
“Terima kasih, Ma. Jaga diri baik-baik juga, ya. Akhir tahun ini Rose akan pulang ke Balikpapan untuk merayakan Natal dan Tahun Baru.”
“Mama senang mendengarnya, Nak. Sekarang kamu beristirahat, ya. Selamat malam.”
“Selamat malam, Ma.”
Setelah mengakhiri pembicaraan di telepon dengan ibunda tercinta, Rosemary berpaling pada Edward yang sejak tadi diam memperhatikannya.
Dengan menguatkan hatinya, gadis malang itu berkata tegas, “Aku berubah pikiran. Carikan dokter yang kompeten dalam menjalankan aborsi. Ingat, jangan sampai suatu saat nanti terjadi efek samping dalam rahimku. Aku bisa menuntutmu bersama-sama dengan dokter itu ke pengadilan!”
Edward tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya aku lolos juga kali ini, batinnya penuh sukacita. Belajarlah dari pengalaman ini, Edward Fandi. Jangan sampai terjadi lagi seorang perempuan hamil akibat ulahmu. Bermain-mainlah dengan lebih hati-hati!
***
Esok sorenya Edward menemani Rosemary pergi ke klinik Dokter Agus.
“Janin dalam kandungan Anda baik-baik saya, Nona Rosemary,” kata dokter tersebut setelah melakukan pemeriksaan USG pada pasiennya.
Gadis itu diam saja tak menanggapi ucapan kawan baik Edward tersebut. Dia hanya mengangguk dan tersenyum sopan. Sewaktu diperiksa tadi Rosemary sengaja tidak melihat ke layar USG. Dia sama sekali tak ingin mengetahui apapun tentang janin yang sudah pasti akan digugurkannya. Tahu semakin banyak tentang keadaan janin yang dikandungnya akan membuat hatinya semakin berat melepaskan darah dagingnya tersebut.
Agus yang menyaksikan sikap acuh tak acuh pasiennya memutuskan untuk tak membahas hal itu lebih lanjut. Dia lalu berkata akan berbicara dengan Edward yang menunggu di luar bilik pemeriksaan tersebut.
Setelah keluar dari bilik yang ditutupi dengan tirai pembatas itu, sang dokter lalu duduk berhadapan dengan Edward di meja kerjanya. Dia berkata bahwa usia kandungan Rosemary diperkirakan sebelas minggu dan dalam kondisi sehat.
“Jadi tidak ada masalah kan Gus, kalau segera dilakukan aborsi?” tanya Edward penasaran.
Sang dokter menatap kawannya prihatin. “Sudah tidak ada solusi lain yang lebih baik ya, Ward? Janin dan ibunya dalam kondisi sehat walafiat, tak kurang suatu apa. Tidak kuatirkah kamu kalau suatu saat akan menyesali keputusanmu?” tanyanya meminta laki-laki di hadapannya mempertimbangkan lagi keputusannya menggugurkan darah dagingnya sendiri.
Edward menggeleng kuat-kuat. “Nggak ada jalan keluar lain, Gus. Taruhannya adalah keutuhan rumah tanggaku,” ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Agus mendesah. Sejak dulu dia tahu kawannya semenjak duduk di bangku SMA ini seorang don juan. Wajahnya yang tampan, badannya yang tinggi dan kekar, serta penampilannya yang perlente seringkali membuat kaum hawa bertekuk lutut di hadapannya. Pun dirinya telah memiliki seorang pendamping hidup yang rupawan dan baik hati seperti Dina. Kehidupan Edward Fandi selalu dikelilingi perempuan-perempuan cantik yang memujanya bagaikan dewa amor.
Terdengar suara tirai dibuka dari dalam bilik pemeriksaan. Rupanya Rosemary telah selesai berbenah diri. Dia lalu duduk di sebelah Edward. Ditatapnya dokter di hadapannya penuh rasa ingin tahu.
Lagi-lagi Agus mendesah. Sambil menatap Rosemary dengan serius, dokter itu berkata, “Jadi bagaimana, Nona Rosemary? Apakah Anda sudah yakin akan…ehm…meniadakan kehamilan ini?”
“Bagaimana, Nona Rosemary? Apakah sudah siap menanggung segala risiko yang timbul akibat keputusan Anda?” tanya dokter tersebut semakin mempertegas maksudnya.
Rosemary menatap tajam pria berkacamata dan berkumis tipis itu. “Saya tidak mempunyai pilihan lain, Dokter. Sebagaimana yang tadi telah diungkapkan oleh kawan Dokter ini…,” ujar gadis itu seraya berpaling kepada Edward yang duduk di sampingnya. “Tapi saya mohon agar proses peniadaan kehamilan saya dilakukan dengan sangat hati-hati. Jangan sampai kelak menimbulkan dampak negatif terhadap rahim saya. Karena hanya itu yang tersisa pada diri saya sebagai seorang wanita.”
Gadis ini meskipun masih muda tapi cerdas dan tegar sekali, puji Agus dalam hati. Kelihatannya dia perempuan baik-baik. Sayang sekali bisa terjerat perangkap cinta Edward Fandi. Haiiiz….
“Baiklah, Nona Rosemary. Saya akan berusaha melaksanakannya dengan baik. Selanjutnya saya membutuhkan kerja sama Nona untuk….”
Dokter itu lalu menjelaskan prosedur yang harus dijalani Rosemary selanjutnya. Gadis itu sudah pasrah. Dia ingin secepatnya melepaskan diri dari bayang-bayang hubungan terlarangnya dengan Edward dan memulai kehidupan baru yang lebih baik.
***
Esok petangnya Rosemary diantar Edward pergi ke rumah sakit ibu dan anak yang direkomendasikan Dokter Agus untuk melakukan aborsi. Rumah sakit itu cukup bagus meskipun letaknya di pinggiran kota. Kemungkinan kecil Edward dan Rosemary akan bertemu dengan orang yang mengenal mereka. Dokter tersebut benar-benar memikirkan segala sesuatunya begitu detil supaya tak mengecewakan pasien sekaligus kawan baiknya.
Hubungan Rosemary dan Edward semakin dingin. Gadis itu memutuskan berbicara seperlunya saja dengan pria yang dulu sangat dicintainya itu. Itupun seringkali dia tak memandang wajah Edward kalau berbicara. Pria itu tak merasa keberatan dengan perubahan sikap mantan kekasihnya itu. Yang penting tak terjadi keributan di antara mereka berdua. Dia sudah letih bersinggungan dengan segala jenis drama berurai air mata.
Rupanya aborsi itu berjalan cukup singkat. Tidak sampai setengah jam. Agus segera menemui Edward yang menunggu di luar ruangan pembedahan.
“Semuanya berjalan dengan lancar, Ward,” ujar dokter itu tenang. “Rosemary masih belum sadar akibat efek obat bius. Kondisinya juga masih diobservasi sampai dua jam ke depan. Tapi berdasarkan pengalamanku sih, kurasa semuan aman-aman saja.”
Kawannya menghela napas lega. “Terima kasih banyak, Gus. Aku berhutang budi padamu,” ucap laki-laki itu sungguh-sungguh.
Agus mendesah. “Kelihatannya Rosemary itu gadis baik-baik, Ward. Aku kasihan melihatnya. Dari luar saja dia tampak tegar dan cuek. Tapi tadi di dalam ruang operasi dia menatapku dengan sorot mata berkaca-kaca dan berkata…. Ah, aku sampai tak tega mendengarnya,” ungkap dokter itu sendu.
Edward jadi penasaran. Dia lalu bertanya pada temannya itu, “Apa yang dikatakan Rosemary padamu, Gus? Apakah dia bermaksud membatalkan aborsi itu?”
Lawan bicaranya menggeleng. Sorot matanya menunjukkan keprihatinannya yang mendalam. Perasaan Edward menjadi tidak enak.
Bikin ulah apa lagi gadis itu? pikir laki-laki itu jengkel. Dia sendiri yang minta dicarikan dokter untuk menggugurkan kandungannya. Sekarang kok seakan-akan segala kesalahan dibebankan pada pundakku!
Setelah diam selama beberapa saat, Dokter Agus akhirnya memberitahu kata-kata pasiennya tadi sebelum melakukan aborsi.
“Dokter Agus, bagaimana caranya agar Tuhan mengampuni dosa saya membuang rahmat yang telah dikaruniakanNya dalam rahim ini?”