Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Damian Tahu



Hati Rosemary merasa miris mendengar komentar kawan barunya itu. Sampai kapan hubunganku dengan Bang Edward disembunyikan begini? batinnya tak terima. Sudah setahun lebih hubungan kami berjalan, tapi proses perceraiannya dengan Mbak Dina belum selesai juga. Kalau kutanya, jawabannya macam-macam. Belum mencapai kesepakatan tentang hak asuh anak-anaklah, harta gono-ginilah, sibuk kejar omzet tahunanlah, haiz…. Sebel, deh! Alasannya banyak sekali. Aku sempat ingin datang bertemu langsung dengan Mbak Dina untuk menanyakan kebenarannya, tapi kok gengsi rasanya melakukan hal itu. Seakan-akan aku yang ngebet minta segera dinikahi Bang Edward. Padahal orangnya sendiri tenang-tenang aja!


“Rose, kamu kok melamun? Mikirin apa, haiyo….”


Rosemary tersentak kaget. Dengan terbata-bata gadis itu menjawab, “Eh, nggak…. Nggak, kok. Aku nggak ngelamun, Ren. Mendengar kata-katamu tadi aku jadi teringat sama Mbak Dina, istrinya Bang Edward. Yah, dia memang cantik, sih.”


“Kamu kenal baik sama dia?” tanya Renata ingin tahu.


Lawan bicaranya menggeleng. Dia menjawab pelan. “Kami cuma ketemu sekali aja di pesta pernikahan rekan kantor. Itupun aku nggak dikenalin sama dia, Ren. Cuma ngeliat dari jauh aja.”


“What?!” seru gadis dari Yogyakarta itu terkejut. “Kok bisa kamu nggak dikenalin sama istri manajermu, Rose?”


Rosemary mengangkat bahunya tanda tidak tahu. Di telinganya terngiang-ngiang kata-kata Edward waktu itu, “Nanti di pesta, kita sebaiknya nggak duduk berdekatan ya, Rose. Supaya sandiwaraku dengan Dina di depan rekan-rekan kantor nggak ketahuan. Soalnya tak satupun dari mereka yang kuberitahu tentang proses perceraian kami. Selain itu….”


Kalimat pria itu terhenti. Ditatapnya sang kekasih dalam-dalam. Dengan suara berat dia berkata, “Selain itu aku juga kuatir kalau Dina nanti bisa merasakan bahwa diantara kita ada hubungan spesial. Kadang-kadang firasatnya tajam juga. Kalau dia sampai curiga, aku takut dia akan menggunakan dalih itu untuk memenangkan hak asuh ketiga anak kami.”


Begitu mendengar alasan kekasihnya itu, Rosemary seperti biasa menurut saja. Dia menyukai anak-anak. Hatinya tak tega membayangkan anak-anak kembar Edward menderita akibat perceraian kedua orang tuanya.


Tapi bukankah Mbak Dina yang memulai keributan? batin gadis itu membela diri. Dia yang berselingkuh duluan dengan orang lain!


“Halo, Rose. Kamu ngelamun lagi, ya?” cetus Renata lagi.


Rosemary terperangah. Kenapa aku bolak-balik melamun tentang Bang Edward dan Mbak Dina, ya? pikir gadis itu tak mengerti. Apa karena aku sudah tak sabar lagi menunggu sekian lama?


“Sori, Ren,” kata gadis itu sambil pura-pura menguap. “Sepertinya aku kecapekan. Jadi pikiranku belum sepenuhnya jernih. Hehehe…. Aku mandi dulu aja, ya. Biar segar. Nanti kita ngobrol lagi, deh.”


“Siap, Sis,” jawab Renata sambil tersenyum ceria.


Untung aku mendapatkan teman sekamar sebaik Renata, pikir Rosemary bersyukur. Walaupun orang ini ingin tahu banget tentang Bang Edward, tapi dia masih menghargaiku yang tidak ingin dikorek terlalu jauh mengenai manajerku itu.


Rosemary mendesah. Seandainya Renata tahu bahwa kawan sekamarnya ini adalah kekasih gelap orang yang diidolakannya, bisa mati berdiri dia!


***


Keesokan harinya dimulailah tur hari pertama rombongan agen asuransi yang berhasil meraih omzet fantastis sepanjang tahun lalu itu. Sepanjang acara Rosemary selalu ditemani oleh Damian. Mereka selalu berjalan dan bersenda-gurau bersama. Sampai-sampai banyak yang menjodoh-jodohkan keduanya.


Alangkah senangnya kalau yang sedang bersamaku sekarang adalah Bang Edward, batin gadis itu pilu. London adalah kota yang indah. Akan sangat menyenangkan kalau kami berdua bisa berjalan bergandengan tangan berdua.


Tiba-tiba dilihatnya sang kekasih sedang berkerumum bersama rombongan lain yang terdiri dari beberapa laki-laki dan perempuan berpakaian mewah. Beberapa diantaranya dikenal Rosemary sebagai manajer-manajer level atas seperti Edward Fandi. Ada yang sekantor dengan mereka maupun yang bergabung dengan kantor-kantor lain di segenap penjuru tanah air.


Gadis itu memperhatikan dari jauh kekasihnya dengan perasaan kangen. Edward kelihatan tampan dan gagah sekali. Dia asyik bersenda-gurau dengan kawan-kawannya.


Aku benar-benar tak diperhatikan, keluh Rosemary dalam hati. Dia merasa agak kecewa. Ingin sekali rasanya bermanja-manja dalam pelukan pria itu saat ini. Namun orang yang berdiri di sampingnya adalah Damian. Bukan Edward Fandi, laki-laki yang dicintainya dengan segenap jiwa raga.


“Kangen, ya?” celetuk Damian tiba-tiba. Matanya menatap gadis itu tajam.


Rosemary tersentak. Dia lalu mengalihkan pembicaraan. “Tak kusangka sepadat ini acara tur kita. Padahal baru hari pertama. Masih ada empat hari lagi mengelilingi London. Semoga aku kuat mengikuti keseluruhan acara setiap hari,” ujar gadis itu sambil tersenyum memandang ke arah sahabatnya. Dirinya tak menyadari senyumnya terlihat getir di mata pemuda itu.


Damian menatap kawan baiknya prihatin. Dia menghela napas panjang. “Jangan berharap lebih, Rose. Dia bukan untukmu…,” cetusnya pelan.


Rosemary terpaku. Damian tahu! batin gadis itu panik. Ya, Tuhan. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Apakah tindak-tandukku selama ini ada yang menimbulkan kecurigaan?


“Aku sudah curiga sejak bertemu kalian berdua di gedung bioskop dulu itu, Rose,” lanjut pemuda itu seperti dapat membaca isi hati sahabatnya. “Walaupun sikapmu dan dia biasa-biasa saja di depan umum, tapi aku bisa merasakan ada sesuatu yang spesial di antara kalian berdua. Bukan sekadar hubungan biasa antara manajer dengan agennya. Yang paling kelihatan bagiku adalah sorot matamu yang sungguh tak berdaya di hadapannya….”


Gadis itu tak tahan lagi. Dia meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, memberi kode pada Damian agar menghentikan ucapannya. Pemuda itu mengerti. Dia tak lagi membahas hal yang sensitif sekali bagi Rosemary itu.


Suasana berubah menjadi hening. Kedua insan itu tak bersuara sama sekali.. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Rosemary berusaha menenangkan hatinya dengan menikmati keindahan pemandangan Sungai Thames dan Kincir London Eye yang terbentang di hadapan mereka.


Terdengar suara hiruk-pikuk para agen yang berfoto di spot ternama tersebut, termasuk Edward. Rosemary mendesah. Dirinya ingin sekali berada di samping pria itu. Berfoto berdua saja dengannya. Tapi kenyataan berkata lain. Dia hanya dapat memandangi sang kekasih dari kejauhan. Harapannya melambung tinggi, namun entah kapan akan menjadi kenyataan.


***


Malam harinya Renata menyinggung tentang Damian di hadapan teman sekamarnya. “Siapa itu cowok ganteng yang bersamamu terus sepanjang acara, Rose?” tanya gadis itu penasaran. Matanya membulat menunjukkan rasa ingin tahunya yang tinggi.


Rosemary terkekeh geli. Dia menjawab apa adanya, “Itu temanku yang paling baik di kantor, Ren. Namanya Damian. Kenapa? Kamu suka? Hehehe….”


Kawan sekamarnya terbahak. Dia menjawab tanpa malu-malu, “Namanya bagus, ya. Cocok sama orangnya. Kalau kamu nggak mau, aku buka lowongan lebar-lebar lho, Rose. Hahaha….”


Lawan bicaranya geleng-geleng kepala. Seandainya Renata tahu kalau Damian sebenarnya penyuka sesama jenis, bisa patah hati dia, pikir gadis itu prihatin.