Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Kepergok Damian



“Bang!” seru Rosemary seraya memundurkan wajahnya. Dia terkejut sekali. Tak diduganya manajernya sanggup melakukan hal seberani itu. Ini sudah bukan lagi hubungan yang sehat antara bawahan dengan atasan!


“Ups, sori…sori, Rose. Aku…aku.... Aduh, entah kenapa diriku melakukannya. Sori, ya. Sori…,” sahut pria itu seraya memasang wajah memelas. Dia tampak begitu menyesal atas perbuatannya barusan. Dihelanya napas panjang seolah-olah berusaha menenangkan diri.


Lalu terdengar suaranya berkata lirih, “Aku benar-benar minta maaf, Rose. Ini…ini pertama kalinya aku mencium dahi perempuan lain setelah menikah. Benar-benar di luar kesadaranku. Maafkan aku, ya. Atau…kamu sudah nggak berminat lagi untuk nonton bioskop? Kalau memang begitu, nggak apa-apa kuantar pulang kembali ke kos….”


Dia tak sengaja melakukannya, batin Rosemary memaklumi. Barangkali dalam hatinya dia merasakan hal yang sama denganku. Tapi berusaha memendamnya selama ini mengingat statusnya sebagai suami orang….


Gadis itu menelan ludah. Berat sekali rasanya menyukai orang lain namun tak kuasa memilikinya. Tapi mau meninggalkannya juga tak mampu. Dia membutuhkan pekerjaan ini demi meraih cita-citanya memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya di Balikpapan. Siapa sangka dirinya justru jatuh cinta dengan atasannya sendiri! Orang yang dipercaya ibunya untuk membinanya hingga meraih kesuksesan.


“Ayo kita turun, Bang,” cetus gadis itu mengalihkan pembicaraan. “Keburu filmnya main.”


Tanpa ba-bi-bu lagi, Rosemary membuka pintu mobil dan melangkah turun. Manajernya diam-diam menyeringai puas. Siasatnya berhasil. Hati gadis itu telah berada dalam genggamannya.


***


Sebelum masuk ke dalam studio bioskop, Edward mengajak Rosemary membeli snack untuk mengisi perut selama menonton. Gadis yang merasa sungkan itu akhirnya pasrah saja saat manajernya membeli pop corn, kentang goreng, burger, dan minuman untuk mereka masing-masing.


Saat membayar di kasir, tiba-tiba pria itu dikejutkan oleh suara seseorang dari belakang, “Halo, Bang Edward. Mau nonton apa, nih?”


Edward tersentak. Dia refleks menoleh. Dilihatnya Damian berdiri di belakangnya sambil tersenyum lebar. Dia menyadari pemuda itu melirik pada Rosemary yang berdiri di sampingnya, namun tak berani menyapa gadis itu.


Edward segera menguasai diri dan menjawab, “Hai, Dam. Aku sama Rosemary mau nonton film Jet Li. Kamu ingat agen baruku ini, kan? Ayo kenalkan. Rose, ini Damian yang termpo hari membawa segerombolan anak muda di hari pertama kamu datang ke kantor. Dam, kenalkan ini Rosemary.”


“Halo, Mas Damian,” sapa si gadis duluan. Dia mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Pemuda berpenampilan mbois di hadapannya tersenyum.


“Panggil saja Damian. Nggak usah pakai Mas. Umur kita sebaya, kan? Aku dua puluh tujuh tahun. Kamu berapa?” cerocos pemuda itu ramah. Diterimanya uluran tangan Rosemary.


“Saya umur dua puluh lima tahun, Mas…eh…Damian,” jawab Rosemary kagok. Dia ingat pada pemuda yang pernah dilihatnya sekali di kantor ini. Penampilannya sekarang terlihat casual namun trendy. Kaos oblong hijau tua dan celana pendek selutut berwarna putih. Sepatu casual bertali yang dikenakannya berwarna senada dengan kaos yang dikenakannya. Penampilannya sekarang lebih mirip anak orang kaya yang hobi foya-foya, batin Rosemary geli. Bukan agen asuransi yang ulet mencari nasabah dan merekrut agen kesana kemari!


“Gimana Rose, udah turun ke lapangan prospek-prospek?” tanya pemuda itu ingin tahu.


Rosemary mengangguk mengiyakan.


Kemudian Damian bertanya lagi padanya, “Lalu rasanya gimana? Hehehe….”


Pemuda di hadapannya tertawa geli. “Ya dinikmati aja, Rose. Setiap agen pasti mengalaminya. Asal kamu tetap tekun menabur, suatu saat pasti akan menuai rasa manisnya.”


“Amin. Terima kasih, Dam,” sahut Rosemary sambil tersenyum.


Damian mengangguk. Pemuda itu lalu berpaling pada Edward. “Benar kata big boss tempo hari, Bang. Agen-agen baruku yang waktu itu ikut kelas bareng Rose, mundur teratur satu per satu. Mereka bilang nggak kuat ditolak terus-menerus dan bahkan dipandang rendah. Ya udah, aku lepasin aja. Percuma mempertahankan orang-orang yang bermental tempe.”


Edward menepuk bahu pemuda itu. “Sabar, Bro. Gugur satu tumbuh seribu. Masih banyak peluang di depan mata. Oya, kamu mau nonton film apa? Sendirian?”


Damian cengengesan. “Aku sebenarnya sudah nonton dari tadi, Bang. Ini filmnya masih main. Action Hollywood. Tapi aku nggak suka. Malah ngantuk nontonnya.”


“Hah?” sergah Rosemary heran. “Nonton film action kok malah ngantuk? Seru dong, harusnya!”


Sang pemuda nyengir mendengarnya. “Yah, aku sebenarnya lebih suka nonton film drama atau komedi, sih. Saking saudara sepupuku baru datang dari Lombok dan minta ditemani nonton film ini. Baru lima belas menit main, aku langsung ketiduran. Terus bangun karena mau ke toilet. Abis itu kok males masuk ke dalam studio lagi. Jadinya iseng jalan melihat-lihat kemari buat beli snack. Eh, rupanya ketemu kalian di sini,” terangnya panjang lebar. Ekspresi wajahnya tampak berseri-seri. Dia kelihatan senang sekali bertemu Edward dan Rosemary.


“Kamu beli aja deh, Dam. Sekalian kutraktir,” tawar Edward berbaik hati.


“Oh, nggak usah, Bang. Akujuga soalnya mau beliin buat sepupuku. Tadi kita datangnya mepet banget. Jadi nggak sempat beli camilan. Bang Edward sama Rose duluan aja nonton nggak apa-apa. Sebentar lagi kan, film Jet Li main?”


“Ok deh, kalau gitu, Dam. Kami duluan, ya.”


Damian mengangguk. Rosemary turut berpamitan kepadanya. Pemuda itu memperhatikan dua insan itu berlalu. Lalu dia menghela napas panjang.


Bang Edward, Bang Edward. Sudah tiga kali ini aku memergokimu menonton di hari biasa dengan cewek-cewek yang berbeda, keluh pemuda itu dalam hati. Dan sikapmu selalu biasa saja seperti tadi. Sepertinya kamu sudah biasa berkencan dengan perempuan yang bukan istrimu. Seandainya kamu tahu kalau ada orang yang selalu memimpikan dirimu….


“Mau pesan apa, Mas?” tanya pelayan kedai membuyarkan lamunan Damian. Pemuda itu terperangah kaget. Setelah menimbang-nimbang sebentar, dia akhirnya membeli dua botol minuman dingin, dua potong sandwich, dan satu bungkus jumbo popcorn campur asin manis.


Setelah menunggu selama beberapa saat, pesanannya siap semua. Damian langsung membayar di kasir. Kemudian dengan gontai dia berjalan meninggalkan kedai tersebut dan menuju ke studio tempatnya menonton tadi bersama orang yang diakuinya sebagai saudara sepupu.


Dalam suasana remang-remang studio dan hingar-bingar suara perkelahian pada film yang diputar, Damian naik pelan-pelan menuju tempat duduknya tadi. Sesampainya di baris paling atas dan tepat di pinggir jalan, pemuda itu merebahkan tubuhnya. Sebuah suara laki-laki menegurnya lembut, “Kok lama ke toiletnya, Yang? Antri?”


“Nggak,” jawab pemuda di sebelahnya seraya menggeleng. “Sepi, kok. Cuma aku lanjut beli snack dan minuman. Kita kan tadi belum makan. Kamu pasti lapar.”


Pemuda berambut cepak dan berkacamata minus di sampingnya tersenyum. “Kamu memang selalu perhatian sama aku, Yang. Thank you, ya.”