
“Kamu pacarku, Rosemary Laurens. Orang yang paling kucintai. Wajar kan, aku ingin menyenangkan dirimu. Sudah, jangan nangis. Tuan Putri yang sedang berulang tahun kok malah bersedih,” ucapnya menghibur gadis itu.
Hati Rosemary benar-benar tersentuh. Dia merasa bersyukur mempunyai kekasih yang sangat perhatian seperti Edward. Mereka saat ini sedang makan malam romantis di apartemen. Seperti biasa laki-laki itu yang menyiapkan hidangannya sebagai kejutan. Kali ini menu yang dipilihnya adalah Italian food yang terkenal lezat olahan spaghetti-nya.
“I love you, Bang,” ucap si gadis lirih. “Jangan pernah tinggalin aku, ya.”
Edward tak menjawab. Dia hanya berkilah, “Udahlah, Sayang. Jangan ngomong yang nggak-nggak. Makan yuk, Birthday Girl.”
Rosemary menurut. Dia tak menangis lagi. Dinikmatinya makan malam romantis itu dengan penuh sukacita. Sesekali pasangan itu berbincang-bincang santai. Rosemary memuji kelezatan spaghetti, pizza, dan menu-menu Italia lainnya yang terhidang di atas meja makan. Edward tersenyum puas. Dia senang berhasil membuat sang kekasih bahagia di hari ulang tahunnya.
“Mama dan adik-adikku tadi pagi nelepon, Bang. Mereka sama-sama ngucapin Happy Birthday buatku,” kata gadis itu memberitahu. “Mama juga titip salam buatmu.”
“Oh, thank you,” sahut Edward singkat. “Titip salam balik buat mamamu, ya.”
Rosemary mengangguk. “Terus aku mesti jawab gimana kalau ada yang nanya berapa kubeli mobil Xenia itu dan simulasi angsurannya?”
Edward menjawab santai, “Itu soal gampang. Kamu bilang aja….”
Selanjutnya pria itu menguraikan besarnya uang muka dan angsuran yang sekiranya masuk akal sanggup ditanggung Rosemary berdasarkan penghasilannya saat ini. Gadis itu manggut-manggut mendengarkan pemaparan sang kekasih.
“Masuk akal kan, kalau kamu jawab sesuai arahanku tadi?” tanya laki-laki itu sembari tersenyum lebar. Raut wajahnya tampak berseri-seri. Rosemary mengangguk setuju.
“Oya, BPKB dan STNKnya sudah kusimpan di dalam laci tempat kamu biasanya menaruh barang-barang berharga. Semua dokumen itu atas namamu, Sayang. Mobil itu sudah lunas. Kuberi tunai, kok.”
Rosemary tersenyum bahagia. “Kenapa terpikir untuk membelikanku mobil, Bang?” tanya gadis itu ingin tahu.
“Aku nggak tega melihatmu kehujanan kalau naik motor terus-terusan, Sayang,” jawab pria itu semanis madu.
“Aku kan bisa naik taksi online sesekali, Bang,” kilah sang kekasih beralasan.
Edward menatapnya dalam-dalam. “Aku merasa nggak nyaman kamu menumpang mobil orang tak dikenal, Sayang. Lagipula sudah waktunya kamu mempunyai mobil sendiri. Penghasilanmu sebagai agen sudah meningkat pesat. Hal itu harus ditunjukkan melalui perubahan yang kelihatan jelas. Paling gampang ya dengan mobil baru. Jadi klien-klien yang kamu kunjungi bisa melihat perkembangan karirmu. Hali itu bisa meningkatkan kepercayaan mereka terhadap dirimu, lho.”
“Begitu ya, Bang? Profesi ini memang sangat membutuhkan penampilan yang sedap dipandang, sih.”
“Nah, kamu sudah merasakannya sendiri, kan? Pertama, karena klien akan lebih mudah mempercayakan uangnya dikelola agen yang tampak profesional. Kedua, agen akan lebih mudah merekrut anak buah kalau kelihatan jelas peningkatan income-nya di bisnis ini. Caranya tentu saja dengan menonjolkan penampilan dan gaya hidup yang semakin berkembang dari waktu ke waktu. Tahun depan lho, aku berencana menjual Camry-ku dan ganti dengan mobil baru.”
Pria di hadapannya menyeringai. “Lihat saja tahun depan, Say. Kalau kusebutkan sekarang, malah nggak surprise nanti.”
Rosemary tersenyum maklum. Apa aja deh yang membuatmu hepi, Bang, batin gadis itu tulus. Cuma…sampai kapan hubungan kita backstreet begini? Sudah hampir delapan bulan kita hidup bersama bagaikan suami istri. Bedanya kamu sekarang semakin jarang menginap. Seringkali pulang ke rumah menjelang tengah malam. Aku kok jadi merasa seperti…ah….perempuan simpanan….
“Malam ini aku menginap, Sayang,” cetus Edward membuat sang kekasih terkejut. Kok dia bisa membaca apa yang kupikirkan barusan, ya? pikir gadis itu keheranan. Namun hatinya menjadi tenteram tatkala laki-laki itu melanjutkan ucapannya, “Aku ingin menemani pacarku di hari spesialnya. I love you so much, Rosemary Laurens.”
Gadis itu benar-benar terbuai dengan bujuk rayu pria pujaan hatinya itu. Dia tak menyadari bahwa ini adalah perayaan hari ulang tahunnya yang pertama sekaligus terakhir kali bersama Edward Fandi.
***
Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Tak terasa sudah satu tahun lebih Rosemary menjadi agen asuransi. Kegigihan dan keuletannya bekerja berhasil mencapai target untuk dipromosikan sebagai manajer level pertama. Gadis itu juga diberi hadiah perjalanan wisata gratis ke London selama lima hari oleh kantor pusat Jakarta.
Sebagai manajer, Edward memperoleh hadiah yang lebih fantastis, yaitu perjalanan wisata selama. dua minggu keliling Inggris dan Perancis. Dia dan kekasihnya berangkat pada hari yang sama namun menumpang pesawat yang berbeda sesuai level keagenan mereka.
Rosemary naik pesawat yang sama dengan Damian. Sedangkan Edward digabungkan dengan manajer-manajer senior yang selevel dengannya. Meskipun kecewa karena tidak bisa berada di pesawat yang sama dengan sang kekasih, Rosemary agak terhibur dengan kehadiran Damian di sisinya. Edward kini tak lagi melarangnya berdekatan dengan laki-laki itu semenjak dirinya memperoleh informasi tentang siapa diri Damian yang sebenarnya.
“Damian itu gay,” katanya memberitahu Rosemary suatu hari.
Gadis itu terperangah. Dia tak percaya pada pendengarannya barusan. Edward menyeringai. Dia lalu menuturkan, “Temanku di gym bilang bahwa saudara sepupu laki-lakinya pernah menjalin hubungan serius dengan Damian. Tapi terus ketahuan oleh keluarganya. Akhirnya dia dipaksa untuk putus dan dinikahkan dengan gadis pilihan orang tuanya.”
Rosemary melongo. “Apakah kata-kata temanmu itu dapat dipercaya, Bang? Jangan-jangan itu cuma gosip,” tukas gadis itu berusaha membela sahabatnya.
Edward menggeleng. “Aku tahu persis sifat temanku itu, Rose. Dia nggak akan berbohong untuk hal-hal seperti ini. Aku juga kenal sepupunya itu, kok. Memang kelihatan sih, kalau penyuka sesama jenis. Mungkin dia yang berperan sebagai pihak wanita, sedangkan Damian sebagai prianya. Hehehe….”
“Terus akhirnya orang itu menikah?” tanya Rosemary penasaran.
Kekasihnya mengangguk. “Tentu saja dia menurut pada orang tuanya. Kalau nggak, namanya bakal dicoret dari daftar pewaris harta keluarga,” jelasnya enteng. “Papanya itu konglomerat ternama di kota ini, Rose. Makanya dia lalu menggunakan pengaruhnya pada orang-orang kaya yang selevel dirinya agar tidak mengambil polis dari Damian. Orang itu benci sekali pada sahabatmu itu, Sayang. Dia menganggap Damianlah yang mempengaruhi anaknya menjadi penyuka sesama jenis.”
“Kasihan,” cetus gadis itu spontan. “Padahal Damian itu orang baik. Pantas dia selalu memprospek orang-orang dari kalangan menengah. Rupanya itu alasannya.”
“Betul,” kata Edward membenarkan. “Kota Surabaya ini kecil sekali ruang lingkupnya. Gampang sekali bagi seseorang yang kayanya gila-gilaan untuk menjatuhkan reputasi orang yang tak disukainya. Tapi Damian itu hebat juga. Meskipun mendapatkan berbagai rintangan, dia akhirnya berhasil menciptakan pangsa pasarnya sendiri, yaitu orang-orang kelas menengah. Kalaupun ada orang kaya tapi bukan yang kaum sosialita kota ini.”