
Rosemary merasa kecewa. Jadi itu alasannya ibunya membiarkan Oliv menikah dengan laki-laki pilihannya. Karena harta….
Tiba-tiba sebuah pertanyaan mengusik benak gadis itu. “Memangnya berapa umur pacar Oliv itu, Ma? Kok papa-mamanya ngebet banget dia segera menikah?”
“Tiga puluh tahun, Rose,” jawab Martha jujur.
Putri sulungnya terbelalak. “Hah?! Sembilan tahun lebih tua dari Oliv. Bahkan lebih tua dariku!” serunya spontan.
Ibunya mengangguk membenarkan. “Dia dulu sempat nakal sekali di masa mudanya. Ya gonta-ganti cewek, dugem, pakai narkoba. Akhirnya dimasukkan ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat di Jakarta selama satu tahun. Pulangnya ya baru dua tahun ini. Dia sudah berubah menjadi anak yang baik dan rajin bekerja di perusahaan papanya. Ketika melihat Oliv di sebuah toko roti, dia langsung jatuh cinta dan mendekati adikmu itu. Hubungan keduanya adem ayem kok, selama satu tahun ini. Mama nggak pernah melihat mereka bertengkar.”
“Ya kan masih pacaran, Ma. Semua masih pakai topeng,” komentar Rosemary enteng. Dia masih belum sepenuhnya setuju dengan rencana pernikahan adiknya.
“Tapi adikmu itu beda denganmu, Rose. Dia lebih suka menjadi ibu rumah tangga daripada wanita karir yang hebat sepertimu. Jadi ya, sudahlah. Kita dukung saja keputusannya untuk menikah di usia muda. Seperti Mama juga mendukung keputusanmu dulu untuk menjadi agen asuransi di Surabaya, kan? Buktinya pilihanmu nggak salah. Lihat dirimu sekarang, Rosemary. Siapa sangka kamu akhirnya berhasil menyewa apartemen sendiri, membeli mobil, dan berekreasi ke London dari hasil kerja kerasmu! Mama benar-benar bangga padamu, Nak. Kamu memang suri tauladan yang baik bagi adik-adikmu.”
Rosemary terduduk lemas. Dia tak tahu lagi harus berkata apa. Seandainya Mama, Oliv, dan Nelly mengetahui masa laluku yang kelam bersama Edward Fandi…. Mereka pasti kecewa sekali, batin gadis itu nelangsa. Lalu sampai kapan aku hidup dalam kebohongan seperti ini? Dipuja-puja bagaikan dewi yang telah berhasil menyelamatkan harkat dan martabat keluarga. Dipandang sebagai panutan yang baik. Dianggap sebagai orang yang tak mungkin melakukan kesalahan berat….
Ingin sekali rasanya dia menjerit keras-keras dan menceritakan masa lalunya sebagai kekasih simpanan pria beristri. Juga perbuatan dosanya menggugurkan darah dagingnya sendiri. Namun ekspresi wajah ibunya yang tampak begitu bangga pada putri sulungnya ini membuat Rosemary mengurungkan niatnya.
Gadis itu hanya bisa memendam rasa penyesalannya dalam diam. Dalam keheningan yang terkadang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak di malam hari….
***
Delapan tahun kemudian. Rosemary Laurens ditahbiskan sebagai agen terbaik se-Indonesia Timur untuk brand asuransi yang dipasarkannya. Penjualannya sepanjang tahun lalu fantastis sekali sehingga tahun ini dia memperoleh free trip keliling Eropa selama dua minggu berturut-turut untuk tiga orang.
Rosemary bahagia sekali. Dia mengajak Martha dan Nelly untuk menemaninya. Tiga hari sebelum hari keberangkatan, mereka bertiga pergi ke Jakarta untuk menghadiri acara penghargaan di hotel bintang lima.
“Selanjutnya mari kita sambut The Best Agent of East Indonesia…is…Rosemary Laurens!” seru MC acara yang merupakan seorang presenter ternama negeri ini.
Dengan penuh percaya diri Rosemary berjalan naik ke atas panggung penghargaan. Gaun berbahan sifon model V-neck dan berwarna putih tulang yang dihiasi aneka kristal berwarna-warni membuat penampilan wanita itu tampak elegan dan glamor ala dewi Yunani.
“Terima kasih yang tak terhingga saya ucapkan atas penghargaan ini,” ucap wanita itu memulai kata sambutannya. “Ini merupakan pengakuan dari company yang sangat menyentuh hati saya. Rosemary Laurens tak mungkin dapat berdiri di sini sekarang tanpa dukungan dari company, Bu Teresa sebagai leader, dan tentu saja yang paling berharga adalah support yang tak terhingga dari keluarga saya. Mama dan adik saya Nelly yang duduk di sebelah sana…,” kata Rosemary sembari tersenyum lebar dan melambaikan tangannya pada ibu dan adiknya yang menatapnya bangga di tempat duduk mereka. “Olivia, adik saya satunya yang kebetulan hari ini tidak bisa hadir karena sedang hamil besar anak ketiganya. Cinta kasih kalianlah yang telah menguatkan saya untuk berjuang semaksimal mungkin di bisnis yang terkenal sebagai bisnis penolakan ini. Terima kasih banyak. Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin.”
Wanita yang menjadi bintang malam itu kemudian berjalan dengan tenang meninggalkan panggung penghargaan. Kepergiannya diiringi tepuk tangan riuh membahana dari segenap peserta acara. Akhirnya, jerih payahku selama hampir sepuluh tahun terbayarkan dengan perolehan penghargaan yang berskala nasional ini, batin Rosemary lega. Sebelum-sebelumnya penghargaan yang kuterima hanya berskala propinsi ataupun daerah semata. Akhirnya aku bisa bersanding dengan orang-orang ternama dari company. Orang-orang bule yang diutus langsung dari perusahaan induk untuk hadir di acara penghargaan terbesar tahun ini. Aku diberi kesempatan untuk berfoto dan makan bersama dengan mereka secara eksklusif. Tapi…kenapa perasaanku tidak sebangga yang kupikirkan, ya? batinnya heran.
Perasaan heran Rosemary tak berhenti sampai di sana. Dia juga tak begitu merasa istimewa tatkala sehabis acara selesai, banyak orang yang mengelu-elukannya dan mengajaknya berfoto bersama. Dilayaninya permintaan-permintaan itu dengan ramah, namun hatinya tetap merasa tak ada yang spesial.
“Selamat ya, Rosemary. Kamu benar-benar cemerlang malam ini,” cetus Damian membuyarkan lamunannya.
Wanita itu tersenyum manis dan berkata, “Thank you, Bro. Congratz juga buatmu. Manajer terbaik se-IndonesiaTimur. Wow!”
“Thanks a lot, Sis. Tapi itu nggak ada apa-apanya dibandingkan prestasimu. Agen dengan omzet penjualan terbesar se-Indonesia Timur. Wow, bahkan omzet pribadi big boss Teresa pun lewat. Rosemary Laurens memang dahsyat!” ucap pria itu bertubi-tubi.
Sahabatnya tertawa keras. Damian terlalu merendah, pikir wanita itu kagum. Aku mungkin penjual asuransi yang hebat. Namun dalam hal manajerial, aku kalah jauh dengannya.
Memang benar. Rosemary memang tekun dan ulet menjalin hubungan dengan nasabah. Hal itu dilakukannya semata-mata demi meraih kepercayaan mereka. Namun dalam hal merekrut agen baru dan menjadikan orang itu berhasil sebagaimana dirinya terasa sulit sekali bagi Rosemary.
Wanita itu tidak setelaten Damian dalam memotivasi dan mengarahkan agen untuk berkembang. Dia tipe one man show, yakni orang yang cenderung bekerja sendiri tanpa pendelegasian tugas-tugas kepada para anak buah. Rosemary menyadari kekurangannya tersebut setelah beberapa kali gagal mempertahankan agen-agen rekrutannya untuk tetap bertahan di bisnis ini.
Wanita yang berhasil meraih posisi manajer level tertinggi itu akhirnya pasrah dan memutuskan untuk berjuang sendiri memenuhi target omzet timnya. Jadi meskipun wanita itu menduduki posisi manajer, namun tak seorang agen pun yang dimentorinya. Omzet timnya merupakan hasil pencapaiannya pribadi.
Berbeda halnya dengan Damian yang omzet timnya merupakan akumulasi dari omzet penjualannya pribadi sekaligus agen-agen yang berada di bawahnya. Tak sedikit dari anak-anak buahnya yang akhirnya berhasil dipromosikan sebagai manajer-manajer baru dan akhirnya membentuk timnya sendiri.
Oleh karena prestasinya itulah pria itu dianugerahi penghargaan manajer terbaik se-Indonesia Timur. Penghargaan yang secara jenjang karir sebenarnya lebih membanggakan dibandingkan yang diperoleh Rosemary sebagai penjual terhebat.