Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Berkunjung ke Kantor Edward



“Gimana kalau setelah ini kamu kuajak melihat-lihat kantor tempatku bekerja? Supaya wawasanmu semakin terbuka mengenai bisnis asuransi,” usul Edward sembari tersenyum manis sekali, Rosemary jadi semakin sungkan. Sudah dibantu menjualkan mobil dengan harga tinggi dan ditraktir makan enak, masa mau menolak permintaan sesederhana itu? cetus gadis itu dalam hati.


Mau tak mau dia mengangguk. Edward senang sekali. “Good, Rose. Mumpung masih muda, kamu harus mempertimbangkan segala peluang di depan mata. Ingat, kesempatan emas jarang datang dua kali. Begitu kamu melewatkannya, orang lain yang akan menggantikan dirimu meraih kesuksesan!”


Gadis itu meringis. Dia tak mengerti maksud perkataan pria ini. Bagaimana dia bisa begitu yakin aku mampu mengikuti jejak kesuksesannya di bidang yang sama sekali asing bagiku? ucap hati kecilnya penuh tanda tanya.


“Maafkan saya sebelumnya, Om,” katanya hati-hati. “Kalau setelah melihat-lihat kantor Om saya masih ragu-ragu untuk bergabung, mohon dipahami. Saya ini kurang banyak pengalaman dalam bekerja. Apalagi di bidang marketing….”


“It’s ok. Ini bukan pertama kalinya seorang gadis sepertimu ragu-ragu terjun ke bisnis asuransi. Justru yang seperti kamu inilah yang biasanya sukses, Rose. Karena tak mudah mengambil keputusan. Selalu mempertimbangkan segala sesuatunya baik-baik. Tapi begitu tekad sudah bulat, kamu pasti akan berusaha semaksimal mungkin agar keinginanmu tercapai!”


Sorot mata Edward tampak menyala-nyala. Nada suaranya begitu berapi-api. Jiwa kepemimpinan orang ini tinggi sekali, puji Rosemary dalam hati. Semoga saja apa yang dikatakannya benar. Aku tak mau mengecewakan orang sebaik ini.


Demikianlah, setelah menghabiskan hidangan masing-masing, Edward langsung menyelesaikan pembayaran dan mengajak gadis anak mantan nasabahnya itu berkunjung ke kantor asuransi tempatnya bekerja.


***


“Wah, kantornya megah sekali ya, Om,” puji Rosemary menyaksikan gedung yang menjulang tinggi di hadapannya. Lahan parkirannya pun luas, kita-kira mampu menampung lima puluh buah mobil.


Tiba-tiba dahi gadis itu berkerut. Dia sepertinya teringat sesuatu. “Maaf, Om. Kalau tidak salah, bukankah tempat ini dulunya bekas showroom dan bengkel mobil, ya? Sudah lama mangkrak dan tak terawat. Eh, ternyata sekarang sudah berubah menjadi gedung sekeren ini.”


Edward mengangguk membenarkan. “Betul, Rose. Ini memang bekas showroom dan bengkel mobil. Sudah lama disita bank karena bangkrut. Bertahun-tahun nggak laku. Akhirnya Bu Teresa, pemilik kantorku yang membelinya. Gedung lama diambrukkan lalu dibangun gedung baru tiga lantai yang sekarang kamu lihat ini. Bagus, kan? Ayo, kita masuk.”


Rosemary mengikuti laki-laki itu memasuki pintu kaca. Mereka langsung berhadapan dengan meja resepsionis yang mewah seperti dalam salon kecantikan. “Selamat sore, Pak Edward,” sapa seorang gadis berjilbab coklat muda sambil tersenyum.


“Selamat sore, Indah,” sahut pria itu ramah. “Bu Teresa ada?”


“Ada, Pak. Sejak tadi beliau tidak ke luar kantor.”


“Oh, ok kalau begitu. Nanti jam enam malam ada kelas apa, ya?”


“Kelas pengenalan bisnis untuk agen baru, Pak. Bu Teresa yang akan menjadi pembicaranya langsung.”


“Wow, tumben. Jarang-jarang beliau turun langsung menangani kelas.”


“Iya, Pak. Katanya mau nostalgia. Mengenang masa-masa saat baru menjadi agen dulu. Hehehe….”


Edward menoleh pada gadis yang dibawanya. “Nah, Rose. Kamu beruntung sekali mau kuajak kemari hari ini. Ternyata bos besar yang nanti akan membawakan langsung kelas untuk agen baru. Kamu ikut, ya. Mulai jam enam petang. Cuma dua jam saja, kok. Habis itu aku ajak kamu makan malam sambil sekalian kuantar pulang ke kos. Gimana? Setuju, kan?” pintanya bertubi-tubi. Wajahnya tampak berseri-seri. Senyumnya ceria sekali, membuat Rosemary lagi-lagi tak enak menolak permintaannya.


“Lho, jangan manyun gitu dong, mukanya. Kayak terpaksa gitu. Tenang aja. Kelasnya nanti menarik, kok. Nggak formal dan membosankan kayak kuliah! Hehehe….”


Baik Rosemary maupun si resepsionis tertawa geli mendengar lelucon pria itu. Edward memang pandai sekali mencairkan suasana. Dengan luwes dia lalu memperkenalkan Rosemary pada Indah.


“Selamat datang ke kantor kami, Mbak Rosemary,” sapa gadis berjilbab itu ramah. “Mudah-mudahan Mbak betah di sini.”


“Terima kasih, Mbak Indah,” jawab Rosemary agak sungkan. Aku lho, belum memutuskan akan bergabung atau tidak di kantor ini, cetusnya dalam hati.


Selanjutnya gadis itu diajak Edward melihat-lihat segenap penjuru kantor tersebut. Lantai satu terdiri dari beberapa ruangan yang semuanya ditutup dengan pintu kaca. Edward menunjukkan tiga ruangan yang bentuknya mirip dan berukuran sekitar dua kali tiga meter persegi. Di dalam tiap ruangan tersebut ada sebuah meja berukuran sedang yang dikelilingi empat kursi.


Menurut Edward ruangan-ruangan tersebut biasanya dipakai untuk menerima tamu. “Kadang-kadang dipakai juga oleh manajer untuk berbicara secara one on one dengan anak buahnya,” timpalnya kemudian.


Selanjutnya ada sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat lemari besar dengan rak-rak yang penuh dengan buku-buku dan berkas-berkas dokumen. Ruangan itu dikunci dari luar. “Tempat ini adalah ruang arsip sekaligus perpustakaan. Biasanya ada satu orang karyawati yang bertugas di dalam. Barangkali dia sekarang sedang ada keperluan keluar sebentar sehingga ruangannya dikunci. Setiap agen bisa meminjam buku di sini untuk dibawa pulang. Atau melihat-lihat berkas untuk difotokopi. Itu ada mesin fotokopinya di dalam,” papar Edward panjang-lebar.


Rosemary mengangguk. Dia suka sekali melihat penataan buku-buku dan arsip ruangan tersebut. Kelihatan sangat rapi dan teratur.


“Lalu ini toilet umum. Disediakan dua ruangandi setiap lantai , supaya nggak antri. Hehehe…,” canda Edward sambil membuka kedua pintu toilet beserta lampunya.


“Bersih sekali, Pak,” puji Rosemary apa adanya. Seperti kamar mandi rumah sendiri, batin gadis itu. Terawat dan harum sekali!


“Yah, Bu Teresa setiap hari selalu inspeksi kebersihan kantor ini. Terutama toilet. Hehehe…. Mungkin karena perempuan, ya. Jadi lebih peduli dengan kebersihan dan kerapian.”


“Betul, Om. Kantor saya yang dulu pemiliknya laki-laki. Nggak begitu peduli sama kebersihan dan kerapian. Pokoknya kegiatan operasional berjalan lancar, ya sudah.”


Edward sontak memandang gadis itu penuh arti. “Nah, kamu nanti bisa bertemu langsung dengan Bu Teresa, orang nomor satu di kantor ini. Banyak hal yang bisa kamu teladani dari beliau. Jangan sungkan-sungkan bertanya kalau nanti tidak mengerti di kelas, ya. Bu Teresa suka orang yang aktif. Beliau juga mempunyai kemampuan menilai mana orang yang berbakat menjadi seorang agen besar dan tidak.”


Rosemary jadi merasa terbeban mendengar kalimat-kalimat yang dilontarkan agen asuransi senior itu. Aku kok merasa Om Edward sengaja menggiringku hari ini untuk bertemu dengan bosnya, ya? pikir gadis itu menduga-duga. Seolah-olah dia hendak memastikan aku akan benar-benar bergabung sebagai agen di bawahnya.


Selanjutnya pria tampan itu membawa gadis itu ke sebuah ruangan besar yang bertuliskan Administrasi.


“Ruangan ini dipakai oleh pegawai-pegawai administrasi yang digaji oleh Bu Teresa. Mereka akan membantu para agen yang belum mempunyai sekretaris sendiri untuk mempercepat proses pengajuan asuransi, klaim, penarikan dana investasi, dan lain-lain.”


Dahi Rosemary berkerut mendengar penjelasan Edward barusan. “Maksudnya gimana, Om? Saya kurang paham. Apakah suatu saat nanti seorang agen harus mempunyai sekretaris sendiri?” tanyanya meminta penjelasan.