
Nada suara ketus Rosemary membuat Edward terperangah. Sama sekali tak diduganya gadis itu akan mengambil keputusan yang tidak rasional seperti itu. Agen lain tak mungkin menolak rezeki yang ditawarkan olehnya barusan. Bayangkan, manajer senior sekelas Edward Fandi akan melimpahkan seluruh database nasabah yang diperolehnya selama hampir dua belas tahun secara cuma-cuma! Komisi dan bonus yang menyertainya pastilah berlipat ganda dari penghasilan Rosemary Laurens saat ini. Namun rupanya hal itu sama sekali tak menarik hati gadis itu.
Dasar Gadis Bau Kencur. Harga dirimu tinggi sekali! kecam Edward dalam hati. Sok-sokan menolak durian runtuh yang jatuh tepat di hadapanmu. Akan kulihat nanti sejauh mana kamu bisa berhasil di bisnis asuransi tanpa bantuanku lagi, Sayang….
“Kalau nggak salah, apartemen ini tempo hari kamu perpanjang sewanya lagi, kan?” tanya gadis itu tenang namun tak menatap Edward sama sekali. Pandangannya menerawang menelusuri segenap penjuru tempat tinggalnya selama satu tahun lebih itu.
Edward mengangguk lalu menjawab, “Betul. Masa sewanya akan berakhir tiga bulan lagi. Apakah kamu mau agar kuperpanjang lagi? Berapa tahun? Akan kuhubungi Danu untuk mengurusnya. Pembayaran akan kuselesaikan sebelum aku pindah ke Jakarta.”
Pandangan Rosemary kembali mengarah pada laki-laki itu. Ekspresi wajahnya serius sekali. “Nggak perlu repot-repot mengurus segala sesuatu demi kebaikanku. Aku sudah bukan Rosemary Laurens yang lugu dan bisa diakali seperti dulu lagi.”
Dada Edward terasa sakit sekali mendengar kata-kata Rosemary yang semakin ketus itu. Rupanya segala strateginya kini mulai dapat dibaca oleh gadis ini. Sebenarnya laki-laki itu hanya ingin meninggalkan Rosemary dalam kondisi finansial yang terjamin. Bagaimanapun juga mereka berdua pernah menikmati masa-masa manis berdua yang tak terlupakan. Namun rupanya maksud baiknya itu tidak diterima dengan baik dan bahkan cenderung dicemooh oleh gadis itu.
Ya sudahlah. Terserah apa maumu, Gadis Naif, ejek pria itu dalam hati. Yang penting hubungan kita berakhir dengan lancar dan rumah tanggaku tak terancam bahaya.
“Aku akan menjual mobil Xenia pemberianmu,” kata Rosemary dengan nada suara berwibawa. “Uangnya akan kutransfer langsung ke rekeningmu. Dan setelah aku menemukan tempat tinggal yang baru, kunci apartemen ini akan kutitipkan pada Mbak Indri untuk diberikan kepadamu. Kumasukkan dalam amplop tertutup agar dia tidak curiga. Dan…jangan datang menemuiku lagi di sini. Kita sudah tidak ada keperluan membicarakan hal-hal pribadi lagi. Kalau ada urusan pekerjaan, lebih baik bertemu di kantor saja. Oya, bagaimana kelanjutan nasib Mbak Indri sepeninggalmu nanti? Apakah dia masih akan bekerja?”
Edward tercengang mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan gadis itu barusan. Dia tak menyangka Rosemary dapat berbicara begitu runtut dan tegas seperti itu. Apakah dia begitu menderita sampai-sampai mempengaruhi sikapnya menjadi lebih kuat seperti sekarang? batin pria itu menduga-duga.
“Indri belum kuberitahu tentang rencana pengunduran diriku,” jawabnya kemudian. “Tapi akan kupikirkan solusi yang terbaik baginya. Apakah kamu masih mau memakainya bersama-sama dengan manajer-manajer bawahanku lainnya? Tapi tentu saja kamu harus berkontribusi terhadap pembayaran gajinya setiap bulan. Kecuali kalau kamu mau menerima support dariku. Aku bisa mentransfer sejumlah uang ke rekeningmu untuk menggaji Indri setidaknya dua tahun ke depan. Setelah itu kurasa kamu sudah mampu menggajinya sendiri….”
Dasar manajer bodoh! umpat gadis itu dalam hati. Menerima pengalihan semua nasabah, komisi, dan bonusmu saja aku nggak sudi. Apalagi cuma gaji sekretaris yang tak seberapa besarnya!
Ekspresi wajah Rosemary yang begitu merendahkan dirinya membuat Edward tersadar. Dia lalu menganulir kata-katanya, “Jangan tersinggung, Rosemary. Aku tidak bermaksud….”
Gadis tegar itu memotong ucapannya, “Kata-katamu sudah tak mampu lagi menyinggung perasaanku, Edward Fandi. Karena perbuatanmu yang telah mengelabuiku selama ini benar-benar menghancurkan hatiku. Aku sekarang sudah tak punya kemampuan untuk merasa tersinggung!”
Begitulah akhirnya. Hubungan kedua insan yang dulu pernah merajut asmara dengan begitu indahnya itu akhirnya hancur lebur tanpa sisa….
***
Plok, plok, plokkk….
Suara tepuk tangan membahana di segenap penjuru ruangan. Para manajer yang duduk di barisan depan bangkit berdiri sambil terus bertepuk tangan. Sikap tersebut akhirnya diikuti oleh seluruh agen yang mengikuti pertemuan mingguan di kantor asuransi milik Teresa tersebut.
Sementara itu Rosemary yang duduk di belakang tidak ikut berdiri. Wajahnya cemberut. Dia muak sekali menyaksikan Edward dielu-elukan bak pahlawan yang berjasa bagi nusa dan bangsa. Darahnya terasa mendidih tadi sewaktu laki-laki itu bercerita di atas panggung tentang keharmonisan keluarganya yang menjadi support system terbesarnya dalam meraih sederet prestasi di dunia asuransi.
Ingin dicakarnya wajah Edward waktu slide presentasinya memunculkan foto-foto para agen yang dibinanya dari nol hingga berhasil meraih prestasi yang membanggakan. Ada wajah bahagia Rosemary di sana yang sedang berpose dengan mobil Xenia yang diakuinya sebagai hasil kerja kerasnya sebagai agen asuransi. Gadis itu benci sekali melihatnya. Padahal itu adalah hadiah ulang tahun untuknya dari Edward sewaktu mereka masih menjalin kasih.
Berani sekali Edward Fandi menyertakan foto yang berisi kebohongan itu dalam materi presentasinya! Jangan-jangan sebagian besar yang dikatakannya itu juga tidak jujur. Jangan-jangan…orang-orang yang pernah berdiri di atas panggung testimoni itu juga sama bejadnya seperti Edward Fandi!
Tiba-tiba perutnya terasa mual seperti mau muntah. Diam-diam gadis itu pergi meninggalkan ruangan di tengah sorak-sorai orang-orang yang masih memuja-muji Edward.
Sesampainya di toilet, Rosemary berusaha memuntahkan isi perutnya. Namun tak ada yang keluar. Dia lalu membuka saku depan tasnya. Dikeluarkannya sebotol kecil minyak kayu putih andalannya kalau masuk angin. Dioleskannya pada bagian dada, perut, dan punggungnya. Setelah itu dimasukkannya botol plastik berwarna hijau itu kembali ke dalam tas.
Gadis itu mendekatkan jari-jari tangannya persis di depan hidungnya. Tercium aroma minyak kayu putih yang membuat perasaannya menjadi tenang. Dihirupnya dalam-dalam aroma itu sekali lagi. Kemudian dihembuskannya napas perlahan-lahan.
Setelah merasa kondisinya sudah jauh lebih baik, Rosemary keluar dari toilet. Dia berjalan menuruni tangga untuk menuju ke lantai satu guna menemui Indri, sekretaris tim Edward. Tak dinyana gadis itu berpapasan dengan Damian.
“Hai, Rose. Aku telat datang ke meeting, nih. Belum selesai, kan?” tanyanya dengan wajah berseri-seri.
Gadis yang ditanya tersenyum pahit. Ia berusaha menjawab dengan tegar, “Belum. Orang-orang masih mengelu-elukan manajerku yang berpamitan untuk pindah ke kantor asuransi lain.”
“Oh, sudah kudengar kabar itu. Kukira cuma desas-desus saja. Ternyata benar adanya. Kapan Bang Edward berangkat ke Jakarta, Rose?”
Rosemary mengangkat bahu tak peduli. Wajahnya terlihat masam. Damian jadi menyesali pertanyaannya.