
“Foto berdua, yuk. Biar kuminta Nelly yang motret kita pakai HP-ku. Nanti langsung kukirim ke nomor WA-mu,” ajak Rosemary. Dia senang sekali dirinya dan Damian sama-sama memperoleh penghargaan malam ini.
Laki-laki yang dua tahun lebih tua darinya itu mengangguk mengiyakan. Rosemary lalu memberikan ponselnya pada adiknya. Nelly menerimanya lalu bersiap memotret mereka berdua.
Kedua insan itu berpose dengan mesra, layaknya sepasang kekasih. Damian merangkul bahu Rosemary. Keduanya saling mendekatkan kepala dan tersenyum ceria. Nelly menjepret beberapa kali.
Sementara itu Martha yang memperhatikan di belakang Nelly menatap putri sulungnya dan Damian dengan sorot mata penuh harapan. Mereka pasangan yang serasi sekali, pujinya dalam hati. Yang perempuan cantik, cerdas, dan mandiri. Sedangkan pihak laki-lakinya ganteng, keren, dan sabar. Keduanya juga sama-sama berprestasi di bisnis asuransi. Ah, aku takkan ragu-ragu jika suatu saat Rosemary meminta restuku untuk menikah dengan Damian. Hubungan mereka dekat sekali selama ini. Aku bisa merasakan laki-laki itu adalah orang yang baik.
Setelah selesai berfoto, Rosemary dan Damian melanjutkan obrolan mereka sambil bersenda-gurau. Martha menatap kedua anak muda itu dengan perasaan sukacita. Berharap agar tak lama lagi putri sulungnya itu akan melepas masa lajangnya dengan membina rumah tangga bersama Damian.
***
Tiga hari kemudian Rosemary, Nelly, dan Martha berangkat ke London. Ibukota Inggris itu merupakan kota pertama yang dikunjungi rombongan mereka selama masa tur dua minggu keliling benua Eropa.
Ketiga wanita itu mendapat kehormatan menempati tempat duduk kelas bisnis di pesawat. Ini adalah untuk yang pertama kalinya bagi Nelly dan Martha. Tahun-tahun sebelumnya jika diajak Rosemary pergi ke luar negeri mereka mendapatkan seat kelas ekonomi. Baik itu perjalanan yang dihadiahi gratis dari perusahaan maupun yang dibiayai secara pribadi oleh Rosemary.
“Bukankah kamu dulu sudah pernah pergi ke London, Rose?” tanya Martha pada sang putri yang duduk di sampingnya.
Rosemary mengangguk mengiyakan. “Sekitar delapan tahun yang lalu, Ma. Waktu itu masih duduk di kelas ekonomi. Belum kelas bisnis seperti ini,” kata wanita itu menjelaskan.
Ibunya manggut-manggut mendengarnya. Kemudian perempuan separuh baya yang kini kembali berpenampilan modis itu bertanya lugu, “Bukankah waktu itu kamu masih menjadi agen bimbingan siapa itu manajer lamamu? Eddie?”
Putrinya tersentak. Dia sudah lama sekali tak pernah mengingat-ingat orang yang dimaksud ibunya itu. Edward Fandi! Pria yang telah mengelabuinya sejak pertama kali mengajaknya terjun ke bisnis asuransi. Pria yang telah membuat dirinya terjerat cinta buta hingga merelakan kehormatannya direnggut dengan licik. Pria yang menyuruhnya melakukan perbuatan dosa yang teramat besar, yaitu menggugurkan darah dagingnya sendiri!
“Rose…Rose…. Kamu mikirin apa?” tanya Martha sambil menatap anaknya heran. Tangannya menepuk-nepuk bahu Rosemary untuk menyadarkannya.
Wanita itu tersentak. “Ma…Mama nanya apa tadi?” cetusnya terbata-bata. Sikapnya gugup sekali.
Martha menatap anaknya curiga. Kenapa anakku jadi kikuk begini, ya? tanya wanita itu dalam hati. Apa ada pertanyaanku yang salah?
“Sudahlah. Nggak apa-apa. Beristirahatlah, Rose. Sepertinya kamu kecapekan,” jawab Martha akhirnya.
Rosemary lalu memejamkan matanya. Wajahnya tampak damai sekali. Martha tersenyum lega.
Kamu sudah bekerja keras selama ini, Anakku. Semua itu kamu lakukan demi keluarga kita. Terima kasih banyak. Rosemary Laurens memang selalu menjadi kebanggaan Mama dan teladan yang baik bagi adik-adiknya. Semoga Tuhan memberikan jodoh yang baik untukmu, Nak, doa wanita itu dalam hati.
Tiba-tiba terbersit wajah Damian dalam benaknya. Martha sungguh berharap laki-laki itulah yang akan menjadi pendamping hidup putrinya. Jadi dia masih dapat berkarir di dunia asuransi yang telah memberikan kesejahteraan bagi kehidupan keluarganya.
Ibu tiga anak itu kuatir jika Rosemary mendapatkan jodoh di luar bisnis ini, akan berisiko pasangannya itu tidak mengizinkannya meneruskan karirnya. Apalagi jika mereka telah dikaruniai anak. Lain halnya bila putri sulungnya itu membina rumah tangga dengan Damian. Mereka dapat bahu-membahu mengembangkan bisnis mereka dan kemungkinan kecil Rosemary dilarang bekerja.
Siapa tahu kalau mereka bersatu malah bisa membuka kantor asuransi sendiri seperti Bu Teresa, pikir Martha berandai-andai. Tanpa disadari keserakahan mulai menggerogoti hatinya . Dia kini sudah terbiasa kembali hidup nyaman dari hasil kerja keras Rosemary.
Tiga tahun yang lalu putri kebanggaannya itu membeli sebuah rumah dua lantai di Surabaya. Luas tanahnya seratus empat puluh empat meter persegi. Bangunan utama terdiri dari tiga buah kamar tidur dan dua buah kamar mandi. Sedangkan service area terdiri dari dapur serta kamar tidur dan kamar mandi pembantu.
Martha dan Nelly diboyong Rosemary untuk menemaninya tinggal di rumah tersebut. Sedangkan Olivia tetap tinggal bersama suaminya di Balikpapan.
Pasangan itu sudah sudah dikaruniai dua orang anak perempuan. Sang istri kini tengah hamil tua anak ketiganya yang sudah diketahui berjenis kelamin laki-laki. Hal itu merupakan keinginan ayah dan ibu mertuanya yang menghendaki cucu laki-laki sebagai penerus nama keluarga. Olivia dan suaminya yang tinggal menumpang di rumah mewah kedua orang tua itu tak berdaya menolaknya.
Sedangkan Nelly, adik bungsu Rosemary, selepas SMA memutuskan untuk tidak meneruskan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi. Dia mengambil kursus bahasa Inggris dan Mandarin di Balikpapan. Rosemary dengan sepenuh hati mendukung keinginannya. Dia bahkan menganjurkan adiknya itu untuk mencari pekerjaan di kota itu.
“Digaji kecil nggak apa-apa, Nel. Buat cari pengalaman. Kan ijazahmu juga cuma SMA. Nanti kalau kemampuan bahasa Inggris dan Mandarin-mu sudah bagus, Kak Rose akan mencarikan pekerjaan untukmu di Surabaya.”
Si adik bungsu menuruti anjuran kakaknya. Dia lalu bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah perusahaan travel. Beberapa tahun kemudian, sang kakak memenuhi janjinya. Begitu berhasil membeli rumah di Surabaya dan mengajak Nelly tinggal bersamanya, Rosemary memperkenalkan adiknya itu pada kliennya.
Orang itu kebetulan membutuhkan tenaga kerja yang mahir berbahasa Inggris dan Mandarin untuk mengurus dokumen ekspor-impor. Setelah melalui serangkaian tes dan wawancara, Nelly dinyatakan lulus. Gadis itu diterima bekerja di perusahaan tersebut.
Martha mengenang masa-masa itu dengan perasaan bangga. Dia senang di masa tuanya tak perlu menghemat pengeluaran lagi seperti ketika masih tinggal di rumah kontrakan dulu. Juga tak usah bersusah-payah membersihkan rumah bergantian dengan anak-anaknya. Kini dia sudah memiliki pembantu rumah tangga sebagaimana dulu ketika belum hidup susah. Juga sudah mampu membeli pakaian, aksesoris, dan paket perawatan kulit yang mahal lagi demi menjaga penampilannya.
Tuhan memang baik, batinnya penuh rasa syukur. Dia memberiku Rosemary. Anak yang hebat dan selalu berjuang demi kebahagiaan keluarga. Semoga kehidupan kami yang nyaman ini berlangsung untuk selamanya. Amin.
***