary. Dia terdiam seribu bahasa. Tak berani diliriknya Edward barang sekejap pun.
Sementara itu pria yang berkali-kali berhasil melakukan hal-hal yang menyentuh hati gadis lugu itu menyeringai puas. Kelak akan tiba waktunya kumiliki diri Rosemary Laurens seutuhnya, tekad laki-laki don juan itu bulat.
***
Keesokan harinya Rosemary mengikuti saran Edward untuk beristirahat di kos. Dia mengevaluasi kinerjanya selama satu minggu terakhir. Total sudah empat puluh tujuh orang yang sudah diprospeknya dan belum satu pun yang berhasil dimintai data pribadi untuk dibuatkan proposal.
“Tapi dari semua orang itu ada sejumlah orang yang masih bisa ku-follow up lagi karena reaksi mereka cukup baik waktu kuprospek,” kata gadis itu pada dirinya sendiri. Diberinya tanda centang database yang masih ada harapan tersebut.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tertera nama Edward pada layarnya. Gadis itu langsung mengangkatnya.
“Halo, Bang Edward,” sapa gadis itu pada si penelepon. Nada suaranya diupayakan sedatar mungkin. Padahal hatinya bergejolak penuh bunga-bunga asmara.
“Hai, Rose. Kamu ada di mana, nih?” tanya suara di seberang sana ceria. Bunga-bunga di hati Rosemary semakin mekar dengan indahnya.
“Di kamar kos. Aku mengikuti saran Abang untuk mengevaluasi kinerjaku selama satu minggu terakhir. Lalu membuat strategi untuk satu minggu ke depan,” jawab si gadis apa adanya.
“Good. Kamu memang agen yang penurut. Oya, ini aku baru dikabari big boss bahwa kantor kita akan mengadakan pameran asuransi di Z-Mall. Pangsa pasarnya orang-orang kelas menengah. Karena kalau kelas bawah biasanya tidak punya dana lebih untuk ikut asuransi swasta. Sedangkan orang-orang kelas atas seringkali lebih percaya pada orang yang sudah dikenal atau berdasarkan referensi. Pameran ini baru pertama kali dilakukan oleh kantor kita, Rose. Tapi di kantor-kantor lain sudah beberapa kali dijalankan. Hasilnya cukup memuaskan, sih. Premi yang diperoleh antara lima ratus ribu sampai satu setengah juta per bulan. Gimana? Kamu mau ikut, nggak? Kalau ya, kudaftarkan sekarang.”
Rosemary tercengang. Pameran asuransi? Baru pertama kali ini didengarnya. Yang diketahuinya mal-mal biasanya mengadakan pameran properti, kartu kredit, multilevel marketing, dan lain sebagainya yang kelihatan jelas visual produknya.
“Ehm…, pameran asuransi itu gimana sih, Bang? Aku kok kurang paham, ya? Nggak apa-apakah agen baru sepertiku ikut? Bayar berapa?” tanya gadis itu bertubi-tubi.
Agak cemas juga Rosemary kalau sampai ditarik biaya untuk ikut pameran. Beberapa hari lagi dia akan menjalani ujian untuk mendapatkan lisensi keagenan. Biayanya ternyata tidak gratis. Tapi dipotong dari komisinya kalau dia berhasil menjual asuransi.
“Lima ratus ribu per orang selama dua minggu!” tandas manajernya kemudian.