
“Kamu tahu nggak, dulu Dina suka sekali mengajakku makan di tempat ini. Dalam satu bulan kami bisa tiga-empat kali datang kemari. Kadang bersama anak-anak, kadang berdua saja…,” cetus laki-laki itu kemudian. Dia mendesah panjang. Raut wajahnya berubah sedih. Membuat gadis di hadapannya merasa iba.
“Tujuanku bekerja keras selama ini semata-mata untuk memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga. Aku ingin istri dan anak-anakku berkecukupan. Bisa memperoleh apapun yang mereka inginkan. Namun ternyata masih ada saja yang kurang. Kata Dina aku tidak memperhatikan keluarga, lebih sering bersama agen atau nasabah dibanding dirinya, bla-bla-bla. Aaahhh….”
Edward menunduk. Matanya terpejam. Kedua tangannya berpangku di atas meja sambil menutupi dahinya. Dirinya seperti tengah menanggung beban yang amat berat. Rosemary semakin berempati. Dia kembali teringat pada almarhum ayahnya yang berselingkuh. Perasaan Edward bisa dibilang sama dengan dirinya sewaktu mengetahui hal itu. Amat terluka….
Didengarkannya segenap keluh kesah laki-laki itu. Rosemary sama sekali tak berkomentar. Baginya Edward sedang butuh untuk didengarkan isi hatinya, bukan untuk diberi nasihat. Benar saja. Setelah mencurahkan perasaannya, laki-laki itu kelihatan lega. Ekspresi wajahnya sudah tidak sesuntuk tadi, meskipun masih kelihatan kurang bersemangat.
Beberapa saat kemudian pelayan datang membawa pesanan makan siang mereka. Ramen untuk Rosemary dan udon untuk Edward. Sama-sama mie kuah, namun ramen lebih tipis dan lembut bentuknya. Sedangkan udon lebih tebal dan panjang.
“Kok kita bisa sama-sama pesan mie, ya?” seloroh Edward baru menyadarinya. “Bedanya kamu ramen dan aku udon. Hehehe….”
Si gadis senang melihat atasannya ceria kembali. Dia lalu berkomentar, “Dari dulu aku suka makan mie, Bang. Terutama yang bentuknya tipis dan lembut kayak begini. Digoreng maupun direbus aku suka.”
“Kalau begitu, pacarmu nanti harus pintar masak mie ya, supaya disayang terus sama kamu,” celetuk Edward spontan.
Rosemary langsung tersedak. Gadis itu sampai terbatuk-batuk. Edward sontak berdiri dan pindah duduk di sebelahnya. Ditepuk-tepuknya lembut punggung gadis itu. “Ini minum dulu,” katanya sambil mendekatkan segelas ocha hangat pada bibir Rosemary.
Meskipun merasa risih, gadis itu menurut. Diteguknya teh hijau ala Jepang itu perlahan-lahan. Kerongkongannya terasa hangat. Dirinya pun mulai merasa tenang.
“Gimana?” tanya pria di sampingnya kemudian. “Sudah enakan?”
Wajah mereka sangat dekat, membuat tubuh Rosemary panas dingin. Jantungnya berdetak kencang sekali. Gadi itu menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya dengan anggukan pelan. Tak sanggup rasanya menatap mata Edward. Gadis itu jadi teringat pada Owen. Perhatian yang ditunjukkan atasannya saat ini persis dengan mendiang kekasihnya itu di masa lalu. Hatinya merasa tersentuh.
Menyaksikan agennya salah tingkah, Edward tertawa dalam hati. Ingin sekali diterkamnya Rosemary saat itu juga. Saking mereka sedang berada di tempat umum. Coba kalau sedang berduaan saja di apartemen, pasti gadis itu sudah pasrah mau diapakan olehnya.
Ya, ampun. Apartemen! pekik pria itu dalam hati. Aku kan ada janji ketemu Danu untuk melihat-lihat apartemen. Wah, wah, wah. Pesona Rosemary benar-benar membuatku mabuk kepayang!
Pria yang hatinya selicin ular itu lalu bangkit berdiri. Ia kembali ke tempat duduknya semula yang persis berhadapan dengan Rosemary.
“Kalau kamu sudah tidak apa-apa, ayo ramennya dimakan pelan-pelan,” ujarnya lembut. “Nanti keburu kuahnya dingin, nggak enak rasanya.”
Si gadis mengangguk pelan. Dia lalu berkonsentrasi menyantap ramen yang terletak di hadapannya. Demikian pula Edward yang mulai melahap udonnya dengan nikmat. Mereka berdua tak bercakap-cakap lagi sampai meninggalkan restoran tersebut.
“Gimana, Pak Edward? Suka unit yang mana?” tanya seorang pria muda berusia awal tiga puluhan. Dia menatap kliennya dengan sorot mata penuh harapan.
Laki-laki muda itu adalah Danu, broker properti yang dimintai tolong Edward untuk mencarikan apartemen yang disewakan dengan fasilitas dua kamar tidur. Mereka saling kenal semenjak bertahun-tahun yang lalu, yaitu saat Edward mencari tanah kosong untuk dibangun sebuah rumah besar bagi keluarganya. Saat itu dia beserta istri tengah menanti kelahiran putra-putri kembarnya yang merupakan hasil dari program bayi tabung.
Setelah Danu berhasil mendapatkan tanah kavling yang sesuai selera pasangan suami istri tersebut, dia lalu dititipi untuk menjualkan rumah yang ditempati mereka. Demikianlah akhirnya si broker properti melakukan transaksi beruntun dengan klien yang sama dalam jangka waktu beberapa bulan saja. Sejak saat itulah terjadi hubungan timbal-balik di antara dirinya dengan Edward. Saling bertukar klien untuk meningkatkan omzet, sehingga tidak perlu bersusah-payah mencari database baru.
Broker properti itu juga mengetahui karakter tak terpuji Edward yang suka bergonta-ganti pasangan di luar sepengetahuan Dina, sang istri. Namun sebagai sesama kaum adam, Danu memutuskan untuk tidak turut campur. Yang penting kerja sama mereka saling merekomendasikan klien dan berbagi komisi berjalan dengan lancar.
Mendengar pertanyaan si broker properti, Edward menoleh kepada agennya untuk meminta pendapat. “Rose, dari keempat unit yang sudah kita lihat barusan, kamu paling suka yang mana?” tanyanya lembut.
Gadis itu tersentak. Lho, siapa yang sebenarnya nyari apartemen? pikirnya heran. Kok nanya sama aku?
“Gimana, Rose?” tanya atasannya lagi. “Danu nungguin, lho.”
Si broker properti terkekeh. Pak Edward, Pak Edward. Tumben jalan sama gadis yang masih hijau begini, batinnya tak habis pikir. Biasanya sama perempuan yang kelihatan sudah berpengalaman!
“Hmmm…, Bang Edward sendiri paling suka yang mana? Kan dirimu yang akan nempatin. Aku nggak tahu seleramu gimana, Bang,” jawab gadis itu polos.
Atasannya tertawa geli. Memang aku yang akan menempatinya untuk sementara, Sayangku, batinnya penuh muslihat. Tapi jangan kuatir. Lambat-laun dirimu akan kugiring untuk tinggal di sini menemaniku!
“Aku nggak punya selera tentang tempat tinggal, Rose,” katanya berbohong. “Bagiku yang penting ada tempat buat aku berteduh supaya tidak hidup menggelandang di jalanan. Cewek biasanya kan lebih sensitif soal tempat tinggal. Ayo, menurutmu unit mana yang paling cocok buat kutempati setidaknya satu tahun ke depan?”
“Satu tahun saja, Bang? Terus abis itu Bang Edward mau tinggal di mana?” tanya gadis itu lagi dengan lugunya.
“Yah, cari rumah baru, dong,” tangkis laki-laki itu penuh percaya diri. “Tinggal tunggu calon permaisuriku nanti mau rumah seperti apa.”
Danu tak dapat menahan tawanya mendengar kelakar kliennya barusan. Dasar playboy kelas wahid, umpatnya dalam hati. Pintar sekali bersilat lidah. Gadis ini bahkan sepertinya tidak menyadari bahwa apartemen yang akan disewa Pak Edward itu diperuntukkan baginya!
Rosemary mengernyitkan dahi seperti sedang berpikir keras. Dia sebenarnya tidak menyukai semua unit yang ditunjukkan Danu kepada mereka. Interiornya terlalu ramai. Perabotannya tampak kebesaran. Tidak serasi dengan ukuran apartemen yang kecil.
Kalau ada unit yang interiornya lebih sederhana dan perabotannya minimalis, akan lebih baik rasanya, batin gadis itu berpendapat. Mengingat Bang Edward akan tinggal sendirian dan sibuk beraktivitas di luaran. Nggak akan punya banyak waktu untuk bersih-bersih.