
Ketika Rosemary keluar dari dalam kamar mandi, Edward menatap gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Kamu keren sekali pakai baju begini, Say,” puji pria itu terus terang. Bibirnya menyungging senyuman lebar.
“Ini bukan baju, Bang,” protes si gadis sewot. “Nggak berani aku memakainya di depan umum.”
“Ya memang tujuannya supaya kamu memakainya di depanku saja,” komentar Edward sembari tergelak. “Mana aku rela orang lain melihat inimu!”
Dicubitnya ujung bukit gadis itu yang menyembul dengan indahnya dari kaos putih tipis yang dikenakannya. Rosemary menjerit kesakitan. Dia langsung menutupi bagian yang menggoda mata kaum adam itu dengan kedua tangannya.
Edward langsung komplain. “Nggak usah ditutup begitu, ah. Jelek. Toh, aku sudah melihatmu dalam keadaan lebih polos dari ini,” cetusnya sambil melepaskan kedua tangan Rosemary yang menyilang di bagian depan tubuhnya.
“Tapi janji! Nggak boleh cubit-cubit kayak gitu lagi. Sakit tahu!” tukas si gadis sambil merajuk.
Sang kekasih terkekeh. Dia lalu merangkul Rosemary mesra. Diajaknya gadis itu keluar dari kamar dan menuju ke meja makan. “Aku lapar sekali, Say. Makan, yuk.”
Rosemary mengangguk. Dan mereka pun menikmati makan malam bersama yang romantis.
***
Semenjak pecah telor pertamanya yang berbuah tiga polis tersebut, Rosemary semakin giat bekerja. Rasa percaya dirinya tumbuh. Dia tak segan-segan memprospek siapapun yang ditemuinya. Penolakan tak membuat gadis itu patah arang. Bahkan saking seringnya berbicara mengenai pentingnya perencanaan keuangan sejak dini, kemampuan berkomunikasi gadis itu semakin luwes.
Apalagi dia sekarang tinggal di apartemen yang disewa Edward. Laki-laki itu bermalam di sana seminggu tiga kali. Kebersamaan mereka yang semakin intens dimanfaatkan gadis itu untuk berkonsultasi lebih mendalam tentang masalah-masalah yang ditemuinya di lapangan.
Sang kekasih dengan cerdas dan penuh kesabaran memberikan solusi atas persoalan-persoalan yang dihadapi gadis itu. Rosemary mendengarkannya dengan konsentrasi penuh. Terkadang gadis itu mencatat hal-hal yang dianggapnya penting untuk dipelajari kembali.
Edward benar-benar seorang manajer yang berpengalaman. Semua kendala yang dihadapi kekasihnya dapat diberikan jalan keluar olehnya dengan gamblang dan logis. Meskipun tidak semua permasalahan dapat diselesaikan saat itu juga. “Bagaimanapun juga tetap ada campur tangan Yang Di Atas yang tak terjangkau oleh tangan-tangan manusia,” kata pria itu selalu.
“Seperti yang Damian pernah bilang sama aku juga, Bang,” cetus Rosemary teringat nasihat sahabatnya itu. “We just do the best. Then let God do the rest,” ucapnya dengan mata berbinar-binar.
Edward langsung merangkul mesra kekasihnya. Dikecupnya pipi gadis itu lalu berkata setengah merajuk, “Jangan terlalu dekat sama laki-laki lain, Say. Aku bisa cemburu.”
Rosemary nyengir senang. Disentuhnya pipi manajer sekaligus pria yang dicintainya itu lembut. “Masa kamu bisa cemburu sama Damian, Bang? Kan dia sesama orang kantor. Teman kita sendiri,” ujarnya sambil tersenyum manja.
Sang kekasih langsung mengerutkan dahinya. “So what? Dia kan cowok juga, Rose. Ada kemungkinan suka sama kamu kalau kalian terlalu dekat, kan? Masa setiap meeting mingguan di kantor dia selalu duduk di sebelahmu. Aku merasa nggak nyaman melihatnya,” komplain Edward sembari mengelus-elus paha mulus gadis itu.
Malam itu Rosemary mengenakan rok putih berbahan denim yang sangat mini. Ia memadu-madankannya dengan tank top tipis berwarna coklat muda yang sangat ketat menempel pada tubuh rampingnya. Seperti biasa jika ada Edward, dia selalu tidak mengenakan pakaian dalam. Bagian depan tubuhnya tampak menggoda dengan ujung-ujung mungil yang menembus kain tank top yang dipakainya.
Gadis itu kini sudah terbiasa membeli pakaian seperti itu demi menyenangkan hati kekasihnya. Kalau Edward tidak ada di apartemen, dia langsung mengganti pakaian yang dikenakannya dengan yang lebih tertutup dan nyaman.
Edward mendesah. Ekspresi wajahnya berubah menjadi sedih. Rosemary tak tega melihatnya. Dia memang tak pernah menanyakan sampai sejauh mana proses perceraian kekasihnya ini. Gadis lugu itu percaya sepenuhnya pada pria yang dianggapnya sebagai penolongnya di masa dirinya susah.
“Sori, sori,” katanya cepat sembari mengelus-elus pipi sang kekasih. “Aku sudah kelewatan ya ngomongnya. Maafkan aku, Bang.”
“Nggak kumaafkan!” sergah Edward tegas.
“Lho, kok gitu?” cetus si gadis heran. “Terus aku mesti gimana supaya kamu memaafkanku?”
“Aku haus.”
“Ya udah. Kuambilin minum, ya.”
“Nggak usah.”
“Lho, kok?”
“Aku mau minum ini!”
Secepat kilat Edward menyingkapkan tank top yang dikenakan kekasihnya. Dengan rakus dilahapnya salah satu bukit aset Rosemary. Gadis itu cengengesan melihat kelakuan kekasihnya yang sedang menginjak puber kedua. Dipejamkannya matanya menikmati sentuhan penuh hasrat laki-laki itu. Tangannya tak mau kalah turut menstimulasi bagian-bagian sensitif tubuh Edward yang telah dipahaminya dengan sangat baik.
Demikianlah acara konsultasi malam itu diakhiri dengan hubungan intim yang memabukkan sebagaimana malam-malam sebelumnya.
***
Pada hari ulang tahunnya yang ke dua puluh enam tahun, Rosemary mendapatkan hadiah mobil Xenia berwarna hitam dari Edward.
Rosemary seakan tak percaya melihat kekasihnya itu mengeluarkan dua set kunci mobil dan meletakkannya di atas meja makan, tepat di hadapannya. Kedua kunci mobil itu diikat dengan pita berwarna merah muda yang sangat manis dan bertuliskan I Love U.
“Kok kamu diam aja, Sayang?” tanya laki-laki itu menyaksikan sang kekasih masih terpana memandangi hadiah darinya. “Kamu nggak suka kuberi hadiah ulang tahun mobil Xenia? Sori, memang nggak sebagus dan semahal Expander punyamu dulu. Cuma kupikir kalau kamu sekarang naik Expander ke kantor, orang-orang akan heran kamu memperolehnya dari mana? Kalau Xenia kan mereka masih bisa percaya kamu sanggup membelinya dari penghasilanmu sendiri meski dengan cara kredit….”
Selama delapan bulan menekuni bisnis asuransi, prestasi Rosemary memang terbilang luar biasa. Setiap bulan dia sedikitnya menghasilkan lima polis dengan nominal premi yang variatif. Berkat bimbingan Edward, gadis itu kian terlatih menutup transaksi dari nasabah yang telah berkeluarga. Jadinya polis yang dibeli kliennya itu biasanya lebih dari satu.
“Bu…bukan itu maksudku, Sayang,” cetus Rosemary terharu. Matanya berkaca-kaca. “Aku…aku cuma merasa hadiah darimu ini terlalu berlebihan. Aku sudah kamu beri tempat tinggal yang nyaman, biaya hidup bulanan yang lebih dari cukup, terus sekarang ditambah sebuah mobil! Aku sampai merasa siapa aku ini kok bisa dianugerahi keberuntungan yang begitu besar….”
Edward langsung bangkit berdiri. Didekatinya gadis yang duduk di hadapannya itu. Dipeluknya tubuh Rosemary erat-erat.