
“Kamu egois sekali, Bang! Lalu bagaimana denganku? Aku sudah kehilangan kehormatanku, kepercayaanku terhadap laki-laki. Bagaimana mungkin kamu tega memintaku menggugurkan darah dagingku sendiri? Kalau kamu memang nggak mau bertanggung jawab, ya sudah! Aku nggak akan memaksamu. Biar aku sendiri yang mengasuh anak ini.”
“Jangan bodoh, Rosemary Laurens!” sergah Edward berang. “Kamu pikir menjadi seorang single parent itu mudah? Lalu bagaimana kamu menjelaskan pada orang-orang mengenai perutmu yang semakin membesar nanti. Terutama pada keluargamu di Balikpapan. Ingat, Rosemary. Kamu datang kembali ke kota ini untuk mencari nafkah demi kesejahteraan keluargamu. Coba bayangkan, bagaimana perasaan Tante Martha kalau tahu kamu di sini justru menjadi kekasih simpananku? Tegakah kamu mengecewakan hati mamamu yang malang itu? Sudah dikhianati mendiang suaminya yang berselingkuh dengan perempuan lain. Eh, ternyata putri kandungnya sendiri sekarang juga menjadi selingkuhan pria beristri!”
“Diam!” teriak Rosemary histeris. “Dasar bajingan kamu, Edward Fandi! Kamulah yang membuat keadaanku menjadi begini. Kamulah yang menghancurkan Rosemary Laurens. Bisa-bisanya kamu memutarbalikkan fakta seakan-akan akulah yang bersalah dalam hal ini!”
“Bukankah memang itu kebiasaan orang-orang di negeri kita?” cetus Edward bersilat lidah. “Selalu pihak perempuan yang menjadi korban. Kalau suami berselingkuh, yang disalahkan adalah istri yang tak merawat dirinya dengan baik sehingga suaminya berpaling hati pada perempuan lain. Si pelakor juga disalahkan karena tak tahu diri menggoda pria yang sudah beristri. Masa kamu tidak tahu tentang ini?”
Rosemary terperangah. Dia tak sanggup berkata-kata lagi. Apa yang diucapkan laki-laki itu memang benar adanya. Posisinya sangat lemah. Pasti dialah yang paling disalahkan dalam hal percintaannya dengan Edward. Sudah tahu orang itu mempunyai istri sah, kok masih mau menjadi kekasihnya. Dasar perempuan tidak tahu diri!
Gadis itu jadi malu sendiri. Ya, aku adalah pelakor, akunya dalam hati. Perebut laki orang. Aku Rosemary Laurens. Gadis yang dibesarkan dari keluarga baik-baik telah terjerumus ke dalam pergaulan bebas hingga menjadi simpanan pria beristri. Benar-benar memalukan!
Isak-tangisnya semakin menjadi-jadi. Edward tak berani mendekatinya. Takut gadis itu malah marah dan melakukan kekerasan fisik padanya seperti kemarin. Pria itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan gusar. Dia lalu berusaha berbicara baik-baik dengan Rosemary.
“Aku menawarkan aborsi itu sebenarnya untuk menyelamatkan masa depanmu, Rose. Karirmu sedang cemerlang sekali saat ini. Kamu bisa meraih apapun yang kamu inginkan. Jangan hanya karena sebuah kesalahan kecil kamu kehilangan segala hal yang sudah kamu raih dengan susah payah….”
Kalimat-kalimat manajernya itu membuat si gadis terpaku. Kesalahan kecil..., pikirnya sedih. Orang ini menganggap semua yang terjadi di antara kami adalah sebuah kesalahan kecil. Dan dia mengatakannya dengan ringan, seolah-olah tanpa beban. Benar-benar dungu aku telah berhasil ditipunya selama ini. Dungu!
“Lagipula kasihan sekali kalau anak itu sampai lahir ke dunia ini tanpa ikatan perkawinan yang sah dari kedua orang tuanya. Suatu saat dia akan diolok-olok sebagai anak haram, latar belakangnya tidak baik, dan lain sebagainya. Sebelum hal itu terjadi, alangkah baiknya kalau dicegah terlebih dahulu. Tindakan aborsi kedengarannya memang kejam. Tapi di balik itu, ada hikmah yang bisa dipetik. Kita menyelamatkan anak itu dari penderitaan yang akan dialaminya sebagai anak yang lahir di luar nikah….”
Rosemary menundukkan wajahnya dalam-dalam. Dia benar-benar mau melepaskan diri dari tanggung jawab, pikir gadis itu luar biasa kecewa. Laki-laki seperti ini sungguh tak layak untuk dipertahankan. Tapi apakah itu berarti darah dagingnya juga tak layak kupertahankan? Bagaimanapun juga janin dalam kandunganku ini sudah mempunyai nyawa. Aku sudah mempunyai riwayat sebagai pelakor. Apakah akan kutambah lagi sebagai pembunuh janin yang tak berdosa?
Tiba-tiba terdengar suara ponselnya berbunyi. Gadis itu melihat nama Martha tertera pada layarnya. Segera disekanya air matanya dengan tisu. Dibersihkannya juga hidungnya agar suaranya tidak terlalu kentara bahwa dia habis menangis.
“Halo, Ma,” sapanya tak bersemangat.
Gadis itu terpaksa berbohong. “Iya, Ma. Rose flu. Cuaca sedang nggak baik di Surabaya,” kilahnya beralasan.
Ditatapnya tajam Edward yang diam saja tak bersuara. Bukan cuaca yang nggak baik, tapi suasana hatiku yang kacau-balau! cetus gadis itu dalam hati.
“Oh, kalau gitu Mama nggak akan bicara lama-lama, Nak. Supaya kamu bisa beristirahat. Sudah minum obat? Atau kamu sudah periksa ke dokter?”
“Rose nggak pergi ke dokter, Ma. Cuma minum obat biasa. Sudah jauh lebih enakan, kok. Mama tenang aja.”
“Jaga baik-baik dirimu ya, Rose. Istirahat sampai betul-betul sembuh. Mama tahu pekerjaanmu nggak ringan. Tapi Mama bangga kamu sudah berhasil membuktikan prestasimu di bisnis asuransi. Foto-foto kamu waktu di London sampai di-upload sama adik-adikmu di akun Instagram dan Facebook mereka. Juga foto waktu kamu dilantik jadi manajer. Oliv dan Nelly bangga sekali sama kakaknya yang berhasil mengangkat harkat dan martabat keluarga. Kamu benar-benar menjadi panutan yang baik bagi mereka, Rosemary.”
Kalimat-kalimat yang diucapkan Martha dengan nada bangga itu justru membuat kepala anaknya pusing. Mereka beranggapan aku berhasil mengangkat harkat dan martabat keluarga, batin Rosemary perih. Juga menjadi panutan yang baik bagi adik-adikku. Ya Tuhan, apa yang akan terjadi kalau kelak mereka tahu aku mempunyai anak di luar nikah? Apakah…apakah Mama, Oliv, dan Nelly bersedia menerima kehadiran anakku dengan sepenuh hati? Atau…mereka justru akan merasa kecewa dan tak mengakuiku lagi sebagai bagian dari anggota keluarga?
“Tetap jaga diri baik-baik ya, Rose. Dunia di luar sana seringkali tak seindah yang kita bayangkan. Jangan sampai kita terjerumus dalam dosa. Belajarlah dari pengalaman almarhum Papa. Gara-gara kepincut perempuan lain, dia sampai kehilangan segalanya. Reputasinya, kekayaannya, kebahagiaan keluarganya….”
Deg! Jantung Rosemary hampir copot mendengar ucapan Martha yang bagaikan pedang tajam menembus dadanya. Beban batin gadis itu semakin berat rasanya.
Seandainya bisa, aku ingin mati saat ini juga, batinnya menderita. Tapi bagaimana dengan nasib keluargaku selanjutnya? Mama tidak bisa bekerja. Olivia penghasilannya dari menjual kue masih sedikit. Nelly masih duduk di bangku SMA. Keluargaku bergantung kepadaku secara finansial. Aku merupakan tulang punggung keluarga dan dianggap sebagai suri tauladan yang baik bagi adik-adikku. Ya Tuhan, berat sekali menjadi seorang Rosemary Laurens. Harus menjadi yang terbaik dan tidak boleh membuat kesalahan!
“Mama, Rose akan jaga diri baik-baik. Mama, Oliv, dan Nelly nggak perlu kuatir. Selama ini nggak terjadi apa-apa kan, sama Rose.”
“Mama sangat bersyukur Tuhan melindungimu, Nak. Juga Edward. Dia merupakan malaikat penjaga yang disediakan Tuhan bagimu.”
Kita semua tertipu, Ma! teriak gadis itu dalam hati. Edward Fandi itu bukan malaikat. Dia justru iblis yang telah menghancurkan kehidupan Rosemary!