
“Menurutku, nggak perlulah sampai periksa ke dokter di Singapore, Ma,” kata perempuan itu terus terang. “Dokter-dokter di sini juga banyak yang bagus.”
“Tapi buktinya kamu belum juga sembuh, Rose,” sergah Martha tak menyetujui pernyataannya barusan. “Bagaimana kamu bisa berbicara yang nyaman dengan klien kalau lidahmu masih terasa pahit? Hal itu bisa mempengaruhi kualitas percakapanmu dengan nasabah, kan?”
Sang putri menatap ibunya serius. Aku harus memberanikan diri untuk berterus terang pada Mama, putusnya dalam hati. “Ma…,” ujarnya kemudian. “Rose mau mengundurkan diri sebagai agen asuransi.”
Tak terdengar suara apapun. Akan tetapi sepasang mata ibunya yang terbelalak lebar telah memberikan jawaban. Perempuan setengah baya itu tak mampu berkata-kata saking kagetnya. Ini merupakan berita yang luar biasa baginya. Apalagi keluar dari mulut anaknya sendiri.
Rosemary lalu melanjutkan, “Sudah hampir sepuluh tahun aku berkecimpung dalam bisnis asuransi, Ma. Aku bekerja mati-matian sampai tidak punya waktu untuk diri sendiri. Hasil kerja kerasku memang membuahkan hasil yang nyata. Rumah ini, mobilku, dan mobil Nelly merupakan buktinya. Juga….”
“Perjalanan wisata gratis yang kamu peroleh dari perusahaan setiap tahunnya,” potong Martha kemudian. “Juga rekreasi kita ke tempat-tempat lain yang kamu biayai sendiri. Lalu barang-barang bermerek yang Mama beli, paket perawatan kecantikan, kosmetik impor, dan macam-macam lagi. Terima kasih atas perjuanganmu membahagiakan kami, Nak. Tapi kalau kamu mau berhenti bekerja sebagai agen asuransi, lalu mau pindah ke bidang apa?”
Anaknya mengangkat bahunya tanda tidak tahu. Martha menjadi cemas. Raut wajahnya langsung berubah panik. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya berulang-kali. “Kita belum lama menikmati kenyamanan hidup, Nak. Jangan kamu rusak begitu saja. Masa kamu tega melihat Mama dan Nelly hidup terpuruk lagi seperti dulu lagi?”
Rosemary terkejut bukan alang-kepalang. Tak disangkanya ibu kandungnya sendiri tak mendukung keputusannya karena takut kehilangan gaya hidup enak yang beberapa tahun terakhir dinikmatinya.
“Mama, aku masih punya simpanan uang untuk membiayai kehidupan kita. Bahkan angsuran rumah ini yang masih kurang dua tahun lagi tetap dapat kulunasi sesuai tanggal jatuh tempo. Mama jangan kuatir kita akan hidup kekurangan,” tandasnya penuh percaya diri.
“Terus kamu mau bekerja apa, Rose? Coba beritahu Mama sekarang. Pekerjaan apa yang mau kamu lakukan sebagai pengganti profesimu yang sekarang? Profesi yang telah mengangkat keluarga kita keluar dari lembah kemiskinan. Profesi yang mampu menghasilkan uang tanpa batas. Profesi yang sanggup membuat Mama menengadahkan kepala lagi menatap wajah orang-orang yang dulu merendahkan kita!” ucap sang ibu tak mau kalah.
Suaranya keras sekali dan membahana. Matanya tajam menatap putrinya yang ternganga di hadapannya. Mama sekarang kembali menjadi seperti dulu sebelum jatuh miskin, batin Rosemary pedih. Materialistis dan hedonis sekali. Mengagung-agungkan kehidupan mewah. Apakah ini salahku karena terlalu menuruti keinginannya berfoya-foya? pikirnya sedikit menyesal.
“Kamu belum menjawab pertanyaan Mama, Rose,” ultimatum ibunya tersebut. Ditatapnya anaknya dengan berapi-api. “Mau kerja apa kamu kalau sudah tidak berkecimpung di bisnis asuransi?”
Putri sulungnya itu mengangkat bahunya tanda tidak tahu. “Aku masih mencari-cari info di internet, Ma. Bisnis apa yang sekiranya sesuai dengan hati nuraniku. Bisnis yang tidak melulu menargetkanku untuk selalu menjadi nomor satu. Bisnis yang tidak selalu menyebarkan aura kompetisi yang dahsyat sehingga aku merasa bagaikan robot yang diperas tenaga, waktu, dan pikiran hanya untuk mencari uang, uang, dan uang melulu!”
“Jadi…jadi kalau aku tidak bekerja lagi sebagai agen asuransi, Mama takkan merasa bangga lagi padaku?” cetus Rosemary dengan hati terluka. “Ketahuilah, Ma. Rosemary sudah lelah lahir-batin bekerja membanting tulang demi memenuhi harapan orang lain! Mama dan orang-orang di kantor selalu ingin aku menjadi yang terbaik, prestasi meningkat setiap tahun, penghasilan berlimpah-ruah. Aku sudah melakukannya selama hampir sepuluh tahun, Ma. Bayangkan, sepuluh tahun! Sekarang setelah harapan itu tercapai, tidak bolehkan aku melepaskannya dan mencoba meraih harapan baru?”
Martha terpaku mendengar kata-kata putrinya yang terdengar masuk akal. Wanita itu berusaha menenangkan dirinya. Setelah itu dia bertanya, “Harapan baru apa yang ingin kamu capai, Rose? Coba katakan. Mama akan berusaha memahaminya.”
“Rose ingin bekerja dengan tenang, damai, dan tanpa tekanan, Ma,” jawab Rosemary jujur. Mimik wajahnya yang sendu menunjukkan kesungguhan hatinya.
Martha mendengus keras. “Mana ada pekerjaan seperti itu, Rose? Kalaupun ada, penghasilannya pasti kecil,” komentarnya pedas.
“Nggak apa-apa, Ma,” tandas putrinya tegas. “Materi yang kudapatkan selama ini sudah lebih dari cukup. Mama kan tahu Rose tidak begitu suka belanja. Sebagian penghasilan Rose diinvestasikan dalam bentuk reksa dana dan emas. Jadi Mama nggak perlu kuatir. Rose akan tetap mencukupi kebutuhan Mama asalkan….”
“Asalkan apa?” tanya ibunya dengan ekpresi wajah cemas. Dia masih belum siap meninggalkan kemewahan yang baru dinikmatinya selama tiga tahun terakhir.
Sang anak menatap ibunya lekat-lekat. “Asal Mama mulai bijaksana mengatur keuangan. Tidak membeli baju dan tas bermerek. Hidup sewajarnya saja sesuai kemampuan kita….”
Kalimat anaknya itu membuat Martha menjerit kesetanan, “Rosemary! Bilang saja kamu nggak suka Mama beli ini-itu untuk kesenangan Mama sendiri! Baiklah, mulai sekarang Mama akan stop beli semua benda yang nggak penting itu. Tapi tolong…tetaplah bekerja sebagai agen asuransi, Nak. Jatuh-bangunnya keluarga kita sepenuhnya tergantung dari hasil jerih-payahmu. Oliv sudah menikah dan sibuk dengan keluarganya sendiri. Bahkan kamu kadang masih mengiriminya uang karena suaminya yang kaya itu terlalu perhitungan. Sedangkan Nelly…Nelly nggak segigih kamu dalam bekerja. Hanya kamulah satu-satunya anak Mama yang mempunyai talenta menjadi yang terbaik dan membuat keluarga kita kembali dipandang orang….”
Air mata mulai berlinangan membasahi wajah Martha yang cantik terawat. Keriput-keriput halus yang dulu sempat muncul saat dirinya masih tinggal di rumah kontrakan di Balikpapan kini tak terlihat lagi. Di kota ini ibu Rosemary itu rutin melakukan perawatan kulit di klinik kecantikan ternama. Upayanya membuahkan hasil yang tak mengecewakan. Kulit wajahnya tampak kenyal dan glowing.
Rosemary yang sepeninggal ayahnya selalu mengutamakan kepentingan keluarga di atas segalanya menjadi tidak tega melihat ibunya bercucuran air mata. Dihiburnya Martha dengan berkata, “Sudahlah, Ma. Jangan menangis. Percayalah, kita nggak akan hidup prihatin lagi seperti dulu meskipun Rose mengundurkan diri dari bisnis asuransi.”
Tangisan Martha semakin keras. Anaknya jadi bingung sendiri. Sebegitu pentingkah pekerjaanku ini bagi Mama? pikirnya tak mengerti. Seolah-olah aku takkan berhasil melakukan pekerjaan di bidang lain!