Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Selangkah Lagi



Kemudian diutarakannya pendapatnya itu pada sang atasan dan broker propertinya. Edward tersenyum simpul. Dia menoleh pada Danu dan berkata, “Nah, Danu. Kamu sudah mendengar sendiri pendapat Rosemary. Aku setuju dengannya, sih.”


Setelah mengatakan hal tersebut, laki-laki berakal bulus itu mengerling sekilas pada lawan bicaranya. Danu tersenyum tanda mengerti. Dia harus mencari apartemen yang sesuai dengan selera Rosemary.


“Tunggu sebentar, Pak. Saya hubungi teman saya dulu. Dia bekerja di property management apartemen ini. Siapa tahu dia punya stok unit 2 bedrooms yang sesuai selera Mbak Rosemary,” jelasnya sopan.


Rosemary jadi merasa tidak enak. Seakan-akan dialah pengambil keputusan dalam hal ini. “Maafkan saya. Sudah merepotkan Mas Danu,” ucap gadis itu sungkan.


“Oh, nggak apa-apa kok, Mbak,” jawab si broker sambil tersenyum. “Sudah tugas saya mencarikan properti yang terbaik untuk klien. Maaf, saya nelepon teman saya sebentar, ya.”


Kemudian pria itu keluar dari apartemen tersebut untuk menelepon kawannya. Tinggal Edward berduaan saja dengan agennya. Ditatapnya lembut gadis itu. “Lokasi dan fasilitasnya kamu suka, Rose?”


Gadis itu lagi-lagi merasa heran. Dia memutuskan untuk langsung bertanya, “Maaf, Bang. Yang mau menempati nanti kan Abang. Kenapa nanya aku terus? Aku takut salah pilih….”


“Aku percaya sama pilihanmu kok, Rose,” sahut pria itu tenang. “Karena kamu orang yang paling mengerti diriku….”


Deg! Jantung gadis itu berdegup kencang. Perasaannya campur aduk tak karuan. Mati aku, batinnya panik. Lama-lama bisa ketahuan kalau aku menyukainya!


Edward bergerak mendekati gadis itu. Rosemary diam mematung. Dirinya tegang sekali. Ketika tangan pria itu terulur ke arah wajahnya, gadis itu memejamkan mata ketakutan. Terasa olehnya tangan kokoh itu membelai-belai pipinya yang halus hingga mundur ke belakang sampai ke bagian telinga.


“Kamu nggak pakai anting-anting, Rose?”


Gadis itu langsung membuka matanya karena terkejut. “Anu…dulu ada, Bang. Tapi…tapi terus kutitipkan sama Mama buat disimpan. Siapa tahu…ehm…, Mama membutuhkannya…,” jawabnya gelagapan. Wajahnya bersemu merah seperti kepiting rebus.


Edward geregetan sekali melihatnya. Ingin sekali Rosemary diciuminya dan dibawa ke tempat tidur!


“Kapan-kapan kubelikan anting-anting, ya,” janji pria itu semanis madu. “Telingamu bentuknya bagus sekali. Sayang kalau tidak memakai perhiasan.”


Hati gadis itu serasa runtuh mendengar rayuan manajernya. Ingin sekali dijatuhkannya tubuhnya seperti dalam film-film romantis Korea supaya dipeluk oleh sang pria pujaan hati.


“Teman saya bilang dia punya satu unit apartemen kosong yang kira-kira sesuai dengan kriteria Mbak Rosemary, Pak,” kata sebuah suara mengagetkan dua insan yang tengah dimabuk asmara itu.


Edward dengan sigap langsung membalikkan badan. Dia tersenyum lebar sambil mengerling sekali lagi pada Danu. Broker properti itu menyeringai geli. Dasar hidung belang, makinya dalam hati. Pintar sekali memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan!


“Ok, Danu. Kita pergi ke sana sekarang. Letaknya juga di tower inikah?” tanya kliennya ingin tahu.


Si broker mengangguk. “Betul, Pak. Cuma maaf, harga sewanya sedikit lebih tinggi karena ukurannya lebih besar sedikit daripada unit yang ini dan sebelum-sebelumnya. Fasilitasnya sama sih, dua buah kamar tidur. Cuma desainnya memang dibuat lebih luas sedikit. Nggak apa-apa kan, Pak?”


“Kita lihat dulu saja,” kata kliennya memutuskan. “Toh, sudah telanjur berada di sini.”


Demikianlah mereka bertiga meninggalkan unit apartemen tersebut. Edward dan Rosemary berjalan mengikuti Danu menuju ke lift yang akan membawa mereka ke unit yang dimaksud.


Tak lama kemudian ketiga orang tersebut tiba di depan sebuah pintu apartemen yang terbuka. Di depannya berdiri menunggu seorang perempuan muda berambut ikal pendek. Danu langsung tersenyum dan menyapa kawannya itu. Dia lalu memperkenalkannya pada Edward dan Rosemary.


“Silakan melihat-lihat,” ujar perempuan itu ramah. Edward dan Rosemary masuk ke dalam apartemen tersebut.


“Wow,” komentar laki-laki itu takjub. “Benar-benar lebih besar ukurannya. Perabotannya pun lebih bagus, tapi praktis. Tidak makan tempat.”


Rosemary mengangguk. Dia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Interior apartemen itu bernuansa lembut dengan perpaduan warna pastel dan putih. Lampu-lampu down light bertebaran di sudut-sudut tertentu dan menimbulkan pencahayaan yang romantis saat dinyalakan.


Terlihat ruang tamu dengan sofa berwarna pastel dan TV LED 32 inch yang melekat di dinding. Di atas TV tersedia dua baris rak untuk meletakkan sesuatu. Selain itu terlihat kitchen set dan meja makan dengan warna senada. Mesin cuci diletakkan di sudut yang tak begitu kelihatan.


Tampak dua buah kamar tidur. Yang satu berukuran kecil. Terdapat sebuah lemari dan tempat tidur berukuran single. Selanjutnya gadis itu berpaling pada kamar di sebelahnya yang berukuran lebih besar. Ada sebuah lemari, meja rias mungil, dan tempat tidur berukuran 160x200 cm.


“Nyaman ya, rasanya tidur di kamar ini,” celetuk Edward sembari berpaling kepadanya. Gadis itu berlagak tak mendengar ucapan atasannya barusan. Dia asyik memperhatikan detil-detil di apartemen tersebut.


Diperiksanya kamar mandi di luar kamar. Standar isinya. Wastafel, closet, dan shower box yang terbuat dari kaca transparan sebagaimana yang biasa dilihatnya di dalam kamar mandi hotel.


“Bersih ya, kamar mandinya,” celetuk sebuah suara di belakangnya. Rosemary menoleh. Dilihatnya Edward menatap padanya. Gadis itu mengangguk setuju. Selanjutnya dia keluar dari kamar mandi tersebut. Tak disadarinya Edward tengah membuka pintu shower box dan memperhatikan luasnya.


Cukup untuk diriku mandi berdua dengan Rosemary, batin pria itu sambil tersenyum liar. Seandainya agennya dapat melihat tampang atasannya saat ini, gadis itu pasti menyesal mau ikut menemani laki-laki hidung belang itu survey apartemen!


Beberapa saat kemudian kedua insan itu selesai melihat-lihat. Danu yang sejak tadi menemani tapi sama sekali tak bersuara itu bertanya, “Apartemen yang ini menurut Mbak Rosemary bagaimana?”


Gadis yang ditanya tersentak. Edward menyeringai dengan kejelian Danu menanyakan langsung pendapat Rosemary. Sesama pria pasti tahu isi hati kaumnya, pikir agen asuransi senior itu tangkas. Danu paham kalau aku menyewa apartemen bukan buat diriku sendiri. Tapi buat calon kekasihku ini!


Sementara itu Rosemary spontan menjawab jujur, “Saya suka, sih. Tapi nggak tahu Bang Edward gimana.”


“Aku juga suka, Rose,” sela Edward penuh keyakinan. “Jadi dari semua unit yang kita lihat sejak tadi, kamu paling sreg sama yang ini, ya?”


Gadis lugu yang tak menyadari tengah dijebak itu mengangguk mengiyakan. “Tapi keputusan ada di tangan Bang Edward, lho. Kan Abang yang nempatin….”


“Ok deh, kalau begitu. Nanti kupertimbangkan lagi ya, Danu. Satu-dua hari lagi kamu kukabari,” pungkas pria itu mantap.


“Siap, Pak Edward,” jawab Danu sopan. Dia bersorak-sorai dalam hati. Akhirnya ceweknya memilih unit yang ini. Bagus, deh. Meskipun aku harus berbagi komisi dengan pihak pengelola apartemen, tapi setidaknya ini merupakan pintu masuk bagiku untuk melakukan kerja sama berikutnya di kemudian hari!


***