Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Mabuk



“Lagipula seperti yang dulu pernah kujanjikan sebelumnya, Rose. Kamu akan benar-benar kupantau. Supaya lebih cepat mencapai keberhasilan di bisnis ini. Bukankah kamu juga ingin segera membuat keluargamu di Balikpapan bangga?” ujar laki-laki itu dengan pintarnya menyentuh titik lemah si agen.


Rosemary mengangguk. Betul sekali, pikirnya setuju. Aku tidak boleh berprasangka buruk. Orang ini sudah banyak membantuku. Kalau dia bermaksud mencelakakan diriku, tidak perlu menunggu selama ini untuk melakukannya.


Demikianlah gadis berusia dua puluh lima tahun yang selama ini hidup dalam perlindungan mendiang ayah dan kekasihnya itu mulai terperosok ke dalam jebakan pria matang yang berkedok kebaikan.


***


Setelah membeli makanan, Rosemary dan Edward berdiskusi berdua di dalam kamar hotel bintang empat yang dihuni laki-laki itu. Ruangan itu cukup luas dengan tempat tidur double bed, dua buah kursi berikut sebuah meja kecil, bufet panjang dan sebuah TV 32 inch di atasnya, kulkas mungil, serta lemari pakaian.


Gadis itu semula merasa canggung mengikuti atasannya masuk ke dalam kamar. Takut ada yang mengenali mereka. Padahal kami cuma mau membahas pekerjaan, kenapa aku merasa tidak nyaman begini, ya? batin gadis itu.


Walaupun dia dulu cukup lama berpacaran dengan Owen, namun tak pernah sekali pun mereka berduaan di dalam kamar hotel. Pernah memang mereka berekreasi ke luar kota bersama teman-teman. Namun mereka tidur di kamar yang berbeda. Owen sekamar dengan teman laki-laki. Demikian pula sebaliknya Rosemary dengan kawan-kawan perempuannya.


Edward yang dapat merasakan kecanggungan sikap agennya langsung nyerocos panjang lebar untuk membuat suasana menjadi ceria. Pria yang telah sangat berpengalaman itu akhirnya dapat membuat Rosemary menyesuaikan diri. Mereka berdua berdiskusi dengan serius mengenai klien yang ditemui gadis itu keesokan harinya.


“Kamu harus tahu sebanyak mungkin tentang orang yang akan kamu buatkan ilustrasi, Rose,” ujar si manajer serius. “Berapa usianya, sudah berkeluarga atau belum, punya berapa anak dan umurnya kira-kira berapa, apa pekerjaan klienmu beserta pasangannya, apakah mereka di-cover asuransi oleh perusahaan tempat mereka bekerja, dan lain-lain. Semakin banyak dan mendetil hal-hal yang kamu ketahui, maka ilustrasi yang kamu buat akan semakin mendekati kebutuhan klienmu.”


Dengan sigap anak buahnya langsung membacakan data-data yang ditulisnya dalam buku catatannya. Atasannya menatapnya takjub. “Luar biasa,” pujinya bangga. “Kamu sudah mengalami kemajuan dalam mengorek infomasi klien.”


“Aku banyak dibimbing oleh Damian, Bang,” jawab gadis itu jujur. Diceritakannya teknik-teknik yang kemarin diajarkan oleh pemuda itu di pameran.


Edward manggut-manggut. Ia kemudian berkata, “Anak itu sebenarnya baik dan kreatif sekali. Tapi entahlah, kok prestasinya biasa-biasa saja. Syukurlah kamu memperoleh banyak pengetahuan darinya. Rupanya dia tidak pelit ilmu, ya. Padahal kamu bukan anggota timnya. Lain kali akan kutraktir dia sebagai tanda ucapan terima kasih.”


Pasangan manajer dan agen itu lalu melanjutkan diskusi mereka dengan antusias. Tak terasa dua jam berlalu. Waktu kini menunjukkan pukul setengah delapan malam. Perut Rosemary mulai berbunyi. Gadis itu meringis menahan malu.


“Kamu sudah lapar rupanya,” cetus Edward sambil tersenyum. “Makanlah duluan, Rose. Biar ku-print ilustrasi-ilustrasinya.”


“Makan sama-sama aja, Bang,” sahut gadis itu sungkan. Tak enak rasanya makan lebih dulu dari atasannya.


“Ya. udah. Tolong kamu buka bungkusan sate ayam itu di atas meja ini, Rose. Biar aku nge-print di bufet panjang itu.”


Gadis itu mengiyakan. Dia lalu mengambil bungkusan berisi sate ayam dan lontong di atas bufet. Diletakkannya di atas meja tempat dirinya tadi berdiskusi dengan Edward. Laki-laki itu sendiri mulai mencetak dua alternatif ilustrasi asuransi di atas bufet.


Beberapa saat kemudian kedua insan itu duduk bersama sambil menikmati makan malam. “Ah, rasanya lebih enak makan sate sama minum bir hitam. Sebentar kuambil di dalam kulkas,” celetuk pria itu. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju lemari es.


Sebelum gadis itu sempat berpikir lebih jauh, manajernya menaruh empat kaleng bir hitam di hadapannya. Dibukanya tutup kaleng satu per satu.


“Kamu bisa minum kan, Rose? Ayo cheers!”


Rosemary mau tak mau mengangkat kaleng bir hitam yang diletakkan di depannya. Disentuhkannya pada kaleng bir yang dipegang atasannya. Setelah meneguk sedikit, diletakkannya kembali di atas meja. Lalu gadis itu mulai menikmati makan malamnya lagi.


Sementara itu atasannya bercerita tentang perkawinannya yang kandas. Betapa dia telah bekerja mati-matian membanting tulang demi kebahagiaan keluarga, tetapi ternyata itu masih belum cukup. Dia mengerti waktunya banyak tersita untuk pekerjaan. Tap bukankah untuk mendapatkan kehidupan yang layak harus ada yang dikorbankan? Kenapa sekarang seolah-olah dirinya yang menjadi terdakwa atas kegagalan rumah tangganya?


Tiga kaleng bir hitam di atas meja habis sudah ditenggak Edward. Dia lalu mengambil beberapa kaleng lagi di dalam kulkas. Rosemary tak kuasa mencegahnya. Atasannya tengah mencurahkan kepedihan hatinya. Biarlah kali ini dirinya menjadi pendengar yang baik saja. Daripada nanti Edward mencari pendengar lain yang belum tentu tulus. Bisa-bisa persoalan rumah tangganya malah dijadikan bahan gunjingan.


“Aku merasa diriku benar-benar tak berguna, Rose,” keluh pria itu sedih. Matanya mulai berkaca-kaca. “Gagal sebagai seorang suami. Sebagai ayah. Sebagai kepala rumah tangga. Gagal sebagai lakil-laki seutuhnya!”


Edward bangkit berdiri. Ia hendak mengambil bir lagi dari dalam kulkas. Kali ini Rosemary mencegahnya. Dia berdiri menghalangi langkah laki-laki itu.


“Cukup, Bang,” pintanya prihatin. “Kamu sudah mabuk.”


“Mungkin lebih baik begitu,” sahut pria itu dengan nada suara mengiba. “Daripada aku nanti tidak bisa tidur karena memikirkan anak-istriku terus!”


“Bang, kamu harus kuat!” sergah Rosemary berusaha menyadarkan Edward. “Jangan lemah seperti ini. Buktikan bahwa kamu memang laki-laki yang tangguh!”


Laki-laki itu terkekeh. “Buktikan pada siapa? Dina sudah tak menginginkanku. Dia juga menghasut anak-anak agar berada di pihaknya. Karena lebih sering bersama mamanya, mereka tentu saja mudah diprovokasi. Lalu, aku harus membuktikan diriku pada siapa?!”


Dengan perasaan bergejolak, kedua tangan Rosemary menyentuh pipi manajernya itu.


“Bang, benarkah perkawinanmu sudah tak dapat diselamatkan lagi? Jujurlah padaku, Bang,” pinta gadis itu pilu. Tak tega rasanya menyaksikan pria yang dicintainya terpuruk seperti ini. Pria yang selama ini selalu menolongnya. Pria yang selalu ada di saat dirinya menemui kesulitan. Pria yang berjanji takkan pernah meninggalkannya….


“Semuanya sudah berakhir, Rose…,” ujar Edward lirih. “Mereka sudah tidur bersama….”


Rosemary terbelalak. Dia tak menyangka persoalan rumah tangga manajernya seserius itu.


“Aku…aku tak sanggup lagi menganggap Dina sebagai istriku yang utuh seperti dulu,” lanjut laki-laki itu. “Bahkan mestinya dia yang kuusir keluar dari rumah. Tapi…tapi aku tak tega membuat anak-anak menderita. Jadi kuputuskan dirikulah yang harus keluar dari rumah. Aku mengalah demi kebahagiaan anak-anak….”