Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Lelah



Kemudian Rosemary sampai pada satu kesadaran bahwa dirinya memang tidak berbakat menjadi pemimpin seperti Damian bahkan Teresa. Jiwanya tidak telaten dalam memotivasi agen untuk gigih meraih impiannya, mendengarkan keluh-kesah agen saat putus asa, membagi pengetahuan tentang asuransi dari nol sampai mahir, membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi agen dalam menghadapi nasabah, dan lain sebagainya.


Perempuan itu merasa waktu dua puluh empat jam sehari sangat kurang baginya untuk menyejajarkan kepentingan pribadinya dengan kepentingan tim. Dia ingin keluarganya segera terangkat dari kemiskinan dan kembali hidup nyaman seperti dulu. Mengurusi agen secara mendalam benar-benar membuat waktunya tersita. Dia jadi kehilangan peluang untuk menutup transaksi-transaksi besar karena susah mengatur waktu bertemu dengan nasabah.


Akhirnya Rosemary memilih jalan yang termudah baginya untuk cepat memperoleh uang dari bisnis ini. Yaitu single fighter menjual asuransi. Tak mengandalkan agen sama sekali. Karena itulah dia tidak punya tim sampai saat ini.


Agen-agen yang direkrutnya mundur teratur, Dia pun tak berusaha untuk memanggil mereka kembali. Rosemary merasa lebih nyaman bekerja sendiri karena pikiran dan perasaannya dapat diaturnya sesuai kemauan sendiri. Sedangkan pikiran dan perasaan agen sulit sekali diarahkannya.


“Aku yakin kamu memahami sepenuhnya apa yang kukatakan tadi, Rose,” pungkas Teresa kemudian. “Kamu orang yang pintar. Bahkan aku langsung terkesan begitu pertama kali melihatmu dibawa Edward datang ke kantor ini. Aku berkata padanya bahwa kamu waktu itu mengingatkanku pada diriku sendiri waktu awal-awal terjun di dunia asuransi. Aku meyakini kamu kelak akan mengikuti jejakku menjadi seorang manajer yang sukses. Kalau kamu tidak percaya, tanya saja sama Damian. Dia juga mendengar ucapanku waktu itu.”


Rosemary mengangguk  sambil tersenyum kecil. Sejujurnya dia ingin sekali angkat kaki dari ruangan Teresa itu. Perasaan kagumnya pada wanita itu lenyap seketika. Ternyata big boss yang kukagumi selama ini tak ubahnya seperti Jeslyn yang jiwa kompetisinya selalu menggebu-gebu! kecamnya dalam hati. Aku sudah lelah melakukan segala sesuatu demi kesenangan orang lain. Aku ingin berubah. Melakukan hal-hal yang benar-benar kunikmati dan demi kebahagiaan diriku sendiri!


“Oya,” sambung Teresa. “Aku dengar Edward sudah berhasil melepaskan diri dari kasus prostitusi artis CA itu. Dia mengeluarkan uang yang sangat banyak agar dibebaskan sementara CA tetap dituntut hukuman pidana. Biasa…harus selalu ada tumbal dalam setiap perkara agar keadilan seolah-olah ditegakkan. Tapi….”


Wanita itu terdiam selama beberapa saat lamanya. Dia seperti menunggu reaksi Rosemary yang duduk di hadapannya. Seperti biasa, bawahannya itu bersikap acuh tak acuh terhadap kasus yang menimpa Edward Fandi.


Teresa menyerah. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi dengan kedua orang itu. Pun dirinya tak ingin tahu, selama hal itu tak merugikan kantor yang dipimpinnya.


“Kudengar Edward mendapatkan tekanan di sana-sini untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja. Tak ada kompensasi apapun karena sejatinya dialah yang bersalah menjatuhkan reputasinya sendiri. Tak ada yang tahu apa yang dikerjakannya sekarang. Kabarnya dia sudah menjual rumah tinggalnya di Jakarta dan membawa keluarganya pindah ke luar pulau….”


Akhirnya…, cetus Rosemary dalam hati. Tuhan menunjukkan keadilanNya. Edward Fandi kehilangan reputasi dan karirnya yang dibangun mati-matian selama ini secara tidak terhormat. Dia bahkan sampai mengajak keluarganya pergi mengasingkan diri entah ke mana. Hebat sekali istrinya itu. Selalu setia mengikuti suaminya yang tidak senonoh kemanapun dia pergi….


Selanjutnya terdengar kembali petuah big boss, “Dari kisah Edward ini, kita bisa mengambil hikmah bahwa menjaga reputasi itu penting sekali. Jangan karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Kamu paham maksudku kan, Rose?”


Anak buahnya mengangguk. Dia tersenyum manis sekali lalu berkata, “Terima kasih banyak atas masukan-masukan Bu Teresa. Saya akan mencamkan-nya baik-baik.”


“Baguslah kalau begitu, Rosemary. Aku lega sekali mendengarnya. Semua yang ingin kukatakan sudah kamu dengar. Silakan lanjutkan aktivitasmu. Mau melihat-lihat toko buku yang baru buka di Surabaya Pusat, kan? Semoga berhasil menemukan yang kamu cari.”


“Terima kasih banyak, Bu Teresa. Saya permisi dulu.”


Big boss tidak tahu bahwa kepala Rosemary pening sekali setelah mendengar kata-katanya tadi. Perempuan itu membatalkan niatnya untuk mengunjungi toko buku. Dia hanya ingin pulang ke rumahnya sendiri. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk. Memejamkan mata rapat-rapat dan menikmati keheningan sendirian. Ya, sendirian…. Tanpa diusik orang-orang yang selalu mendorongnya untuk terus berprestasi dalam pekerjaannya.


***


Hari-hari selanjutnya Rosemary tidak keluar rumah sama sekali. Dia banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar tidurnya untuk menonton televisi ataupun browsing internet. Martha merasa heran dengan sikap putri sulungnya tersebut. Dia tahu walaupun kondisi kesehatan anaknya belum pulih, namun sebenarnya masih sanggup beraktivitas di luar ruangan.


Saat makan siang, wanita itu bertanya, “Kamu kok akhir-akhir ini nggak ke luar rumah, Rose?”


“Nggak ada kerjaan, Ma,” jawab Rosemary singkat. Dia menyuapkan sesendok sup asparagus ke dalam mulutnya. Hmm…pahit, komentarnya dalam hati. Ya sebenarnya sudah hampir tiga bulan ini lidahnya hanya dapat merasakan pahit saja meskipun sudah diberi makanan atau minuman paling manis sekalipun.


Ah, makanan enak sia-sia saja masuk ke dalam mulutku, pikirnya dongkol. Ditangkupkannya sendok dan garpu di atas piringnya. Pertanda dirinya sudah selesai makan.


“Kamu makan sedikit sekali, Nak. Badanmu tambah kurus, lho. Pipimu cekung sekali. Tulang-tulang lehermu mulai agak menonjol,” kata Martha prihatin. Dia benar-benar mencemaskan kesehatan putri pertamanya ini.


Rosemary mendesah. “Mau gimana lagi, Ma,” sahutnya pasrah. “Rose total sudah tiga kali ke dokter. Dikasih obat dan suplemen macam-macam nggak ada hasilnya semua. Abis-abisin duit aja.”


“Nggak boleh pasrah begitu, Rose. Kudu berikhtiar terus kalau mau sembuh. Atau Mama temani kamu periksa ke dokter di Singapore, yuk? Nanti Mama tanyakan sama teman Mama yang biasa check up di sana, siapa dokter internis yang bagus,” usul Martha penuh semangat.


Putrinya menatapnya dalam-dalam. Abis periksa ke dokter di Singapore terus gimana, Ma? batinnya menduga-duga. Apa Mama lanjut shopping?


Memang semenjak menempati rumah yang dibeli Rosemary ini, ibunya secara perlahan tapi pasti memulai gaya hidupnya lagi seperti waktu bergelimang harta di Balikpapan dulu. Sewaktu suaminya masih hidup. Dia beribadah di gereja yang megah dan jemaatnya rata-rata berasal dari golongan berada. Bergabung dengan persekutuan doa yang beranggotakan ibu-ibu sosialita  kota Surabaya.


Rosemary sebenarnya tidak keberatan ibunya bersosialisasi lagi. Namun karena orang-orang yang dipilihnya untuk bergaul termasuk golongan elit, otomatis pakaian dan aksesoris yang dikenakan Martha harus di-upgrade pula. Bukannya sang putri pelit terhadap ibunya. Namun dirinya kuatir penghasilannya tak selalu mencukupi untuk memenuhi selera ibunda tercinta.


Bagaimanapun juga rumah yang baru diangsurnya selama tiga tahun ini masih harus dilunasinya dalam dua tahun ke depan. Sekarang kondisi kesehatannya sedang tidak baik. Rosemary mulai berpikir untuk mengajak ibunya mulai bijak lagi mengatur keuangan.