
“Sori, Rose. Aku mengerti ini berat sekali buatmu…,” ujarnya bersimpati. Sorot matanya tampak prihatin.
Lawan bicaranya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Lebih baik begini,” tukasnya. “Segala sesuatu yang diawali dengan niat yang tidak baik, maka buahnya pasti tidak baik juga.”
Damian mengernyitkan dahinya. Apa yang terjadi pada Rosemary? Kukira dia akan sedih dengan kepergian kekasihnya. Ternyata malah acuh tak acuh. Apakah mereka sudah putus hubungan sebagai kekasih? batin pemuda itu bertanya-tanya.
“Bu Teresa sportif sekali orangnya, Dam,” puji gadis itu tulus. “Sama sekali tidak merasa sakit hati anak buahnya pindah berkarir ke kantor kompetitor. Bahkan beliau mendukung dan mendoakan kemajuan karir manajerku ke depannya. Jarang sekali ada pemimpin yang berjiwa besar seperti itu.”
Sahabatnya mengangguk mengiyakan. “Big boss memang seperti itu wataknya. Dia nggak mau menghalang-halangi anak buahnya untuk berkembang, sekalipun pindah ke kantor lain. Asalkan orang itu jujur memberitahu dan tidak mengompori agen-agen lainnya untuk ikut pindah bersamanya.”
Rosemary manggut-manggut setuju. Bu Teresa sudah menunjukkan kualitasnya sebagai seorang pemimpin yang bijaksana, pikirnya bangga. Aku sungguh bersyukur. Sepeninggal Edward Fandi, statusku secara otomatis menjadi bagian dari tim Bu Teresa langsung. Aku jadi bisa lebih leluasa meminta bimbingannya.
“Aku duluan ya, Dam. Mau ketemu Mbak Indri di ruangannya. Ada beberapa hal yang harus kubicarakan dengannya.”
“Oh, ok,” sahut Damian sambil tersenyum. “Sekarang siapa yang menggaji Mbak Indri?”
“Aku dan manajer-manajer lain yang dulu di bawah Bang Edward,” jawab Rosemary singkat. Dia lalu melambaikan tangannya dan bergegas melanjutkan langkah kakinya menuruni tangga.
Rosemary Laurens, cetus Damian dalam hati. Kamu kelihatan tegar sekali ditinggal kekasih sekaligus mentor yang selama ini berjasa besar membimbingmu. Sungguh seorang wanita yang tegar! Semoga benar kata-kata big boss Teresa dulu. Kamu akan menjadi agen yang luar biasa berprestasi seperti dirinya!
***
Banyak orang di kantor yang merasa heran dengan keputusan Rosemary menjual mobil Xenia miliknya dan menggantinya dengan Sigra yang notabene lebih murah.
“Ganti mobil itu harusnya upgrade, dong. Kok malah downgrade!”
“Habis pulang dari London kok malah merosot gaya hidupnya!”
“Gimana mau rekrut agen kalau taraf hidup bukannya meningkat, tapi malah menurun!”
Begitulah rata-rata komentar bernada ejekan yang dilontarkan orang-orang di kantor gadis itu. Rosemary tak ambil pusing. Dia fokus pada pekerjaannya sendiri dan tak mengurusi hal-hal yang dianggapnya tidak penting. Berbagai training tentang asuransi diikutinya dengan tekun disamping tetap rutin menjual produk-produk asuransi.
Tak ada waktu bagi gadis itu untuk bersenang-senang demi dirinya sendiri. Ajakan-ajakan rekan-rekan sesama agen untuk ngafe, nonton bioskop, karaoke, ataupun klub malam ditolaknya tanpa pandang bulu. Rosemary hanya mau kumpul-kumpul dengan mereka pada saat memang ada acara sosialisasi yang diadakan kantornya ataupun kantor pusat Jakarta. Selebihnya waktunya banyak dihabiskan dengan bekerja dan bekerja.
Damian sampai geleng-geleng kepala melihatnya. “Bateremu kok nggak ada habis-habisnya, sih?” tanyanya pada Rosemary. “Bingung aku. Gimana caranya kamu setiap minggu bisa closing sedikitnya dua polis baru. Apa rahasianya? Memangnya mereka nasabah baru semua?”
Gadis itu menggeleng. “Nggak juga, sih. Beberapa malah nasabah lama yang puas atas pelayananku waktu mengurus klaim rawat inap, lalu buka polis baru untuk anggota keluarganya yang belum punya asuransi. Ada juga klien yang sudah lamaaa…sekali kuprospek tapi nggak closing, eh baru-baru ini ngabarin kalau mau ambil tiga polis sekaligus buat istri, anak, dan istrinya sendiri. Ya gitu-gitu aja sih, Bro. Muter-muter melulu. Nggak ada yang spesial. Kan kamu juga yang ngajarin aku untuk sabar dan telaten menabur. Kelak pasti tertuai hasil yang manis.”
“Ccck, ccck, ccck…. Aku sepertinya udah berhasil jadi guru,” celetuk Damian sambil tersenyum bangga.
“Maksudnya?” tanya sahabatnya tak mengerti.
Rosemary ikut tertawa juga. “Kamu merendah, Bro. Padahal barusan kamu closing polis untuk perusahaan, kan? Berapa total jumlah karyawan yang diasuransikan? Lima puluh orang?”
“Enam puluh tujuh orang. Itu belum termasuk level manajemen,” jawab Damian bangga.
“Nah, lho. Kamu jauh lebih hebat dariku, kan? Aku selama ini cuma closing polis-polis individu atau keluarga. Belum pernah punya nasabah company seperti kamu.”
“Yang penting kan, total jumlah preminya, Sis. Kalau preminya kecil-kecil meskipun jumlah pesertanya banyak ya bikin cape dan ribet banget waktu nanti ngurus klaim, Non.”
“Lha, tahu gitu kenapa di-closing? Udah tahu bakalan ribet.”
“Demi komisi dan bonus, Neng. Apapun yang ada di depan mata ya diterabas. Daripada hidup kelaparan!”
Sepasang sahabat itu tertawa terbahak-bahak. Rosemary senang sekali. Sudah lama rasanya dia tidak tertawa lepas seperti ini. Damian satu-satunya orang yang dapat membuatnya merasa nyaman berbicara tentang apapun. Gadis itu tahu sahabatnya tersebut mempunyai hati yang tulus.
Tidak seperti Edward Fandi! cetus gadis itu dalam hati. Dia sudah pergi dari kehidupanku untuk selama-lamanya. Untuk selanjutnya aku harus jauh lebih berhati-hati dalam membina hubungan dengan orang-orang di kantor. Jangan sampai aku terperosok untuk yang kedua kalinya!
***
Rosemary memenuhi janjinya pada Martha. Bulan Desember dia pulang ke Balikpapan untuk merayakan Natal dan Tahun Baru. Gadis itu merasa tenang sekali menghabiskan liburannya di rumah kontrakan keluarganya yang baru. Sedikit lebih besar dan bentuknya lebih modern dibanding rumah kontrakan sebelumnya.
Martha dan adik-adik Rosemary juga kelihatan lebih berisi dan ceria. Makanan yang dihidangkan di atas meja melimpah dan bervariasi. Tidak melulu satu jenis masakan yang sama dan dimakan dari pagi hingga malam hari.
Selanjutnya ada berita baik. Olivia akan menikah tahun depan dengan pemuda yang serius menjalin hubungan dengannya selama satu tahun terakhir. Kekasih gadis itu anak orang kaya di Balikpapan. Ayahnya mempunyai perusahaan properti yang kerap membangun bangunan-bangunan komersial di kota itu.
“Apa Oliv nggak terlalu muda untuk menikah tahun depan, Ma? Masih dua puluh satu tahun kan umurnya,” kata Rosemary serius.
Dia sebenarnya tidak masalah adiknya itu menikah mendahului dirinya. Yang dikuatirkannya adalah kesiapan mental gadis itu.
“Orang tua pacarnya Oliv sudah datang menemui Mama, Rose. Mereka benar-benar menyukai Oliv dan ingin segera melamar adikmu itu.”
“Mama langsung menyetujuinya?”
Martha menggeleng. “Mama bilang mau merundingkannya dulu dengan Oliv. Ternyata anaknya mau. Ya udah, Mama bisa apa?”
Rosemary merasa heran. “Kok Mama secepat itu mengiyakan keinginan Oliv?” tanyanya ingin tahu.
Ibunya mendesah. Perempuan setengah baya itu lalu berkata, “Nama baik keluarga kita dulu sempat ternoda akibat perilaku papamu yang suka berjudi dan punya banyak hutang. Orang-orang menutup pintu saat kita membutuhkan pertolongan. Setelah melihat kita mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri, lambat-laun mereka mulai mau bergaul dengan kita kembali. Keluarga pacar Oliv itu kaya sekali, Rose. Belum tentu Oliv bisa memperoleh kesempatan sebaik ini lagi kalau menolak menjadi menantu mereka.”