
Rosemary menepati janjinya memprospek delapan orang per hari. Dia mempraktikkan cara yang diajarkan Edward, yaitu dengan mengajak ngobrol ngalor-ngidul orang yang diprospeknya terlebih dahulu, baru kemudian menjurus ke arah proteksi aset. Gadis itu mengikuti petunjuk manajernya agar tidak menyebut istilah asuransi sama sekali.
“Apa itu?” tanya Dessy, salah seorang teman kuliahnya dulu. Gadis yang berprofesi sebagai penulis novel online itu diincar Rosemary karena penghasilannya yang termasuk mapan untuk ukuran seorang lajang. Novel-novel karyanya laris di internet dan mempunyai banyak penggemar setia. Setidaknya dia mampu mengambil asuransi dengan premi lima ratus ribu per bulan, harap Rosemary optimistis.
“Proteksi aset itu misalnya kalau tiba-tiba terjadi musibah kecelakaan atau sakit parah, kita tidak sampai harus mengorbankan aset pribadi seperti uang tabungan, deposito, mobil, dan sebagainya,” papar gadis itu menjelaskan. “Apalagi kamu di kota ini kan tidak punya saudara, Des. Orang tuamu di kota Ambon juga masih mencari nafkah untuk menanggung biaya hidup dan sekolah adik-adikmu yang masih kecil. Bahkan kamu tiap bulan mengirim uang buat mereka, kan? Nah, kalau ada apa-apa dengan dirimu, masa tega kamu minta uang sama orang tua?”
Gadis berkulit hitam manis dan berambut keriting itu manggut-manggut setuju. “Lalu bagaimana caranya mengikuti program proteksi aset itu, Rose? Mahal, nggak?”
Rosemary girang sekali. Namun dia berusaha menyembunyikan perasaannya. Selama satu minggu dirinya memprospek puluhan orang yang terdiri dari ibu kos, teman-teman kos, rekan-rekan sekantornya dulu, dan kawan-kawan semasa kuliah, baru kali ini ada yang menanggapinya seantusias ini. Semoga gol, cetus gadis itu dalam hati. Nggak apa-apa meski cuma premi kecil. Yang penting pecah telur dulu!
Selanjutnya dia menjelaskan tentang prosedur mengikuti program proteksi aset yang dimaksud. Dessy mengernyitkan dahi. “Kok seperti asuransi ya, Rose? Uang hilang kan, kalau nggak pernah klaim rawat inap? Rugi, dong!” sergah gadis itu mulai mengajukan keberatan.
Rosemary dengan sabar menjelaskan, “Ini seperti kamu ikut progam kesehatan pemerintah BPJS. Cuma itu kan hangus uangnya kalau nasabah nggak pernah rawat inap. Program proteksi aset ini uangnya nggak hilang kalau kamu nggak pernah pakai buat rawat inap. Jadi seperti tabungan. Cuma nominalnya memang nggak sebesar yang kamu setor tiap bulan. Tapi lumayan, setidaknya kalau setelah lima tahun kamu butuh uang, bisa diambil sebagian buat menutup kebutuhanmu.”
“Ya, tetap rugi, dong. Mending kuinvestasikan di reksadana atau emas, Rose. Lagipula aku sudah punya BPJS. Nanti malah dobel kalau aku ambil proteksi aset di kamu juga.”
Kepala Rosemary mulai terasa pening. Tenang, Rosemary Laurens. Kamu kan sudah mendapat jawaban tentang pertanyaan ini waktu mengikuti training tempo hari, batinnya berusaha rileks.
“BPJS itu bagus. Iurannya sangat terjangkau. Juga hampir semua rumah sakit sekarang menerima pasien BPJS,” jelas gadis itu sambil mengangguk. Namun kemudian dia memasang tampang prihatin. “Sayangnya masih mempunyai kelemahan. Yang pertama adalah prosedurnya yang berbelit-belit. Pasien harus periksa ke puskesmas dulu, lalu minta surat rujukan ke rumah sakit rekanan. Di puskesmas kan harus menunggu dulu sesuai antrian, Des. Kasihan pasien kalau penyakitnya sudah agak parah, kan?”
“Memangnya kalau parah nggak boleh langsung ke UGD di rumah sakit?” tanya Dessy tak percaya. Masa orang sakit disuruh muter-muter ke puskesmas dulu baru ke rumah sakit, gerutunya dalam hati. Nggak masuk akal!
Lawan bicaranya mengangguk. “Boleh sih, langsung ke UGD rumah sakit. Tapi ada kriteria khusus dari penyakit pasien, sehingga dianggap layak untuk dirawat tanpa surat rujukan puskesmas. Dan itu biasanya penyakit yang udah sangat parah. Tujuannya kan untuk menyaring para peserta BPJS, Des. Supaya yang sakit tidak langsung berbondong-bondong minta dirawat. Tenaga kesehatan di rumah sakit juga terbatas, kan? Bisa kewalahan,” jelas Rosemary semakin detil.
Benar juga, cetus Dessy dalam hati. Lalu gadis itu kembali bertanya, “Lalu kelemahan yang kedua apa?”
Merasa respon temannya semakin positif, Rosemary semakin percaya diri melanjutkan penjelasannya, “Kelemahan yang kedua adalah, tidak bisa memilih dokter. Jadi rumah sakit satu-satunya yang berhak menentukan pasien BPJS dirawat oleh dokter siapa berdasarkan penyakitnya.”
Rosemary nyengir mendengarnya. “Yah, cuma bisa pasrah, Des. Namanya juga fasilitas pemerintah yang iuran per bulannya terjangkau sekali. Mana bisa komplain.”
“Iya juga, sih,” sahut lawan bicaranyaa menyadari kebenaran kata-kata gadis itu. “Aku juga pernah baca artikel di internet, kalau penyakit kanker sekarang tidak semua biaya pengobatannya ditanggung BPJS. Ada obat-obat tertentu yang memang harganya mahal sekali di pasaran. Jadinya tidak termasuk dalam jangkauan pertanggungan pemerintah. Pikir-pikir masuk akal juga, sih. Iurannya per bulan murah banget, masa kita tega menuntut ini-itu, ya?”
Pernyataan Dessy itu semakin mengobarkan semangat Rosemary untuk mendorongnya ikut program proteksi aset yang ditawarkannya. “Betul, Des,” ujarnya seperti berpihak pada temannya itu. “Karena itu sebaiknya perlindungan yang sudah kamu punya itu dilengkapi dengan program proteksi aset yang kuceritakan tadi. Nggak mahal kok, Des. Nggak sampai tujuh belas ribu rupiah per hari.”
“Hah?!” seru gadis asal Ambon itu membelalakkan matanya. “Bayarnya harian, Rose?”
Lawan bicaranya tergelak. “Hahaha…. Ya nggak-lah. Bulanan, sih. Cuma jatuhnya nggak sampai tujuh belas ribu per harinya,” terang Rosemary lagi.
Hatinya mulai berbunga-bunga. Ya Tuhan, tolong gerakkan hati Dessy agar mengambil asuransi dariku, doa gadis itu dalam hati. Dia ini orang keberapa puluh yang sudah kuprospek dalam satu minggu ini. Setiap malam aku susah tidur memikirkan kapan akan pecah telur menjual asuransi!
“Sebentar, Rose. Kuhitung dulu,” sahut Dessy sembari menghitung di luar kepala. “Hmm…, berarti lima ratus ribu rupiah per bulannya, ya?”
Kawannya mengangguk membenarkan. Senyumnya merekah laksana bunga yang tengah mekar. Hore! soraknya dalam hati. Sebentar lagi aku closing. Gile, Rosemary Laurens akhirnya bisa juga jualan asuransi! Hahaha….
“Nggak berat kan, dana segitu buatmu, Des?” tanya gadis itu semanis madu. “Nggak sampe sepuluh persen dari pendapatanmu menulis novel online, toh?”
Dessy berdecak beberapa kali. “Sebenarnya bisa-bisa aja, sih,” cetusnya kemudian. Hati Rosemary bagaikan melambung ke angkasa.
Kemudian temannya itu melanjutkan, “Cuma masalahnya baru dua bulan yang lalu aku ikut program tabungan berjangka di bank dekat kosku ini. Cukup besar uang yang harus kutabung setiap bulannya. Dua juta! Dan itu jangka waktunya satu tahun, Rose. Kalau kuambil sebelum jangka waktu berakhir, maka aku akan kena denda lima puluh persen! Jadi sori banget ya, Rose. Aku belum berani ikut program lain lagi sampai kewajibanku itu selesai. Sepuluh bulan lagi deh, aku ikut program proteksi asetmu itu. Nggak apa-apa, kan?”
Rosemary memaksakan wajahnya untuk tersenyum mengiyakan. Padahal hatinya remuk-redam seperti habis jatuh dari atap gedung tinggi!
***