Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Doa Martha



“I miss you so much, Rose,” ujar Edward lirih. Ditatapnya sang kekasih dalam-dalam. “Hampir gila rasanya kemarin kautinggalkan di hotel dan tidak ada kabar sama sekali. Kenapa kamu tidak menerima teleponku dan bahkan tak sudi membaca chat WA-ku, Rose?”


Kamu nggak ngerti, batin gadis itu sendu. Aku sudah kehilangan kehormatanku sebagai wanita. Bagaimana mungkin sikapku bisa serileks dulu? Aku butuh waktu untuk menenangkan diri.


“Apakah kamu menyesali kejadian di hotel itu, Rose?” tanya manajernya hati-hati. “Jangan takut. Takkan ada yang tahu tentang hubungan kita. Sampai…ehm…aku resmi bercerai dengan Dina.”


“Lalu setelah kalian bercerai, apakah Bang Edward akan langsung menikahiku?” tanya Rosemary spontan. Dia memberanikan diri untuk menengadahkan wajahnya. Ditatapnya serius manajernya tersebut.


“Memangnya kamu ingin langsung kunikahi? Kenapa?” tanya laki-laki don juan itu sambil tersenyum simpul.


“Karena hartaku yang paling berharga telah kuserahkan padamu, Bang,” jawab gadis itu sambil menggigit bibirnya.


Sungguh naif sekali gadis ini, cetus sang manajer dalam hati. Dia bagaikan seonggok berlian yang belum diasah. Seandainya aku belum berkeluarga, barangkali bisa jatuh cinta sungguhan dengan Rosemary Laurens!


Pria yang sudah sangat berpengalaman menghadapi kaum hawa itu kemudian berbicara dengan runtut, “Aku merasa sangat terhormat menjadi laki-laki yang istimewa bagimu, Rosemary. Kamu gadis yang baik dan memegang teguh norma-norma yang berlaku. Berbeda dengan gadis-gadis muda zaman sekarang yang cenderung terjerumus dalam pergaulan bebas….”


Tapi aku sekarang juga menjadi seperti gadis-gadis itu…, batin Rosemary getir. Terjerumus dalam pergaulan bebas….


“Percayalah, Sayang. Akan kutepati janjiku untuk menikahimu kelak. Untuk sementara waktu biarlah hubungan kita ini dirahasiakan. Karena aku ingin memperjuangkan hak asuh ketiga anakku di pengadilan. Oya Rose, ada hal penting yang perlu kutanyakan. Anu….”


Kata-kata Edward terhenti. Ditatapnya sang kekasih ragu-ragu. Rosemary akhirnya berkata, “Apa yang mau kamu tanyakan, Bang? Bilang saja. Nggak usah ragu-ragu.”


Terdengar pria itu menghela napas panjang. Untuk sesaat pandangannya menerawang ke langit-langit ruangan. Kekasihnya jadi penasaran. Mau nanya apa, sih? pikirnya penuh tanda tanya. Kok kelihatannya susah sekali mengutarakannya.


“Bersediakah kamu mengasuh ketiga anakku kalau kita menikah nanti? Aku tak bisa mempercayakan diri mereka pada Dina. Karena kekasihnya bukan laki-laki baik-baik….”


Rosemary menatap kekasihnya tak percaya. Terus terang dia pribadi tak merasa keberatan. Itulah risiko menjadi ibu sambung. Menerima anak-anak dari istri pertama suami dan menganggap mereka bagaikan anak-anak kandung sendiri. Tapi…, bagaimana dengan perasaan anak-anak itu sendiri? Apakah mereka takkan merasa kehilangan ibu kandung yang sehari-hari lebih sering menemani di rumah dibandingkan ayah mereka yang lebih banyak bekerja di luar?


“Kenapa kamu menatapku seperti itu, Sayang? Apakah kamu merasa keberatan?” tanya Edward kemudian. Dan dia berpura-pura lega ketika agennya menggelengkan kepala.


“Jadi kamu bersedia, Rose? Thanks, God!”


“Karena itulah mulai sekarang aku akan mendekatkan diri pada mereka,” tandas sang kekasih. “Aku akan lebih sering meluangkan waktu dengan anak-anak. Kasihan. Akhir-akhir ini mereka sering ditinggal Dina pergi bersama kekasihnya. Barangkali laki-laki itu tidak begitu suka anak kecil.”


“Lalu apa untungnya orang itu berhubungan dengan Mbak Dina yang sudah bersuami dan mempunyai tiga anak, Bang?” tanya Rosemary curiga. Meskipun dari foto keluarga yang pernah ditunjukkan Edward padanya Dina kelihatan masih cantik terawat, namun seorang pria dewasa tentunya akan berpikir dua kali untuk menjalin hubungan spesial dengan perempuan yang sudah berkeluarga.


Edward menghela napas panjang. “Hati orang siapa yang tahu, Rose,” jawab pria itu penuh teka-teki. “Barangkali dia hanya sekedar melampiaskan nafsunya pada istriku, atau memang benar-benar CLBK. Cinta lama bersemi kembali. Atau mungkin menghendaki harta gono-gini yang akan diperoleh Dina setelah kami bercerai. Who knows?”


Masuk akal juga jawabannya. Seandainya pertanyaan itu dibalikkan kepadaku, orang-orang juga akan heran kenapa aku mau menjalin hubungan dengan Bang Edward, pikir gadis itu malu. Pria yang berusia jauh lebih tua. Juga sudah punya istri dan tiga anak. Haiiiz…cinta itu memang buta. Tak mengenal logika.


Kemudian Edward kembali melancarkan rayuannya, “Aku merasa pertemuan kita benar-benar diatur oleh Tuhan, Rose. Kamu hadir sebagai penyejuk hatiku yang merana akibat dikhianati wanita yang kukira akan menjadi pasangan hidupku selamanya. Berkat dirimu aku kembali bersemangat menghadapi masa depan. Terima kasih banyak ya, Sayang.”


Rosemary mengangguk pelan. Ya Tuhan, kalau memang orang ini yang Kau putuskan untuk menjadi jodohku, aku terima dengan besar hati, batinnya berserah. Semoga hubungan kami langgeng hingga akhir hayat. Amin.


***


Sementara itu Martha yang sedang menggoreng ikan di dapur tiba-tiba lengan kirinya terkena minyak panas. Ibu kandung Rosemary itu mematikan api kompor lalu mencuci lengannya di wastafel.


Kemudian perempuan itu berjalan menuju ke ruang keluarga. Dibukanya rak berisi obat-obatan di atas meja. Diambilnya salep obat luka bakar kemudian dioleskannya pada bagian lengan yang terkena minyak panas tadi.


“Kalau langsung diolesi begini, dua hari lagi pasti sembuh,” kata wanita itu pada dirinya sendiri. Dimasukkannya kembali salep itu ke dalam rak obat. Ketika dia hendak kembali ke dapur, tak sengaja pandangannya terpaut pada foto Lukman yang tergantung di dinding.


Martha menghela napas panjang. Dia berkata pada potret mendiang suaminya itu, “Kamu sudah damai di surga, Mas. Tapi kami di dunia ini masih berjuang untuk bisa bertahan hidup. Kesalahan-kesalahanmu telah kumaafkan. Tapi kumohon, mintalah pada Tuhan agar menjaga dan melindungi anak-anak kita dimanapun mereka berada. Terutama Rosemary…. Dialah yang paling menderita akibat kepergianmu….”


Ingatan wanita itu terkenang akan meninggalnya Owen akibat kecelakaan bersama Rosemary sehari setelah kepergian Lukman. Juga luka-luka parah yang diderita gadis itu. Serta depresi yang dialaminya akibat kehilangan dua laki-laki yang sangat penting baginya di dunia ini.


Martha mendesah. Ingin sekali rasanya dia pergi menengok putri sulungnya di Surabaya. Namun itu berarti menambah pengeluaran lagi. Uang hasil penjualan mobil Rosemary memang masih utuh. Namun Martha berusaha tak memakainya saat ini karena akan membutuhkannya untuk biaya pendidikan Nelly selanjutnya. Juga untuk membiayai perpanjangan sewa rumah ini jika masa kontraknya habis.


“Tuhan yang Maha Kuasa, aku percaya Kau akan melapangkan jalan anakku Rosemary sehingga menjadi wanita karir yang sukses namun tetap teguh melangkah di jalan yang benar. Amin.”


Selesai berdoa, hati wanita yang dulunya bergelimang harta itu terasa lebih lapang. Dia berjalan kembali ke dapur untuk melanjutkan menggoreng ikan. Menu makanan untuk siang dan malam hari ini. Ditambah tahu, tempe, kerupuk, dan sambal.