Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Penyesalan



“Dasar nggak tahu malu. Berani-beraninya kamu mengarahkan tangan padaku! Memangnya kamu ini siapa? Cuma gadis bodoh yang hidup dalam bayangan cinta buta. Sadarlah, Rosemary Laurens. Sadar! Kamu ini tinggal di kota besar dimana banyak sekali orang-orang jahat yang suka memanfaatkan orang lain! Aku memang bukan orang baik-baik. Tapi setidaknya kamu masih kupelihara dengan layak dan bahkan kuberi keahlian untuk mencari nafkah!”


Setelah mengucapkan kata-kata kejam itu, Edward langsung pergi meninggalkan apartemen. Rosemary menangis tersedu-sedu. Dunianya hancur seketika. Selama ini dia ternyata hidup dalam kebohongan. Edward rupanya telah merencanakan segalanya dari awal. Memanfaatkan keluguannya, mengambil kesempatan saat kondisinya tengah terpuruk, berpura-pura menjadi orang yang baik hingga membuat Rosemary memujanya setengah mati….


“Papa…, Owen…,” jerit gadis itu dengan hati terluka. “Aku sudah ditipu. Aku bodoh sekali. Bodoh! Bodoh! Aaarrgggh…. Apa yang harus kulakukan sekarang? Ya Tuhan, tolong aku. Tolonglah aku….”


Malam itu dihabiskan Rosemary Laurens untuk menangisi segala hal tak patut yang dilakukannya bersama Edward. Hal-hal yang sesungguhnya hanya layak dilakukan oleh sepasang suami-istri. Kini dia sungguh menyesal….


***


Esok harinya Edward berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Begitu sampai di tempat parkir, dia tak langsung keluar dari mobil. Diraihnya ponselnya untuk menelepon seseorang.


“Halo, Ward. Tumben pagi-pagi sudah nelepon. Ada apa, nih?” terdengar suara dari seberang sana menyapa.


Peneleponnya menghela napas panjang. “Aku butuh bantuanmu, Bro,” jawabnya pelan.


“Hmm…, jarang-jarang Edward Fandi meminta bantuan. Berarti kondisinya sudah parah sekali. Ok, deh. Apa yang bisa kubantu?” tanya kawan Edward tersebut penuh perhatian.


“Ada cewek. Kami cuma berhubungan sekali. Nggak disangka dia hamil….”


“Ups, Edward Fandi kebobolan rupanya! Makanya jangan kelewatan kalau main di luaran. Kuwalat lu sekarang. Hahaha….”


“Tolong bantu gua kali ini, Bro…. Please….”


“Bantu apaan?”


“Gugurin kandungan cewek itu….”


Terdengar suara di seberang sana mendengus masygul. “Bro, aku ini memang dokter spesialis kandungan. Mempunyai kewenangan untuk melakukan aborsi apabila diperlukan. Yaitu jika kehamilan itu membahayakan nyawa si ibu. Tapi dalam kasusmu ini kan nggak, Bro. Bumil-nya baik-baik aja, kan?”


“Dia mengancam akan bunuh diri kalau aku tidak mencarikan dokter yang bersedia menggugurkan kandungannya,” cetus Edward berbohong. Sori, Gus, sesalnya dalam hati. Aku terpaksa tidak jujur padamu. Demi menjaga keutuhan rumah tanggaku dengan Dina…, apapun akan kulakukan!


Tak terdengar jawaban dari lawan bicaranya. Agus yang merupakan kawan baik Edward sedang berpikir keras. Pada waktu dia belum terkenal sebagai dokter spesialis kandungan, temannya itu banyak merekomendasikannya pada nasabah-nasabahnya yang tengah mengandung. Tak sedikit di antara mereka yang hingga saat ini masih rutin memeriksakan diri di kliniknya.


“Gimana, Gus? Please… Tolong bantu aku kali ini. Belum pernah kan, aku minta pertolonganmu?” cetus Edward dengan nada mendesak.


“Aku periksa dulu kondisi kandungan perempuan itu, Ward. Bawa dia datang ke klinikku besok pukul setengah lima sore. Belum ada pasien jam segitu. Klinik kubuka lebih awal supaya kalian nggak berisiko bertemu orang lain,” sahut Agus bijak. Untuk sementara inilah yang dapat dilakukannya untuk membalas budi baik kawannya tersebut.


“Thanks a lot, Bro. Aku berhutang padamu,” jawab Edward lega.


“Your welcome, Bro. Satu pesanku….”


“Apa itu?”


“Kalau terjadi hal seperti ini lagi, tolong minta bantuan dokter lain saja. Aku tak sampai hati melakukannya untuk yang kedua kali.”


“Great.”


Pembicaraan mereka pun berakhir. Edward menghembuskan napas panjang. Lega sekali rasanya. Kini dia siap untuk memulai aktivitasnya kembali di kantor. Dimatikannya mesin mobil. Kemudian pria itu membuka pintu dan turun dari dalam mobilnya dengan hati lapang.


***


Malamnya Edward datang kembali ke apartemen. Dilihatnya sebuah kardus besar bertuliskan namanya ditaruh di samping rak sepatu.


“Apa ini?” tanyanya pada Rosemary yang tengah menikmati makan malam.


Gadis itu menjawab acuh tak acuh, “Itu isinya semua baju seksi yang kamu belikan untukku. Termasuk yang oleh-olehmu dari London kemarin. Bawa pergi saja. Aku muak sekali melihatnya!”


Edward menyeringai sinis. Tapi kamu dulu menikmati sekali waktu memakai benda-benda itu di hadapanku. Dasar pura-pura jaim. Munafik! maki laki-laki itu dalam hati.


Dia lalu duduk persis di hadapan Rosemary yang sedang makan. Diperhatikannya wajah gadis itu. Matanya sembab akibat sering menangis. Pipinya agak memar akibat tamparan Edward kemarin malam.


Tak kusangka tamparanku sekeras itu, sesal pria itu dalam hati. Aku reflek melakukannya karena dia menamparku duluan. Ah, hubungan ini memang harus segera diakhiri. Sudah nggak menyenangkan lagi buatku.


“Kamu nggak kerja hari ini, Rose?” tanyanya dengan nada bersahabat. Sang kekasih tak mengindahkan pertanyaannya . Dia masih asyik melahap mie goreng seafood di hadapannya.


Edward berusaha menyabarkan hatinya. Dengan hati-hati dia berkata, “Aku memang bukan laki-laki yang setia, Rose. Diriku ini bagaikan kumbang. Senang sekali berpetualang dari satu bunga ke bunga yang lain. Tapi asal kamu tahu….”


Dimajukannya tubuhnya mendekati gadis itu. “Cuma kamu satu-satunya perempuan yang kumanjakan dengan berbagai fasilitas di samping istriku sendiri. Cuma kamu satu-satunya perempuan yang menjalin hubungan begitu lama denganku selain Dina. Cuma kamu….”


“Satu-satunya perempuan yang begitu bodoh dan mempercayai kamu akan bercerai dari istrimu dan menikahiku!” tukas Rosemary ketus.


Sorot matanya tampak menyala-nyala. Kelihatan sekali dia begitu murka. Seakan-akan siap menerkam pria hidung belang yang duduk di hadapannya!


Edward menelan ludahnya getir. “Aku memang bersalah besar kepadamu, Rose. Sudah menghancurkan kepercayaanmu padaku….”


“Juga kepercayaan Mama terhadap dirimu!” seru gadis itu menyudutkan. Sorot matanya tampak terluka. Hati Edward jadi berdesir melihatnya.


“Apapun yang kamu katakan itu takkan kuingkari, Rosemary. Toh, hubungan kita sudah hancur. Tapi ada satu hal yang masih perlu dibereskan di antara kita. Supaya kelak tidak menimbulkan kepedihan yang lebih dalam lagi….”


Rosemary sudah selesai makan. Ditatapnya laki-laki itu geram. “Apa maksudmu? Hal apa lagi yang masih perlu dibereskan di antara kita berdua?”


Edward menggerakkan dagunya mengarah pada perut gadis itu. “Janin yang kamu kandung itu bagaimana nasibnya nanti? Apakah kamu sudah memikirkannya?”


Gadis itu menatapnya sengit. “Rupanya kamu masih belum puas juga, Bang. Sudah menghancurkanku, masih juga mau merenggut nyawa anakku. Benar-benar nggak punya hati nurani kamu, Edward Fandi!”


Air mata Rosemary jatuh bercucuran. Edward mendesah. Dia ingin menyelesaikan masalah mereka sesegera mungkin agar tidak menimbulkan kepedihan yang lebih dalam lagi bagi gadis itu.


“Dengarkan aku, Rose. Jangan emosi dulu,” katanya sungguh-sungguh. “Coba pikir baik-baik. Apa untungnya janin dalam kandunganmu dipertahankan? Hubungan kita sudah berakhir. Terimalah kenyataan bahwa aku tak mungkin meninggalkan keluargaku. Mereka jantung hatiku, Rose. Aku nggak bisa kehilangan salah seorangpun dari mereka!”