Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Agak Enakan



Karena ingin cepat sembuh, Rosemary menjalani terapi rutin seminggu dua kali di klinik  Dokter Mirna. Satu bulan kemudian dia mulai merasakan hasilnya. Kerongkongannya memang masih panas,  lidahnya masih terasa pahit, dan perutnya masih mual.  Namun wanita itu telah dapat menerima keadaannya apa adanya.


“Jangan dilawan semuanya itu, Rose,” nasihat psikiater senior itu selalu. “Terima saja dengan lapang dada sebagai bagian dari dirimu. Tetaplah makan dengan nikmat meskipun kamu belum dapat menikmati kelezatannya. Ucaplah syukur dalam hatimu setiap kali lidahmu menyentuh makanan. Telanlah dengan penuh sukacita saat makanan melewati kerongkonganmu. Jangan pedulikan rasa mualmu. Terimalah kondisi-kondisi itu dengan besar hati. Tak perlu dipermasalahkan. Ketahuilah, Rose. Hidup akan terasa lebih damai jika masalah kecil dianggap tidak ada dan masalah besar dijadikan persoalan kecil….”


Rosemary berusaha mencerna kalimat-kalimat Dokter Mirna yang penuh makna itu. Dia juga kembali berlatih pernapasan sebagaimana yang dulu dipelajarinya dari Dokter Dewi, psikiaternya di Balikpapan dulu.


Atas anjuran Dokter Mirna, Rosemary berencana mengikuti kelas yoga di ruko dekat rumahnya. Diajaknya Martha turut serta. Namun ibunya itu menolak.


“Mama sudah nggak kuat mengikuti kegiatan olah tubuh seperti itu, Rose,” jawab wanita itu beralasan.


Putri sulungnya itu tak memaksanya. Dia lalu mengajak Nelly. Rupanya adiknya itu pun menolak. Alasannya sudah capek bekerja di kantor setiap hari.


“Hari Sabtu kan bisa,” celetuk sang kakak bersikeras.


Nelly nyengir mendengarnya.


“Sabtu itu me-time bagiku, Kak. Dan berlatih yoga bukanlah caraku untuk membahagiakan diri sendiri,” jawab gadis itu terus terang.


Rosemary langsung menyadari adiknya itu sudah dewasa. Bebas menentukan pilihannya sendiri.


“Ok deh, Nel,” katanya mengalah. “Kalau begitu Kak Rose ikut yoga sendiri, deh.”


“Sip, kak. Semoga lekas mahir, ya. Bisa lentur sekali dalam posisi kepala di bawah dan kaki di atas. Kayak pendekar Shaolin. Hahaha….”


Nelly tertawa keras sekali. Kakaknya ikutan tertawa. Martha yang berada di sana sampai terkejut. Baru kali ini dilihatnya putri kebanggaannya tertawa seceria itu semenjak mengalami gangguan kesehatan.


“Mama senang kamu sudah bisa tertawa lepas lagi seperti dulu, Rose,” kata wanita itu sambil tersenyum. “Kerongkonganmu sudah sembuh, ya? Nggak terasa panas lagi?”


Putrinya menggeleng pelan. “Masih panas, Ma. Cuma sekarang Rose sudah bisa menerima diri sendiri apa adanya. Kerongkongan panas, lidah pahit, dan perut mual sudah kuanggap sebagai kondisi yang harus kuterima dengan ikhlas,” ucapnya sepenuh hati.


Ibu dan adiknya terkejut mendengarnya.


“Lho, gimana sih, Rose? Bukankah penyakit itu harus disembuhkan? Bukan dibiarkan begitu saja. Takutnya malah bisa memburuk dan menjalar ke mana-mana,” kata Martha cemas.


Dan wanita itu semakin heran tatkala putri sulungnya menyahut santai, “Rose sudah pergi periksa ke dokter internis yang lain, Ma. Katanya badanku nggak sakit apa-apa. Cuma kejiwaanku yang bermasalah. Jadinya aku disarankan konseling ke psikiater.”


“Hah?!” cetus Martha dan Nelly bersamaan. Mereka kaget sekali mendengar pengakuan Rosemary. Konseling ke psikiater? Memangnya ada masalah apa?


“Rosemary…,” ujar ibunya hati-hati. “Apa kamu mengalami depresi lagi seperti dulu waktu di Balikpapan?”


Anaknya tersenyum simpul. Dia lalu mengangguk mengiyakan. “Tapi kali ini masalahnya berbeda dengan yang dulu, Ma. Rose sudah satu bulan ini diterapi oleh psikiater yang direkomendasikan dokter internis. Hasilnya aku sekarang mulai dapat menerima diriku apa adanya. Nanti deh, kalau sudah siap, akan kuceritakan masalah apa yang menganggu batinku selama ini. Sekarang Rose mau pergi dulu, ya. Bye Ma, Nelly….”


“Lho, lho, lho…,” cetus Martha kebingungan. “Kamu mau pergi ke mana, Rose? Nggak ganti baju dulu? Masa cuma pakai baju rumahan kayak begini. Kaos oblong dan celana pendek….”


Rosemary tergelak menyaksikan ibunya yang mulai cerewet dalam hal berpenampilan. “Cuma mau pergi ke ruko di depan komplek, Ma. Mau nanya-nanya tentang jadwal dan biaya kursus yoga di sana. Yuk, ah. Rose berangkat dulu. Keburu gelap nanti. Dadaaah….”


Akhir-akhir ini anakku itu memang kelihatan lebih rileks, komentarnya dalam hati. Nafsu makannya juga mulai meningkat. Pelan-pelan badannya mulai berisi kembali. Tapi aku nggak pernah mendengar dia membahas tentang pekerjaan seperti dulu. Pakaiannya juga nggak formal lagi kalau keluar rumah. Apa dia jadi berhenti bekerja? Aku takut menanyakannya. Takut kami bertengkar lagi seperti waktu itu. Haiiizzz…. Jangan sampai anakku keluar dari pekerjaannya ya, Tuhanku. Profesinya itu sudah yang paling tepat buatnya. Buat kami sekeluarga!


***


Esok paginya Rosemary pergi ke kantornya. Dia mencari Indri untuk membahas tentang berbagai permintaan nasabah-nasabahnya.


“Pak Broto minta dana investasinya ditarik sebesar seratus juta. KTP dan cover rekeningnya baru saja kukirim ke nomor WA-mu.”


“Siap, Mbak Rose.”


“Terus Bu Siska mau menutup polis-polisnya sekeluarga. Total ada empat polis. Buku-buku polis dan kartu-kartu asuransinya akan dikirimkan lewat pos ke kantor ini segera. Sudah kuminta agar ditujukan kepadamu langsung, Mbak Indri. Nanti begitu dokumen-dokumen itu kamu terima, tolong kabari aku dulu, ya.”


“Ok, Mbak Rose.”


“Lalu Bu Gina komplain kenapa klaim rawat jalannya tidak di-cover full. Setelah kuhitung-hitung memang ada kekurangan pembayaran sejumlah satu juta dua ratus ribu rupiah. Tolong kamu komplainkan ke kantor pusat Jakarta.”


“Baik, Mbak Rose.”


Rosemary masih akan melanjutkan instruksinya ketika terdengar suara pintu diketuk dari luar. “Oh, itu Damian,” cetusnya begitu melihat sosok sahabatnya dari balik pintu kaca transparan itu. “Silakan masuk, Bro.”


Pria tampan itu membuka pintu dan berkata, “Sori aku menganggu, Rosemary dan Mbak Indri. Masalahnya ada tamu yang tiba-tiba datang mencarimu, Rose.”


Lawan bicaranya mengerutkan dahi lalu bertanya heran, “Siapa orang itu, Dam? Aku nggak ada janji ketemu siapapun hari ini.”


“Seorang perempuan berumur sekitar empat puluhan, Rose. Ngakunya bernama Bu Hanifah. Katanya dia nasabahmu,” jawab Damian memberitahu.


Rosemary mengangguk mengiyakan. “Oh, iya. Dia nasabahku. Seorang perawat di rumah sakit swasta Sidoarjo. Kok dia nggak nelepon dulu ya, kalau mau datang?”


Damian mendesah. “Dia bilang baru kehilangan HP. Jadi nomor teleponmu ikutan hilang. Terus buku polisnya yang ada kartu namamu ketlisut entah di mana. Jadi dia langsung datang kesini dengan harapan bisa bertemu langsung denganmu.”


“Orang itu sungguh beruntung,” komentar Rosemary geli. “Padahal sudah satu bulan aku nggak datang ke kantor. Thanks ya, Dam.”


Kemudian wanita itu berpaling pada sekretarisnya, “Ya sudah segitu dulu tugas dariku, Mbak Indri. Nanti kalau urusanku dengan Bu Hanifah sudah selesai, Mbak Indri kupanggil lagi, ya.”


“Siap, Mbak Rose. Saya balik ke ruangan saya dulu, ya.”


Bosnya itu mengangguk. Dia sendiri bermaksud keluar ruangan untuk menemui nasabahnya yang disebut-sebut Damian tadi.


Pria itu berbisik kepadanya, “Hati-hati, Rose. Kelihatannya Bu Hanifah itu sedang tidak enak hati. Mukanya murung sekali. Kamu yang tenang menghadapinya, ok?”


Sahabatnya mengangguk dan tersenyum penuh terima kasih.


***