Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Down



Tiga hari kemudian sebelum pukul enam petang, Rosemary sudah tiba di kantor. Ekspresi wajahnya tampak tak bergairah. Indah, si resepsionis yang melihatnya langsung berkomentar, “Kok tumben lesu gitu mukanya, Mbak Rose? Ada apa?”


Gadis yang ditanya menghembuskan napas panjang. “Tiga hari ini aku memprospek kenalan-kenalanku, Mbak Indah. Ternyata benar-benar nggak mudah membuat mereka mau duduk dan mendengarkanku presentasi. Begitu tahu aku sekarang sudah menjadi agen, mereka seperti mempunyai firasat akan ditawari dan….”


“Beralasan sibuk, ada urusan penting yang harus dikerjakan, mau pergi, dan lain sebagainya,” potong Indah menerka. “Begitu kan, Mbak Rose?”


“Heh? Kamu kok tahu?” sergah agen baru itu keheranan.


Indah tergelak. “Udah biasa itu, Mbak. Makanan sehari-hari agen baru. Bahkan ada yang langsung ditolak mentah-mentah. Seperti dibilang bahwa nggak tertarik sama sekali sama asuransi, sering dengar tentang penipuan terhadap nasabah, mending duitnya dibuat investasi saja, atau bahkan bilang sama sekali nggak ada budget buat beli asuransi. Macam-macam deh, pokoknya,” papar gadis berjilbab itu panjang-lebar.


“Iya sih,” kata lawan bicaranya mengakui. “Waktu ikut kelasnya Bu Teresa dulu itu beliau juga sudah membahas soal itu. Tapi waktu kualami sendiri kok rasanya sebel, sedih, dan bikin down, ya? Soalnya orang-orang yang kuprospek itu teman-teman kosku sendiri. Bahkan ibu kos juga menolak mendengarkan presentasiku. Malah beliau menasihati agar aku mencari pekerjaan lain yang gajinya tetap dan pasti setiap bulan. Kata-katanya itu benar-benar menjatuhkan mentalku, Mbak.”


Indah menanggapi keluhan-keluhan gadis di hadapannya dengan sabar. Lalu disodorkannya segelas air mineral dan sedotan pada agen baru tersebut. “Minum dulu, Mbak Rose. Biar dingin hatinya. Hehehe…,” ujar resepsionis yang ramah itu.


“Terima kasih. Tapi jangan, ah. Nggak enak. Itu kan stok buat tamu,” tolak Rosemary halus.


“Sudahlah, Mbak Rose. Diminum aja. Nggak apa-apa, kok. Air mineral lho, harganya berapa, sih? Lagipula ini bukan cuma stok buat tamu saja. Tapi juga buat manajer-manajer dan agen-agen yang mau meeting. Biar nggak kehausan dan ngantuk. Hehehe….”


Rosemary akhirnya menurut. “Terima kasih banyak ya, Mbak Indah,” ucapnya sungkan. Dikeluarkannya sedotan dari dalam plastik. Lalu ditusukkannya pada tutup air mineral gelas. Setelah meneguknya pelan-pelan, hati gadis itu terasa lebih tenang.


“Jadi sekarang Mbak Rose mau keluarin uneg-uneg sama Pak Edward-kah?” pancing Indah pada lawan bicaranya yang keresahannya tampak berkurang.


Rosemary mengangguk. “Bang Edward sudah datang, kan? Kulihat mobilnya diparkir di luar,” cetus gadis itu kemudian.


“Pak Edward datang sudah sejak siang tadi, Mbak,” jelas Indah. “Karena ada meeting untuk para manajer hari ini. Tadi rame sekali di sini. Sekarang banyak yang sudah pulang. Saya sendiri juga heran kok Pak Edward belum pulang juga. Rupanya sudah ada janjian dengan Mbak Rose, toh?”


“Iya,” jawab Rosemary membenarkan. “Kalau begitu, aku masuk ke dalam dulu nyari Bang Edward ya, Mbak Indah. Terima kasih banyak buat air mineralnya. Oya, ngomong-ngomong kamu kok belum pulang, Mbak? Lemburkah?”


“Iya, lembur. Hari ini sekretaris Bu Teresa nggak masuk. Jadi ada beberapa pekerjaan administratif yang dilimpahkan pada saya. Tapi sekarang sudah selesai. Saya pulang dulu ya, Mbak Rose.”


“Ok, Mbak Indah. Hati-hati di jalan, ya.”


Selanjutnya kedua perempuan muda itu berpisah. Indah keluar meninggalkan kantor untuk pulang ke rumahnya, sementara Rosemary melangkah ringan menuju ke ruangan tempat dirinya sudah berjanji bertemu dengan manajernya.


“Halo, Bang,” cetus gadis itu begitu memasuki ruangan kecil tempat Edward tengah duduk menunggunya. Pandangan pria itu fokus pada Ipad keluaran terbaru miliknya. Jari telunjuk tangannya berkali-kali disentuhkan pada layar perangkat digital itu.


Mengetahui kedatangan agennya, pria itu hanya berkata, “Tunggu sebentar, Rose. Aku selesaikan pekerjaanku dulu, ya.”


“Siap, Bang!”


Gadis itu lalu duduk tepat di hadapan laki-laki tampan itu. Wah, wangi sekali Bang Edward hari ini, komentarnya dalam hati. Hari spesial apa ini, ya? pikir Rosemary keheranan.


Diamatinya ekspresi dan gerak-gerik pria itu. Bang Edward ini tipe workaholic, batinnya mengambil kesimpulan. Dia sering berangkat kerja pagi dan pulang malam karena masih mengurusi agen-agennya. Istrinya apa tidak was-was ya, membiarkan suami sekeren ini lebih sering berada di luar rumah dibandingkan berkumpul dengan keluarganya sendiri?


“Apa yang kaupikirkan, Rose?” tanya Edward tiba-tiba. Mata elangnya menatap tajam gadis di depannya. Rosemary jadi salah tingkah. Sadar, Rose. Sadar! batin gadis itu memperingatkan dirinya sendiri. Orang ini atasanmu. Dia juga sudah berkeluarga. Jangan berpikiran yang tidak-tidak, ya!


“Ehm…anu…nggak mikir apa-apa kok, Bang,” sahut gadis itu gelagapan. Entah kenapa dadanya terasa berdebar-debar. Dengan cepat gadis itu lalu mengalihkan pembicaraan. Diceritakannya pengalamannya selama tiga hari terakhir memprospek teman-teman dan ibu kosnya.


Edward mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali dia tergelak saat agen barunya itu agak emosional karena dijauhi orang-orang yang diprospeknya.


“Padahal kami kan sudah bertahun-tahun tinggal di kos yang sama, Bang. Meskipun nggak dekat, tapi kalau ada apa-apa kan ya saling membantu. Namanya juga merantau jauh dari kampung halaman. Tapi begitu mereka tahu niatku mau menawari asuransi kok tiba-tiba jadi berubah seratus delapan puluh derajat sikapnya! Sungguh menyebalkan.”


“Sabar, Non. Sabar,” cetus laki-laki itu seraya mengelus-elus punggung tangan Rosemary di atas meja. Gadis itu terkesiap dengan keberanian manajernya. Tapi entah kenapa dia tak ingin menarik tangannya. Dinikmatinya sentuhan lembut pria tampan itu.


“Bisnis asuransi itu memang bisnis penolakan, Rose. Tapi di awal-awal saja…,” jelas pria itu lembut. “Karena banyak dari orang-orang di luar sana yang belum paham tentang pentingnya perlindungan jiwa dan kesehatan. Tapi begitu ada teman, kerabat, atau bahkan anggota keluarga sendiri yang mengalami kesulitan keuangan akibat sakit parah dan tidak mempunyai asuransi, barulah kesadaran itu muncul. Saat itulah biasanya mereka dengan inisiatif sendiri menghubungi agen yang rajin memprospek sebelumnya. Ingat, Rose. Di luar sana yang berprofesi sebagai agen asuransi itu bukan kamu saja, tapi banyak sekali. Hanya agen yang mampu memberikan kesan mendalam pada klien, yang akan dihubungi saat orang itu membutuhkan asuransi. Paham?”


“Tapi kapan hal itu akan terjadi, Bang?” tanya gadis itu tak sabaran. “Kan tidak bisa diprediksi kapan orang-orang yang dikenal mereka akan mengalami musibah. Lagipula masa aku mendoakan hal itu terjadi. Jahat kan, itu namanya!”


“Bukan mendoakan, Non,” tangkis manajernya mulai bersilat lidah. “Tapi menabur pengetahuan tentang pentingnya proteksi aset, jiwa, dan kesehatan. Kamu kerjakan hal yang menjadi bagianmu, selanjutnya Yang Di Atas akan melanjutkan sisanya. Dia yang akan menentukan kapan taburanmu itu akan kau tuai. Jadi tugasmu sekarang adalah memberikan edukasi pada sebanyak mungkin orang yang kau temui….”