Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Saling Curhat



“Bolehkah aku memanggilmu Rosemary langsung tanpa embel-embel Nona? Karena kita akan sering bertemu di panti ini. Rasanya lebih enak kalau bersikap sebagai teman daripada dokter dengan pasien, kan?” cetus pria itu sembari menatap hangat wanita di hadapannya.


Rosemary mengangguk mengiyakan. “Kalau begitu aku juga memanggilmu Christopher saja, ya?” tanyanya meminta persetujuan.


“Chris saja,” sahut lawan bicaranya. “Lebih singkat dan praktis.”


“Ok, Chris.”


Sang dokter mengangguk senang. Dia lalu berkata, “Kamu masih ingat nggak, Rose? Waktu aku merekomendasikan Dokter Mirna dulu, aku sempat bilang bahwa ada seseorang yang pernah mengalami gangguan psikosomatis sama persis denganmu. Orang itu sembuh setelah beberapa bulan terapi dengan Dokter Mirna….”


Rosemary mengangguk. “Iya, aku ingat,” jawabnya pendek.


“Orang itu…aku sendiri,” aku Christopher terus terang. Sorot matanya memancarkan kesungguhan. Wanita di hadapannya terhenyak tak percaya. Alangkah sempitnya dunia ini! pikir Rosemary takjub. Aku dipertemukan dengan orang yang pernah mengalami gangguan psikosomatis yang sama denganku!


Christopher melanjutkan kata-katanya, “Aku mengalaminya lima tahun yang lalu. Menderita sekali rasanya. Aku hampir saja bunuh diri. Tapi kemudian almarhumah istriku mendatangiku dalam mimpi. Dia memintaku agar merelakan kepergiannya dan anak kami. Lalu aku terbangun dan tergerak untuk konseling pada psikiater. Dokter Mirna menjadi pilihanku karena dia psikiater yang paling senior di rumah sakit tempatku praktik.”


Almarhumah istri? pikir Rosemary. Jadi dia sudah punya istri tapi meninggal dunia? Itukah yang menyebabkan orang ini mengalami depresi?


Seolah-olah memahami pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam benak wanita itu, Christopher mulai bercerita, “Istriku meninggal dunia waktu sedang hamil enam bulan. Dia bersama pembantu kami naik taksi online menuju ke mal. Sayangnya pengemudinya sedang ada masalah sehingga tidak berkonsentrasi menyetir. Di tengah jalan dia mengerem mendadak sehingga terjadi tabrakan beruntun. Istriku mengalami pendarahan hebat dan meninggal waktu dilarikan ke rumah sakit. Anak kami berhasil dikeluarkan melalui operasi caesar. Tapi sayangnya tidak bertahan hidup karena berat badannya terlalu kecil….”


Dokter tersebut terdiam sejenak. Pandangannya menerawang ke langit-langit ruang tamu,  mengenang kejadian naas tersebut.


“Nggak perlu diteruskan kalau kamu nggak sanggup, Chris,” kata Rosemary memahami.


Lawan bicaranya menggeleng pelan. Dia terkekeh. “Luka batinku sudah pulih sepenuhnya, Rosemary. Terapi rutin dengan Dokter Mirna dan melakukan pelayanan di panti ini membuat gangguan psikosomatis yang kuderita sembuh. Ternyata kuncinya adalah berdamai dengan diri sendiri, menerima kenyataan dengan lapang dada, dan menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini tak ada yang sempurna maupun abadi….”


Rosemary berusaha mencerna baik-baik kata-kata bijak yang dilontarkan Christopher barusan. Berdamai dengan diri sendiri. Menerima kenyataan dengan lapang dada. Menyadari bahwa tak ada yang sempurna maupun abadi.


“Setelah sembuh, aku masih rutin melakukan pelayanan di sini. Aku merasakan kedamaian yang sejati saat berkumpul bersama anak-anak berkebutuhan khusus yang genuine. Bersih, murni, tulus, dan tanpa intrik yang biasanya sering kita temukan pada orang-orang normal. Bagiku anak-anak spesial adalah  malaikat-malaikat tanpa sayap yang dikirim Tuhan ke dunia. Jadi bumi ini tidak terlalu kotor dengan tipu daya manusia-manusia yang menganggap diri mereka normal.”


Christopher menyeringai. “Beginilah diriku, Rose. Di depan pasien tentu saja aku nggak bisa berkata demikian. Tapi karena kamu kuanggap teman, maka aku nggak malu-malu lagi menyatakan pendapatku,” katanya terus terang. “Waktu kamu datang memeriksakan diri dulu, aku kaget sekali mengetahui gangguan yang kamu alami sama persis dengan yang kuderita dulu. Aku merasa ini bukan suatu kebetulan. Tuhan pasti punya maksud tertentu mempertemukan kita berdua. Makanya aku tetap memantau perkembanganmu lewat Dokter Mirna….”


“Hah?” seru Rosemary tak percaya. Matanya terbelalak. “Yang benar saja, Chris! Kamu memata-mataiku?”


“Bukan memata-matai,” sanggah pria itu. “Aku cuma penasaran bagaimana nasibmu selanjutnya. Karena seumur-umur baru kali ini aku menemukan orang yang gangguan psikosomatisnya persis denganku dulu. Pasienku sendiri lagi!”


“Jangan-jangan kamu yang mengusulkan pada Dokter Mirna agar menggiringku datang ke panti ini,” tuduh Rosemary.


Christopher menggeleng. “Sama sekali nggak. Aku cuma menanyakan bagaimana perkembanganmu. Itu saja. Sama sekali tak ada masukan apapun dariku. Dokter Mirna sendiri seorang psikiater profesional. Dia menjalankan kode etik kedokteran dengan sungguh-sungguh. Dia cuma bilang kondisimu mulai membaik, tapi karena suatu hal kerongkonganmu terasa terbakar lagi. Lalu tercetus keinginanmu untuk melakukan kegiatan sosial. Dokter Mirna memintaku agar mendampingimu melakukan pelayanan di panti ini. Aku langsung setuju,” papar dokter itu panjang lebar.


Begitu rupanya, batin Rosemary mulai memahami duduk persoalannya. Kalau begitu, dia sama sekali belum mengetahui hal-ikhwal gangguan psikosomatis yang kualami.


“Chris,” ucapnya lirih. “Kamu sudah menceritakan penyebab lidahmu dulu terasa pahit, kerongkongan panas, dan perut mual. Kurasa akan lebih fair kalau aku pun melakukan hal yang sama.”


“Jangan lakukan kalau kamu belum siap, Rose,” kata laki-laki itu mengelak. “Tunggu sampai waktunya tiba saja. Aku juga tidak perlu mengetahuinya, kok. Yang penting kita bisa berteman dan bahu-membahu menjalankan pelayanan di tempat ini.”


Mantan pasiennya itu tersenyum manis. “Aku harus melakukannya, Chris,” katanya tegas. “Demi berdamai dengan diriku sendiri. Menerima kenyataan. Dan memahami bahwa di dunia ini tak ada yang sempurna maupun abadi. Yah, sesuai nasihatmu tadi….”


Kemudian wanita yang semakin matang itu mengungkapkan masa lalunya bersama Edward Fandi. Tak ada air mata sebagaimana waktu dia menuturkannya pada Dokter Mirna. Kali ini dia bercerita dengan tenang. Pun penyesalan masih tersirat pada kata-kata yang dilontarkannya.


“Kalau kupikir-pikir sekarang, penderitaanku ini tak setimpal dengan kepedihan yang dirasakan istri Edward Fandi jika saja dia mengetahui hubungan terlarang kami dulu,” ucapnya sendu. “Entah bagaimana caranya aku meminta maaf pada wanita itu. Aku benar-benar berdosa padanya.”


“Doakanlah kebahagiaannya selalu, Rose,” saran Christopher. “Tak perlu kamu menemui apalagi  meminta maaf padanya. Hanya akan membuka luka lama. Belum tentu  dia juga mengetahui hubungan spesialmu dengan suaminya. Siapa tahu Tuhan sengaja menutupinya untuk mengurangi penderitaan batin wanita itu? Bapa kita di surga itu suka bekerja dengan caraNya sendiri, yang tak terselami oleh akal budi manusia….”


Rosemary tersenyum mendengar kalimat-kalimat Christopher yang terdengar begitu bijaksana. “Begitukah menurutmu, Chris?” tanyanya memastikan. “Tuhan menutupi kebenaran dari wanita itu agar dia tak terlalu menderita?”


“Siapa tahu memang itu yang dikehendaki Tuhan, Rose. Buktinya kamu sama sekali tidak diganggu gugat waktu setahun lebih berpacaran dengan suaminya! Entah si istri memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Yang penting hubungan kalian aman-aman saja sampai laki-laki itu sendiri yang menghancurkannya. Mungkin Tuhan sengaja membiarkan hal itu terjadi supaya kamu akhirnya menyadari kebejatan orang itu!”