
Wanita itu menghentikan kata-katanya. Ditatapnya penuh empati perempuan berjilbab yang matanya masih terlihat sembab itu. Rosemary tersenyum tulus. Dia telah mengambil keputusan yang tak terduga.
“Setelah surat itu beserta copy KTP dan cover rekening tabungan atas nama Bu Hanifah kami terima, maka…saya akan mentransfer selisih dua puluh dua juta tadi langsung ke rekening pribadi Ibu. Kemudian kekurangan tujuh puluh enam jutanya silakan ditunggu maksimal sepuluh hari kemudian. Dana itu akan ditransfer oleh kantor pusat Jakarta ke rekening Ibu.”
***
“What?!” seru Damian luar biasa kaget. “Kamu janji mau transfer dua puluh dua juta ke rekening nasabahmu tadi?”
“Yes,” jawab Rosemary mantap. “Tapi setelah surat kehilangan buku polisnya diterima Indri dan berkas-berkas lainnya dinyatakan lengkap untuk mengajukan penutupan polis.”
“Kamu gila, Rose. Benar-benar gila!”
“Maybe.”
“Rosemary Laurens!”
“What?”
“Dua puluh dua juta itu bukan tanggung jawabmu! Itu adalah risiko yang harus diterima nasabah karena mengambil proteksi jiwa dalam polisnya. Kamu sama sekali tidak berkewajiban untuk menggantinya.”
Rosemary menatap tajam sahabatnya. Dia tersenyum sinis. “Apa benar aku seratus persen tidak bersalah dalam hal ini, Dam?”
“Definitely! Bukan kamu yang memangkas dana pensiun orang itu. Perusahaanlah yang melakukannya. Dan itu sepadan dengan manfaat asuransi jiwa yang melekat pada polis itu.”
“Asuransi jiwa yang akhirnya hangus begitu saja karena polisnya ditutup sebelum nasabah meninggal dunia,” cetus Rosemary tenang. “Jujur saja, Dam. Seandainya kamu berada di posisi Bu Hanifah, apa kamu nggak merasa putus asa begitu tahu uang yang kamu tabung dengan susah payah selama delapan tahun ternyata dipotong dengan biaya-biaya yang manfaatnya ternyata tidak kamu rasakan?”
“Itu adalah risiko yang harus ditanggung nasabah setiap membeli produk asuransi. Bukankah ada pasal-pasal yang menjelaskan hal itu dalam buku polis?”
“Pasal-pasal katamu?” ejek Rosemary. “Jujur sajalah. Siapa agen asuransi yang sempat menjelaskan keseluruhan isi dari pasal-pasal itu? Baca sendiri aja malas, apalagi menjelaskan secara detil.”
Damian menatapnya tak mengerti. “Kamu sudah berubah, Rosemary Laurens. Aku seperti nggak kenal kamu lagi. Realistislah. Kita ini bekerja untuk mencari nafkah. Bukan menjadi petugas sosial yang siap sedia mengembalikan uang nasabah yang merasa dirugikan!”
“Kalau kita memang murni bekerja mencari nafkah, kenapa dalam setiap pertemuan besar selalu didengung-dengungkan bahwa bisnis asuransi itu baik karena menolong orang yang sakit, kesusahan, dan sebagainya? Sekarang saat aku untuk pertama kalinya bersikap tulus menolong nasabah yang kesulitan keuangan, kok malah diprotes? Aneh!”
Pria di hadapannya geleng-geleng kepala. Dia tampak putus asa. Memang begitu selalu. Dirinya selalu kalah berargumen dengan kawan baiknya ini. Tak heran Rosemary Laurens menjadi penjual asuransi ulung. Kemampuannya bersilat lidah luar biasa.
Tapi kalau dia berubah seperti ini, aku ragu dia dapat mempertahankan prestasinya sebagai agen terbaik, komentar Damian dalam hati. Selama ini orang-orang yang meraih penghargaan agen terbaik adalah mereka yang terkenal ambisius meraih ketenaran, kekayaan, ataupun kombinasi dari keduanya. Dulu Rosemary terobsesi dengan harta karena tanggung jawabnya sebagai tulang punggung keluarga. Sekarang setelah hal itu tercapai, sepertinya dia berubah haluan. Bukan lagi mengejar uang, sebaliknya malah membagikan uang!
“Tolong rahasiakan hal ini dari siapapun, Dam. Aku cerita sama kamu karena kuanggap kita teman baik. Aku percaya sama kamu….”
“Aku tidak ingin hal ini diketahui orang lain, karena pasti ada lebih banyak kontra. Aku juga sudah berpesan pada Bu Hanifah agar merahasiakannya. Kalau tidak, nanti bisa-bisa nasabah-nasabah lain yang merasa dirugikan berbondong-bondong mendatangi agennya masing-masing dan menuntut dikembalikan uang mereka yang hilang akibat terpotong biaya asuransi dan administrasi….”
Perkataan Rosemary itu ada benarnya. Kalau hal itu sampai terjadi, bisa fatal akibatnya. Kantor mereka berisiko mendapat peringatan keras dari perusahaan induk dan bahkan terancam…ditutup!
Damian menghela napas panjang. “Saranku…,” ucapnya bersungguh-sungguh. “Jangan sampai terulang lagi kejadian ini. Kita tidak tahu sejauh mana nasabah dapat mempertahankan rahasia itu. Takutnya setelah menerima keseluruhan uangnya, justru malah koar-koar di luaran. Kalau sampai masuk media sosial dan namamu disebut-sebut, kamu bisa terkena sanksi serius dari company, Rose.”
Lawan bicaranya tersenyum simpul. “Aku siap menanggung risiko itu, Bro. Karena sesungguhnya aku sudah merasa jenuh…. Jenuh sekali. Ingin sekali rasanya berganti bidang pekerjaan. Bidang yang membuatku merasa nyaman mengerjakannya dan tidak melihat berapa besarnya pendapatan yang dihasilkan….”
Pria di hadapannya tertegun. Rosemary benar-benar sudah berubah, cetusnya dalam hati. Apa yang akan terjadi pada keluarganya kalau dia berganti pekerjaan? Tante Martha saja penampilannya begitu wow. Nggak kelihatan sama sekali kalau dulu pernah hidup pas-pasan. Gimana pendapatnya kalau anak kebanggaannya ini melepaskan profesi yang terbukti menghasilkan kenyamanan dalam kehidupan keluarganya?
“Kamu tahu, Bro,” celetuk Rosemary membuyarkan lamunan sahabatnya. “Perasaanku tadi begitu bahagia melihat Bu Hanifah tumpah ruah lagi tangisnya. Tapi bukan karena sedih, melainkan terharu sekali dengan inisiatifku mengembalikan uangnya yang terpotong biaya-biaya itu. Walaupun dua puluh dua juta itu jumlah yang tidak terlalu banyak untuk meng-cover biaya hidupnya kelak bersama anak-anaknya, tapi setidaknya hatinya merasa lega karena perjuangannya menyisihkan sebagian gajinya tiap bulan selama delapan tahun tidak sia-sia. Meskipun uang itu tidak berbunga, tapi rasa syukurnya itu berarti sekali buatku. Bahwa aku dulu telah membujuknya agar mengambil program dana pensiun demi berjaga-jaga jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Aku…aku merasa telah melakukan kebaikan yang hanya dapat dibalas oleh Tuhan. Perasaan seperti itu ternyata membahagiakan sekali, Dam….”
“Lalu…,” kata sahabatnya itu kemudian. “Bagaimana kalau kelak ada lagi nasabah-nasabahmu yang mempermasalahkan nominal yang diperolehnya tidak sesuai dengan yang ditabungnya? Apakah juga akan kamu kembalikan uangnya seperti Bu Hanifah?”
Rosemary tertawa geli. “Tergantung kasusnya gimana, Bro. Berhasil menyentuh hatiku atau nggak. Hehehe….”
Damian menatapnya heran. “Memangnya apa istimewanya kasus Bu Hanifah ini sampai berhasil menyentuh hatimu?” tanyanya ingin tahu.
Yang ditanya tertawa saja tak menanggapi. Dia malah berkemas-kemas hendak meninggalkan ruangan meeting berukuran kecil tersebut.
“Aku duluan ya, Bro,” pamit Rosemary tergesa-gesa. “Ada janji ketemu seseorang. Penting banget.”
“Siapa? Klien?” tanya Damian penasaran.
Wanita itu menggeleng tegas. “Nope. Aku mau ketemu psikiater,” akunya jujur.
“What?!” seru sang pria kaget. “Buat apa?”
Rosemary menjawab penuh makna, “Aku butuh pencerahan. Kapan-kapan deh, kuceritakan. Bye.”
“Bye,” sahut Damian sembari melambaikan tangannya. “Hati-hati di jalan.”
“Thank you, Bro.”
Selanjutnya wanita itu bergegas meninggalkan kantor. Sesampainya di dalam mobil, dia menelepon seseorang, “Maaf, Dokter Mirna. Bisakah hari ini saya konseling? Tadi ada kejadian di kantor yang membuat kerongkongan saya seperti terbakar lagi….”
***