Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Berhutang Budi



Gadis itu terkesiap. Aduh, mahal juga, ya? batinnya resah. Nyari nasabah yang mau bayar premi segitu tiap bulan aja susahnya setengah mati! Gimana kalau aku nggak closing dari pameran itu? Rugi dong, udah bayar mahal-mahal.


“Gimana, Rose? Ikut, nggak?” tanya Edward meminta kepastian. “Acaranya akan dimulai tiga hari lagi. Karena ini bukan pameran tunggal, melainkan bersama-sama dengan bank dan lembaga keuangan lainnya. Ini tinggal empat slot peserta yang tersisa. Kalau kamu nggak ambil keputusan sekarang, nanti keburu diambil agen lain.”


“Mahal sekali ya, Bang,” komentar anak buahnya mengajukan keberatan. Aku sangat menghemat biaya hidupku selama belum memperoleh penghasilan, pikir Rosemary logis. Apakah mengeluarkan uang sebesar itu nantinya setimpal dengan hasil yang kudapatkan, ya?


Tiba-tiba didengarnya sang manajer tertawa. Gadis itu jadi dongkol. Beginilah nasib orang kalau nggak punya duit, batinnya sebal. Sering dijadikan bahan tertawaan!


“Aduh, Rose. Masa sampai sekarang kamu belum mengenal kepribadianku! Mana mungkin aku tega membebankan uang sebesar itu padamu? Hahaha….”


Rosemary menghembuskan napas lega. Syukurlah kamu mengerti diriku, Bos, cetus gadis itu dalam hati. Masa kamu yang nggak perhitungan membelikanku tiket Balikpapan-Surabaya, sekarang sampai hati membebaniku dengan biaya lima ratus ribu untuk ikut pameran!


“Lalu gimana caranya aku bisa mengikuti pameran itu, Bang?”


“Tenang saja. Biar kutanggung sepenuhnya. Tapi kuminta kamu berjanji melakukan beberapa hal.”


“Apa itu, Bang? Tolong jangan sulit-sulit, ya,” pinta gadis itu memohon. Dadanya berdebar-debar mengira-ngira permintaan apa yang akan diajukan atasannya tersebut.


“Pertama, aku minta tanggung jawabmu untuk hadir di pameran itu setiap hari. Kecuali kalau kamu memang ada janji ketemu orang atau ada urusan lain yang lebih urgent. Kedua, di pameran kamu harus aktif memprospek para pengunjung mal. Jangan sampai aku mendengar laporan kamu bermalas-malasan. Jangan kuatir, teknik-teknik memprospek di mal akan diajarkan di kantor sehari sebelum hari H. Terus yang ketiga….”


“Banyak banget syaratnya, Bang,” celetuk Rosemary tanpa sungkan-sungkan.


“Tenang saja. Syarat yang terakhir ini mudah dicapai, kok,” komentar atasannya enteng.


“Apa itu, Bang?” tanya si anak buah penasaran. Mudah-mudahan nggak aneh-aneh, pikirnya agak takut. Misalnya menargetku untuk mencapai omzet tertentu dari pameran. Waduh, bisa stres aku nanti!


”Kamu harus closing minimal 3 case dari pameran ini. Terserah berapa preminya. Jangka waktunya paling lambat dua bulan semenjak pameran berakhir. Kalau tidak terpenuhi, maka….”


“Maka apa, Bang?” potong Rosemary was-was. Aku akan mendapatkan hukuman kalau tidak berhasil menjual tiga polis. Waduh, satu polis saja perjuangannya minta ampun. Dia malah minta tiga!


“Nanti saja kuberitahu kalau kamu gagal,” jawab suara di seberang sana santai.


Si gadis tak terima. “Lho, kok gitu, sih? Kasih peraturan nggak jelas,” protesnya.


“Ya sudahlah, Bang. Kalau aku gagal menghasilkan tiga polis dari pameran itu, pasrah deh hukumannya apa.”


“Hahaha…, tenang saja, Rose. Hukumannya nggak berat, kok,” sahut laki-laki itu berteka-teki. “Yang penting kamu berupaya semaksimal mungkin, ya. Ini semacam canvassing. Keliling kesana-kemari memprospek orang-orang tak dikenal. Ada sebagian agen yang lebih suka metode ini daripada referensi. Alasannya kalau dihindari atau ditolak, nggak terlalu sakit hati karena nggak kenal. Terus kalau presentasi juga lebih pede, karena nggak ketahuan agen baru atau lama. Dan banyak lagi alasannya….”


“Iya, deh. Aku nurut aja. Tapi sesekali tolong pantau aku di lokasi ya, Bang. Buat kasih aku masukan. Jadi aku tahu apa kekuranganku dan bisa kuperbaiki.”


“Siap, Nona Rosemary Laurens!” seru sang manajer lantang.


Si gadis tersenyum senang. Mudah-mudahan aku tak mengecewakannya, batinnya penuh harap. Ingin sekali rasanya berhasil membawa pulang tiga case untuk membuat Bang Edward bangga….


Beberapa saat kemudian pembicaraan antara atasan dan bawahan di telepon itu berakhir. Edward yang sedang duduk berhadapan dengan Indri, sekretarisnya di kantor, berkata, “Tolong daftarkan Rosemary ikut pameran tiga hari lagi, ya. Uangnya akan segera kutransfer ke rekening kantor. Screenshoot bukti transfernya nanti kukirim ke nomor WA-mu.”


“Baik, Pak,” jawab gadis berjilbab dan berkacamata itu sopan. “Apakah cuma Mbak Rosemary yang didaftarkan? Agen-agen Bapak lainnya gimana?”


“Mereka sudah biasa memprospek klien berdasarkan referensi. Kalau ikut pameran ini, berarti harus belajar lagi cara baru. Itu akan memakan waktu lama untuk closing. Biar saja tetap dilanjutkan metode yang sudah terbukti berhasil meningkatkan omzet pribadi mereka. Kalau Rosemary kan masih mencari jati diri. Jadi nggak apa-apa mencoba berbagai cara sampai menemukan metode yang paling pas buat dirinya sendiri,” jelas Edward panjang-lebar.


Indri manggut-manggut saja. Tak pernah satu kalipun dia membantah perkataan bosnya ini. Baginya Edward pasti telah mempertimbangkan baik-baik segalanya sebelum mengambil keputusan.


“Lagipula, Ndri…,” lanjut bosnya lagi. “Biaya pameran ini kan tidak murah. Aku tak mungkin menanggungnya sendirian untuk semua agenku. Hati kecilku juga kurang yakin mereka akan mengikuti pameran tersebut dengan maksimal. Kamu tahu sendiri mereka rata-rata sudah mandiri dan setiap bulan pasti closing, kan?”


Lagi-lagi sekretarisnya itu mengangguk. Apa yang dikatakan bosnya itu benar adanya.


“Satu permintaanku, Ndri,” kata Edward sungguh-sungguh. “Tolong rahasiakan bahwa akulah yang menanggung biaya pameran untuk Rosemary. Kalau ada yang bertanya, katakan saja dia bayar sendiri. Tujuanku supaya tidak terjadi kecemburuan sosial. Kamu mengerti, kan?”


“Siap, Pak!” sahut sekretaris yang sangat setia itu sambil mengangguk. Bisa dibilang dia orang yang paling mengerti cara kerja Edward mengatur anak-anak buahnya sehingga selalu akur dan tidak terjadi konflik. Gadis itu selalu berusaha menempatkan dirinya sebagai pihak yang netral, tidak memihak salah satu agen. Dalam kondisi apapun juga, dia akan selalu berpihak pada Edward Fandi, orang yang menanggung persentase terbesar gajinya setiap bulan!


“Bagus,” cetus laki-laki itu puas. “Aku tahu selalu bisa mengandalkanmu, Ndri.”


Karena aku tak mempunyai pilihan lain, keluh gadis itu dalam hati. Walaupun kuketahui keburukan-keburukanmu, tetap kututupi rapat-rapat demi mempertahankan pekerjaan ini. Meskipun cara-cara kotormu kerap membuatku merasa muak, tapi harus kutahan karena aku belum menemukan bos yang lebih murah hati!


Ya, Edward Fandi merupakan manajer yang paling murah hati di kantor itu. Dia rutin memberikan bonus yang besar kepada sekretarisnya setahun tiga kali. Yaitu setiap hari raya Idul Fitri, tahun baru, dan hari ulang tahun gadis itu. Bahkan menjelang akhir tahun si bos tak pernah absen meminta Indri memesan paket makan siang bagi seluruh karyawan tetap yang bernaung di kantor tersebut. Oleh karena itulah namanya begitu harum dan disegani.