Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Mulai Terapi



“Baik, Dokter,” jawab pasiennya patuh. Dia lalu bangkit berdiri dan melangkah masuk ke dalam bilik yang sudah dibuka tirainya oleh perawat. Beberapa saat kemudian Dokter Chris menyusulnya dan melakukan pemeriksaan.


Dua belas menit kemudian dokter dan pasien tersebut duduk berhadapan kembali di meja kerja Dokter Chris. Pria beralis tebal dan bermata jernih itu menanyakan beberapa hal secara mendetil yang dijawab dengan apa adanya oleh pasiennya. Tampak dahi tenaga medis itu berkerut seperti sedang berpikir keras.


Mental Rosemary langsung down melihatnya. Dia lagi-lagi merasa sangsi dokter ini sanggup mengobati penyakitnya. Perasaan putus asa wanita itu terpancar jelas dari sorot matanya. Dokter Chris yang menyadarinya akhirnya tersenyum tenang.


“Nona Rosemary saya lihat terlalu cemas. Cobalah untuk rileks. Hal itu akan meringankan gejala-gejala tidak nyaman yang Nona alami,” saran dokter tersebut bijak.


Pasiennya menghela napas panjang. “Sebenarnya saya sakit apa, Dok?” tanyanya lesu. Tatapannya begitu memelas. Hati Dokter Chris sampai tersentuh melihatnya.


“Dari rekam medis yang Nona bawa dan pemeriksaan yang saya lakukan tadi, terus terang saya tidak menemukan penyakit fisik apapun yang diderita Nona….”


Rosemary mendelik mendengar diagnosis sederhana dokter tersebut. Aku tidak sakit apa-apa?! pekik wanita itu dalam hati tidak terima. Dasar dokter goblok! Setiap hari lidahku pahit dan perutku mual. Berat badanku sampai turun drastis. Terus kemarin kerongkonganku panas sekali bagaikan terbakar. Sekarang pun masih tersisa sedikit rasa panasnya. Gitu kamu bilang aku tidak sakit apa-apa?!


Ekspresi wajah pasiennya yang tegang dan menuntut penjelasan membuat dokter muda itu mengangguk dan tersenyum bijak. “Yang saya maksudkan tadi, Nona Rosemary tidak menderita penyakit fisik apapun. Tapi saya curiga mengalami gangguan psikosomatis,” jelas pria itu hati-hati. Ditatapnya Rosemary penuh pengertian. Pasiennya itu jadi melongo.


“Gangguan psikosomatis? Apa itu maksudnya, Dok?” tanya wanita tersebut penasaran.


“Maksudnya adalah gangguan kesehatan yang terjadi pada fisik seseorang akibat dirinya menderita permasalahan psikologis yang sangat berat.”


Rosemary terperangah. “Maksud Dokter, saya…saya…punya masalah psikologis? Seperti…gangguan jiwa?” tanyanya terbata-bata. Jantungnya berdegup kencang. Masa aku sakit jiwa? pikirnya tak mengerti.


“Tenang Nona Rosemary,” ujar dokter internis tersebut. “Ini hanya dugaan saya saja. Karena kapasitas saya di sini adalah sebagai dokter spesialis penyakit dalam, bukan dokter jiwa. Diagnosis yang saya tegakkan adalah bahwa gangguan lidah pahit, kerongkongan panas, maupun perut mual yang Anda derita tidak memerlukan penanganan secara medis dalam hal penyakit dalam. Akan tetapi….”


Kalimat-kalimat pria berkulit putih itu terhenti sejenak. Ditatapnya sang pasien sambil tersenyum menyejukkan. Rosemary diam saja menunggu kelanjutan kata-kata dokter tersebut.


“Akan tetapi gangguan yang Anda alami itu tetap harus ditangani secara profesional,” lanjut dokter simpatik itu. “Saya sarankan Anda melakukan konseling pada seorang dokter jiwa atau psikiater. Apakah Nona pernah berkonsultasi dengan seorang psikiater?”


Ingatan Rosemary tiba-tiba terpaut pada Dokter Dewi, psikiater yang merawatnya dulu di Balikpapan. Waktu dirinya mengalami depresi akibat kehilangan ayah dan kekasihnya secara beruntun.


“Sekitar sepuluh tahun yang lalu saya pernah mengalami depresi berat, Dok,” aku wanita itu terus terang. “Waktu itu saya diterapi oleh psikiater bernama Dokter Dewi di rumah sakit kota Balikpapan. Apakah saya perlu kembali konseling dengan beliau, Dok?”


“Tergantung, Nona. Apakah persoalan yang dulu itu sudah tuntas?”


“Sudah, sih. Dokter Dewi sendiri yang mengatakan depresi saya sudah sembuh dan program terapinya selesai.”


Dokter Chris manggut-manggut tanda mengerti. “Nona Rosemary sendiri apakah merasa lebih nyaman kembali berkonsultasi dengan Dokter Dewi atau mau mencoba psikiater yang akan saya rekomendasikan?”


“Sepertinya saya coba psikiater yang direkomendasikan Dokter Chris saja. Beliau praktik di kota ini, kan? Daripada saya jauh-jauh pergi ke Balikpapan.”


“Baiklah kalau begitu, Bu,” katanya ringan. “Sebentar saya buatkan surat pengantar dulu. Beliau kebetulan tidak praktik di rumah sakit ini. Praktiknya di rumahnya sendiri sama rumah sakit pemerintah.”


Rosemary manggut-manggut saja. Ditunggunya dokter tersebut menuliskan surat pengantar untuknya. Begitu selesai, pria berbadan tegap itu menyodorkan surat itu sekaligus sebuah kartu nama berwarna putih kepadanya.


“Dokter Mirna,” cetus wanita itu membaca tulisan yang tertera pada kartu nama tersebut. “Saya akan segera menghubungi beliau, Dokter Chris. Terima kasih.”


“Sama-sama, Nona Rosemary. Semoga lekas sembuh.”


“Kalau boleh saya tahu, kenapa Dokter merekomendasikan psikiater ini pada saya? Apakah beliau sudah terbukti berhasil menyembuhkan pasien dengan gangguan seperti yang saya alami?”


Dokter Chris tersenyum lebar yang diikuti dengan anggukan penuh keyakinan.


“Setidaknya saya pernah mengenal satu orang yang mengalami gejala sama persis dengan yang  Nona Rosemary alami. Setelah menjalani terapi dengan Dokter Mirna selama beberapa bulan, orang itu sembuh total dan bisa hidup normal seperti sebelumnya. Semoga hal itu terulang kembali  pada Anda. Saya akan mendoakan kesembuhan Nona Rosemary.”


Kata-kata Dokter Chris itu menumbuhkan semangat pada diri pasiennya untuk segera menemui Dokter Mirna. Aku ingin sembuh! tekad wanita itu dalam hati. Ini adalah jalan yang ditunjukkan Tuhan untukku. Akan kulaksanakan dengan sungguh-sungguh. Kumohon temani aku dalam setiap langkahku ya, Tuhan. Amin.


***


Rosemary akhirnya berhasil membuat janji konsultasi dengan Dokter Mirna. Keesokan sorenya dia datang ke tempat praktik psikiater tersebut di rumah tinggalnya. Bangunan bergaya klasik dua lantai itu tampak asri dengan halaman depan yang ditanami pohon mangga dan bunga-bunga aneka warna.


“Silakan duduk, Nona Rosemary Laurens,” kata Dokter Mirna mempersilakan pasiennya. Rosemary mengangguk lalu mengucapkan terima kasih.


Sosok Dokter Mirna tidak berbeda jauh dengan Dokter Dewi, psikiaternya di Balikpapan dulu. Perempuan setengah baya berkacamata dan rambut dipotong pendek itu tampak arif. Bedanya sorot matanya lebih tegas dibandingkan Dokter Dewi.


Setelah pasiennya menyerahkan surat pengantar dari Dokter Christopher Wibisana, psikiater itu diam sejenak membaca isi surat tersebut. Sembari menunggu, pandangan Rosemary berkelana ke segenap penjuru ruangan yang bernuansa serba pastel itu.


Apakah ruang praktik psikiater selalu menenteramkan hati seperti ini, ya? batin wanita itu menduga-duga. Dulu dia selalu diterapi Dokter Dewi di kamar pasien rumah sakit. Waktu itu  kondisi luka-luka fisiknya belum pulih seperti sediakala. Namun ketika sudah sembuh, Rosemary sempat menemui psikiaternya itu di ruang praktiknya. Suasananya kurang lebih serupa dengan ruangan Dokter Mirna ini.


Dinding ruangan begitu bersih dan dihiasi dengan lukisan-lukisan bergambar bunga dan pemandangan. Juga ada kata-kata bijak yang bersifat membangun motivasi orang yang membacanya. Perasaan wanita itu sekarang sama persis dengan waktu dulu berkunjung ke ruang praktik Dokter Dewi di rumah sakit. Begitu tenteram dan damai.


“Nona Rosemary Laurens…,” kata Dokter Mirna kemudian. “Saya sudah selesai membaca surat dari Dokter Chris. Untuk selanjutnya bisakah Anda bercerita tentang….”


Selanjutnya dimulailah sesi awal terapi Rosemary dengan psikiater tersebut.


***