
“Udah pada selesai semua, kan? Keluar, yuk. Keburu ditinggal bis acara nanti. Hehehe….”
“Iya, ayo kita keluar sekarang.”
Rosemary menarik napas lega. Akhirnya grup kasak-kusuk itu keluar juga, batinnya bersyukur. Lagian masa sih, Bang Edward pacaran sama Inge? Jangan-jangan itu cuma gosip. Semakin tinggi karir seseorang, biasanya kan semakin banyak orang yang nggak suka sama dia!
Gadis itu berusaha mengenyahkan jauh-jauh pemikiran bahwa kekasihnya mengkhianati dirinya. Bang Edward nggak mungkin tega berselingkuh dariku, batinnya membela pria yang dicintainya itu. Dia sangat mencintaiku. Dan setelah resmi bercerai dari istrinya, Bang Edward akan segera menikahiku. Ya, menikahi Rosemary Laurens. Bukan Inge!
Rosemary menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Dilakukannya selama tiga kali untuk menenangkan dirinya. Itulah teknik yang dulu diajarkan Dokter Dewi, psikiater yang merawatnya di Balikpapan saat dirinya mengalami gangguan psikis serius akibat kecelakaan yang merenggut nyawa Owen.
Sudah lama sekali gadis itu tidak mempraktikkannya. Semenjak hatinya diliputi kebahagiaan sebagai kekasih Edward. Batinnya tidak merasa kesepian dan dahaga lagi akan kasih sayang seorang laki-laki.
Ya, aku tidak boleh berprasangka buruk terhadap orang yang selama ini telah menunjukkan kasih sayang yang begitu besar padaku, tekad Rosemary dalam hati. Menyewakanku apartemen, membelikanku mobil, memberiku uang untuk kebutuhan bulanan, dan membimbingku dengan telaten hinga menjadi agen asuransi yang berprestasi. Orang seperti itu tak mungkin melakukan perbuatan yang tercela di belakangku!
Rosemary menguatkan hatinya untuk membuka pintu bilik. Sepi. Tak ada seorang pun di dalam toilet tersebut. Gadis itu menghembuskan napas lega. Dia mencuci tangan di wastafel lalu mematut dirinya sebentar di depan cermin.
Selanjutnya gadis yang masih memiliki kepercayaan begitu besar pada kekasihnya itu melangkah dengan penuh percaya diri meninggalkan tempat yang tadinya ribut oleh kasak-kusuk agen-agen perempuan yang menggosipkan Edward Fandi.
***
Hari itu acara rombongan tur itu adalah mengunjungi Westminister Abbey, yaitu sebuah bangunan gereja kuno yang biasa digunakan sebagai tempat penobatan raja dan ratu Inggris. Selain itu destinasi wisata tersebut juga kerap dipakai untuk melangsungkan upacara pernikahan dan pemakaman bangsawan Inggris.
Banyak agen asuransi yang berfoto di depan bangunan kuno nan megah itu. Termasuk Edward dan kawan-kawannya. Rosemary diam-diam memperhatikan kekasihnya itu dari jauh. Alangkah terkejutnya gadis itu melihat kehadiran Inge di tengah-tengah rombongan tersebut. Perempuan cantik itu memang tidak berpose persis di samping Edward. Namun dia tak pernah ketinggalan berfoto beramai-ramai dengan pria itu.
Rosemary menelan ludah. Dia merasa kecewa sekali. Walaupun di depan umum dirinya tidak diakui sebagai kekasih Edward Fandi, namun orang-orang tahu bahwa dirinya adalah agen binaan manajer ternama itu. Tak ada salahnya mereka berfoto bersama layaknya pasangan atasan dan bawahan. Tapi hal itu sama sekali tak dilakukan Edward terhadap dirinya. Laki-laki itu justru sibuk berasyik-masyuk sendiri dengan kawan-kawan se-gengnya yang sudah senior dan…Inge, agen yang sebenarnya berada pada level yang sama dengan Rosemary.
Tiba-tiba gadis itu terpana. Dia menyaksikan Edward dan Inge diam-diam mencuri-curi pandang satu sama lain. Bahkan laki-laki itu sempat memberi isyarat agar perempuan itu mengikutinya masuk ke dalam gereja tersebut. Ekspresi wajah mereka benar-benar diliputi kegembiraan.
Dia sama sekali tak ingat padaku, keluh Rosemary dalam hati. Hatinya sedih sekali. Matanya berkaca-kaca.
“Sudahlah, Rose. Jangan menangis di sini. Nggak enak dilihat orang,” kata sebuah suara lembut yang sangat dikenalnya.
Gadis itu menoleh. Damian berdiri tepat di sampingnya. Rosemary merasa tak ada gunanya berpura-pura lagi. Dicurahkannya segenap perasaan yang menyangkut di dada.
“Dia sama sekali tak mempedulikanku, Dam. Padahal hubungan kami sangat serius….”
Rosemary menatap pemuda itu dalam-dalam. Dia tak memahami maksud perkataan Damian barusan. Bagaimana dia bisa mengerti perasaanku?! protes gadis itu dalam hati. Dia cuma sekali memergokiku menonton bioskop bersama Bang Edward dulu itu. Lalu sesekali memperhatikan kami saat sedang bekerja bersama di kantor. Mana bisa dia paham perasaanku yang hancur sekarang ini!
Tiba-tiba gadis itu tercengang. Dilihatnya sorot mata pemuda di hadapannya begitu terluka. Itu seperti tatapan orang yang patah hati! batin Rosemary penuh keyakinan. Tapi Damian patah hati sama siapa? Dia kan penyuka sesama jenis. Masa patah hati sama aku?!
Rosemary terpaku. Ditatapnya sahabatnya dan sosok Edward nun jauh di sana bergantian. Ya ampun! Masa…masa Damian suka sama…Bang Edward?! cetus gadis itu dalam hati. Oh, My God!
Dan keragu-raguan gadis itu terjawab sudah. Damian menganggukkan kepalanya. Pemuda itu tahu Rosemary telah menyadari kenyataan yang terbentang di hadapannya.
“Dam…,” kata gadis itu canggung. “Kamu…kamu suka sama…Bang Edward?”
“Aku dan kamu mencintai orang yang sama, Rosemary Laurens. Akhirnya kamu menyadarinya juga.”
Suara lirih sang sahabat membuat dada gadis itu terasa sesak. Dia sampai memegang bagian depan tubuhnya itu dan mundur beberapa langkah. Damian diam saja memperhatikannya. Untung orang-orang di sekitar mereka sibuk berfoto ataupun masuk ke dalam gereja Westminister Abbey.
Tak ada yang memperhatikan adegan Rosemary yang mengalami shock akibat pengakuan sahabatnya. Bahkan Renata yang tadi sempat berjalan bersama mereka sudah menghilang entah ke mana. Barangkali sedang berfoto bersama rekan-rekan kantornya.
Rosemary kembali mempraktikkan teknik menenangkan diri yang dulu diajarkan psikiaternya di Balikpapan. Setelah beberapa kali mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan, gadis itu bertanya serius pada pemuda yang sejak tadi diam saja memandanginya, “Dam, sori kalau aku menanyakan hal ini…. Hmm…, sejak kapan kamu mencintai Bang Edward?”
“Sejak pertama kali aku melihatnya,” aku pemuda itu jujur. “It’s love at the first sight.”
“Wow…,” cetus Rosemary tak menyangka. Dia menghela napas panjang. “Kamu…kamu pintar sekali menyembunyikannya, Dam. Sama sekali nggak kentara. Bahkan kurasa…kurasa…orang yang kamu cintai itu juga tidak menyadarinya.”
Damian tersenyum getir. “Barangkali dia sendiri tidak menyadari kalau aku gay.”
“Dia tahu!” sela Rosemary. Lalu gadis itu langsung menutup mulut dengan tangannya. Dia menyesali kecerobohannya sudah keseleo lidah. “Maafkan aku, Dam. Sori…, aku…aku….”
“Nggak apa-apa, kok,” sahut pemuda itu tenang. “Baguslah kalau dia tahu aku ini gay. Dunia ini sebenarnya kecil. Tanpa sadar kita sering mengenal orang-orang yang sama. Mereka lalu memberitahu tentang siapa jati diri kita yang sebenarnya.”
Rosemary mengangguk setuju. Dia lalu menceritakan bagaimana kekasihnya bisa mengetahui jati diri Damian yang penyuka sesama jenis. Bahwa ada salah seorang teman Edward yang bercerita bahwa saudara sepupunya dulu sempat berpacaran dengan pemuda itu. Damian tertawa saja mendengar cerita sahabatnya tersebut.
“Kamu tahu, Rose? Aku sebenarnya nggak pernah cinta sama anak orang kaya itu. Dialah yang mengejar-ngejarku terus-terusan. Namanya manusia biasa, hatiku akhirnya luluh. Daripada frustasi tidak bisa mendapatkan orang yang kucintai, ya sudahlah. Terima saja cinta dari orang yang mabuk kepayang setengah mati padaku.”