
“Aku sudah lama sekali nggak kontak sama Bang Edward,” katanya setiap kali menanggapi pertanyaan sok ingin tahu yang diajukan kepadanya. “Semenjak dia pindah ke kantor asuransi lain di Jakarta. Yah, maklumlah. Kita semua kan sama-sama sibuk. Perusahaan selalu mengeluarkan challenge baru yang harus dicapai. Jadi ya, aku harus memprioritaskan pekerjaanku sendiri daripada sibuk membicarakan hal-hal yang nggak berguna.”
Setelah berkata demikian, biasanya wanita itu langsung pergi meninggalkan kerumunan orang-orang kepo itu. Terkadang kalau ada Damian di dekatnya, dia langsung menghampiri sahabatnya itu dan mengajaknya mengobrol.
Martha dan Nelly sendiri yang dapat merasakan ketidaknyamanan Rosemary dalam menanggapi isu video viral Edward berusaha menjaga sikap. Tak pernah sekalipun tercetus pertanyaan mengenai mantan manajer Rosemary tersebut dari mulut ibu dan anak itu. Bagi mereka Rosemary selama ini telah menjalankan perannya sebagai tulang punggung keluarga dengan baik. Oleh karena itu alangkah baiknya jika tidak melakukan hal-hal yang membuat hatinya merasa tidak senang.
***
Selama perjalanan tur gratis selama dua minggu itu, Rosemary bisa dikata tak terlalu menikmatinya. Selain jengah dengan kasak-kusuk tentang Edward, kondisi kesehatannya semakin menurun. Dia mudah merasa lelah. Perutnya selalu mual setiap hari. Perempuan itu berusaha memuntahkan isi perutnya namun tak ada yang berhasil dikeluarkan. Martha dan Nelly bergantian mengeroki punggungnya namun tidak begitu merah hasilnya.
“Kamu sebenarnya kenapa, Nak?” tanya Martha keheranan. “Badanmu nggak meriang sama sekali. Makanya dikeroki ya nggak terlalu merah. Tapi katamu perutmu mual. Jangan-jangan kamu terkena penyakit asam lambung?”
“Nggak tahu deh, Ma,” kata putri sulungnya itu lemas. “Mama tahu, bukan perutku saja yang sekarang bermasalah. Tapi lidahku juga.”
“Hah? Lidahmu memangnya kenapa, Rose?”
“Lidah Rosemary pahit sekali, Ma. Jadi makan apapun nggak terasa nikmatnya. Minum jus buah saja terasa pahit. Aneh sekali, kan?”
Martha termangu mendengar penuturan anaknya itu. Dia menghela napas panjang lalu berkata, “Coba kamu keroki lidahmu pelan-pelan pakai sendok, Rose. Siapa tahu rasa pahit itu akan hilang. Kalau belum lenyap juga, Mama rasa sepulang dari tur ini kamu harus segera memeriksakan diri ke dokter.”
Anaknya mengangguk setuju. Dia memang berencana akan berkonsultasi pada dokter spesialis penyakit dalam mengenai kondisi tubuhnya yang dirasakannya tidak wajar lagi itu. Sepertinya semua keanehan pada badanku ini terjadi semenjak aku mengetahui kabar tidak sedap tentang Edward Fandi, batin perempuan itu mengambil kesimpulan. Rupanya benar artikel kesehatan yang dulu pernah kubaca. Bahwa kesehatan psikologis itu berpengaruh besar terhadap kesehatan fisik. Ya Tuhan, mudah-mudahan gangguan yang terjadi pada tubuhku ini hanya bersifat sementara saja. Semoga aku lekas sembuh. Amin.
***
Sepulangnya dari tur tersebut, Rosemary menimbang berat badannya. “Turun dua kilo,” ucapnya resah. “Padahal biasanya berat badanku selalu naik setiap kali jalan-jalan ke luar negeri. Ini kok malah turun. Haiz….”
Rosemary menghela napas panjang. Tentu saja penyebab dia merasa gundah seringkali akibat masalah pekerjaan. Hampir sepuluh tahun dia menggeluti bisnis asuransi. Bisnis yang telah mengangkat namanya serta harkat dan martabat keluarganya sehingga memperoleh taraf hidup yang lebih baik. Namun di lain pihak, dirinya juga jenuh dengan segala tekanan yang dirasakannya.
Setiap tahun kantor pusat Jakarta selalu mengeluarkan tantangan-tantangan baru yang harus dilampaui para agen maupun manajer. Bentuknya macam-macam. Bisa produk-produk baru yang harus segera dikuasai dan dijual pada nasabah dalam waktu singkat, target omzet baru yang semakin membubung tinggi, serta penalti yang dikenakan pada agen dan manajer apabila tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan.
Aura kompetisi dikobarkan secara terang-terangan pada tiap-tiap kantor sehingga Rosemary sudah tak lagi merasakan nikmatnya meraih prestasi. Dulu dia berambisi sekali menjadi yang terbaik demi mencapai penghasilan yang tinggi. Tujuannya agar mampu membuat keluarganya hidup berkecukupan. Setelah sekarang dirinya mampu membuktikan hal itu, ambisi itu lambat-laun luntur dan berganti dengan kejenuhan yang teramat sangat.
Perempuan itu menyadari bahwa prestasinya mampu melampaui kolega-koleganya di industri ini bukan karena dia luar biasa cerdas dan berbakat sebagai marketing. Namun karena dia mencurahkan segenap pikiran, hati, kemampuan, tenaga, dan waktunya hanya untuk memajukan karirnya di bidang asuransi. Dirinya masih lajang. Tanggungannya hanyalah keluarganya yang sudah dewasa dan mampu mengurus dirinya sendiri. Tak begitu membutuhkan kehadirannya di tengah-tengah mereka.
Yang penting uang rutin masuk ke dalam rekening Martha dan ibunya itu akan mengatur pengeluaran keluarga sehari-hari serta bagi dirinya sendiri. Terkadang Rosemary mentransfer sejumlah uang juga ke dalam rekening pribadi Nelly demi menyenangkan hati adik bungsunya itu.
Untuk dirinya sendiri, wanita itu tak banyak berbelanja. Pokoknya cukup untuk membuatnya terlihat rapi dan sopan saat bertemu dengan nasabah maupun rekan-rekan di kantor. Dia memang lebih suka menginvestasikan uangnya pada instrumen keuangan seperti reksa dana atau emas daripada membeli baju, aksesoris, maupun kosmetik mahal untuk dirinya sendiri. Perawatan di salon maupun tempat kecantikan lainnya hanya dilakukan Rosemary sesekali saja demi membuat penampilannya tampak sedap dipandang.
“Apa selama ini aku terlalu keras bekerja ya, sampai merasa jenuh sekali seperti ini?” gumamnya pada dirinya sendiri. “Jarang sekali aku meluangkan waktu memanjakan diriku sendiri. Aktivitasku sehari-hari kalau tidak memprospek orang ya mengikuti acara-acara kantor. Kadang-kadang diundang sebagai pembicara di kantor-kantor lain. Itupun temanya ya itu-itu saja. Menonjolkan kerja gila-gilaanku demi mencapai impian. Orang-orang itu tidak tahu bahwa setelah impianku membuat keluargaku hidup enak tercapai, aku sudah tak bersemangat lagi. Bagaikan seorang kapten kapal kehilangan kompas. Tak tahu harus menuju ke arah mana. Pokoknya menjalankan saja kapal itu karena sudah terbiasa melakukannya….”
Tiba-tiba perutnya terasa mual sekali. Perempuan itu lalu bangkit dari atas ranjang. Diambilnya sebotol minyak kayu putih di atas meja rias. Dioleskannya banyak-banyak pada bagian dada, perut, dan punggungnya.
“Besok aku harus pergi memeriksakan diri ke internis. Nggak bisa begini terus. Lama-lama aku bisa mati,” keluhnya pada dirinya sendiri. Didekatkannya botol yang terbuka itu pada hidungnya. Tercium aroma kuat minyak kayu putih yang membuatnya merasa agak tenang.
“Seandainya aku bisa berganti bidang pekerjaan, alangkah senangnya,” cetusnya berandai-andai. “Bekerja sesuai dengan hati, bukan sekadar mengejar materi demi kepuasan orang lain.”
***