
“Masa kamu tidak sayang meninggalkan pekerjaan yang sudah mendarah-daging bagimu selama hampir sepuluh tahun ini, Rose?” tanya ibunya bersikeras.
Sang putri berusaha menjelaskan, “Ma, kalau pekerjaan ini memang mendarah-daging bagiku, aku nggak akan merasa lelah, jenuh, dan bahkan tertekan seperti ini! Aku sudah bekerja secara maksimal di bisnis ini, Ma. Tapi masih dituntut lagi untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Aku jadi merasa diperlakukan bagai sapi perahan.”
“Sapi perahan tidak menikmati apa yang dihasilkannya, Nak. Tapi kamu menikmati!”
“Iya. Aku memang menikmati hasilnya, Ma. Tapi hanya sesaat. Tak ada artinya dibandingkan dengan kelelahan mental yang kurasakan. Aku benar-benar sudah maksimal di pekerjaanku ini, Mama. Aku butuh suasana baru, tantangan baru, dan orang-orang yang menghargai diriku apa adanya. Bukan mereka berbondong-bondong mendekati dan memujiku waktu aku berprestasi dan sebaliknya…menjatuhkanku di depan umum saat kinerjaku menurun! Aku bukan pion perusahaan yang harus selalu siap tempur saat jenderal mengibarkan bendera perang! Aku sudah capek, Ma. Capek, capek!”
Tiba-tiba tangan Rosemary memegang lehernya. Ekspresi wajahnya tampak kesakitan. Martha cemas memandanginya.
“Kamu kenapa, Nak? Lehermu sakit?”
Anaknya itu berusaha menjawab, “Kerongkonganku tiba-tiba panas sekali, Ma. Seperti terbakar. Aduh….”
Segera ditenggaknya gelas air putihnya yang terletak di atas meja makan. Masih belum cukup, perempuan itu bangkit berdiri dan melangkah sedikit untuk mengisi gelasnya lagi dengan air mineral di dalam dispenser.
Martha geleng-geleng kepala menyaksikan anak kebanggaannya itu berkali-kali menghabiskan air dalam gelasnya dan mengisinya kembali dari dispenser
Ya Tuhan, jerit Rosemary dalam hati. Penyakit apa lagi yang Kau timpakan kepadaku? Apakah kini waktunya Kau menghukumku akibat perbuatan dosaku di masa lalu?
***
Esok paginya Rosemary bangun tidur dalam keadaan lesu. Kemarin setelah minum banyak air putih, rasa terbakar dalam kerongkongannya perlahan-lahan menghilang. Hanya tinggal sedikit rasa panas yang tersisa, namun masih terasa menganggu baginya.
“Jadi sekarang gangguan yang kurasakan ada tiga macam,” gumam wanita itu. “Lidah pahit, kerongkongan panas, dan perut mual. Haiiizzz….”
Diperhatikannya bayangan dirinya di depan cermin besar dalam kamar tidurnya. “Aku seperti mayat hidup,” komentar perempuan itu mengenai dirinya sendiri. “Mukaku tirus, pucat, dan tulang-tulang leheku terlihat menonjol. Klien mana yang akan percaya membeli polis asuransi dari agen yang tampak tidak sehat sepertiku?”
Rosemary mendesah. Dia teringat akan penolakan ibunya kemarin tentang niatnya berhenti dari pekerjaannya. “Motivator terbesarku selama ini bahkan tak mendukung keinginanku untuk mengundurkan diri sebagai agen asuransi. Lalu apa yang harus kulakukan? Menurut saja hingga penyakit aneh yang kuderita ini akhirnya mencabut nyawaku?”
Wanita itu terduduk lemas di atas tempat tidurnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Hidungnya memerah. Diusapnya matanya pelan. “Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang? Kumohon berikan petunjukMu. Akan kulaksanakan sesegera mungkin. Aku sudah tak mampu berpikir untuk menentukan tindakan selanjutnya. Kumohon Tuhan, kumohon….”
Tak sanggup menahan kepedihannya, tumpah-ruahlah air mata wanita yang selama ini selalu kelihatan tegar dari luar itu. Dia menangis tersedu-sedu bagaikan anak kecil. Seandainya cermin, dinding, dan semua benda yang berada di dalam ruangan itu mempunyai perasaan, mereka pasti akan menaruh iba pada Rosemary.
Tiba-tiba terdengar suara ponselnya berbunyi. Wanita itu terkejut. Dia segera bangkit berdiri dan mengambil beberapa helai tisu di atas meja rias. Dihapusnya air matanya. Juga hidungnya yang berair. Lalu dihelanya napas sejenak.
“Selamat pagi, Bu Sisil,” sapanya ramah. Wajahnya ikut tersenyum manis supaya aura suaranya di telepon terdengar menyenangkan. Itulah salah satu kunci wanita itu berhasil membuat klien-kliennya merasa nyaman berkomunikasi dengannya.
“Pagi, Rosemary,” jawab suara di seberang sana ceria. “Aku mau kasih tahu, kalau sudah selesai kontrol rawat jalan untuk penyakit tipesku. Terus kapan kuitansi asli dan berkas-berkas lainnya bisa kamu ambil buat urus klaim asuransi?”
Si agen langsung menjawab, “Nanti siang bisa saya ambil di rumah Ibu, ya. Bu Sisil ada di rumah, kan?”
“Ada, kok. Kutunggu ya. Kamu bisa datang antara jam dua belas sampai tiga siang. Oya, Rose. Gimana kabarmu sekarang? Sudah sembuh lidah pahit dan perut mualnya?” tanya si klien penuh perhatian.
“Belum, Bu,” jawab Rosemary terus terang. “Malah sekarang ditambah dengan kerongkongan panas.”
“Hah? Kerongkongan panas? Kok bisa?”
“Nggak tahu, Bu. Baru kemarin terasa.”
“Wah, penyakitmu harus segera diobati, Rose. Lebih baik periksa saja ke Dokter Christopher Wibisana yang dulu aku rekomendasikan itu. Dia praktik di rumah sakit tempatku dirawat tempo hari. Orangnya terkenal baik dan teliti….”
Rosemary tersentak. Oh, my God! Inilah jawabannya. Ya, Dokter Christopher Wibisana. Dialah petunjuk dariMu Tuhan, atas doaku tadi. Aku akan menemui dokter itu secepat mungkin. Akan kucari informasi tentang jadwal praktiknya yang terdekat. Thank you, God. Thank you! batin wanita itu lega.
“Rose, Rosemary. Kamu masih berada di sana?”
Si agen terkejut. Buru-buru dia menjawab, “Oh, iya…iya, Bu Sisil. Terima kasih banyak infonya. Saya akan segera mendaftarkan diri untuk rawat jalan dengan Dokter Christopher Wibisana. Jadi nanti sekitar pukul satu siang saya sampai di rumah Ibu untuk mengambil berkas-berkas klaim asuransi, ya?”
Percakapan di telepon itu masih berlanjut selama dua menit berikutnya. Kemudian Rosemary berdiri kembali di depan cermin dan berkata pada dirinya sendiri, “Rosemary Laurens, Tuhan telah menunjukkan jalan keluar. Jangan disia-siakan. Lekaslah bertemu dengan Dokter Christopher Wibisana. Dialah utusan yang dikirim Tuhan untuk menyembuhkan penyakitmu. Amin.”
***
Rosemary diam memperhatikan dokter muda berwajah serius yang duduk di depannya. Ekspresi Dokter Chris, panggilan singkat dari nama Dokter Christopher Wibisana, tampak serius membaca berkas-berkas pemeriksaan yang dibawa pasiennya tersebut sebagai rekam medisnya terdahulu.
Dia ini dokter termuda yang kukunjungi. Kalau rekan-rekan sejawatnya yang jauh lebih senior saja tak mampu menyembuhkan penyakitku, masa dia sanggup membuat keajaiban? pikir si pasien sangsi. Namun hati kecilnya kemudian memperingatkan dirinya. Ingat doamu tadi pagi, Rosemary Laurens. Katamu akan segera melaksanakan petunjuk yang diberikan Tuhan untuk mengatasi penyakitmu….
Wanita itu menggigit bibir. Benar, putusnya dalam hati. Aku sudah mengucapkan janji itu kepada Sang Pencipta. Maka harus kulaksanakan dengan sepenuh hati. Akan kulakukan apapun saran dari dokter ini. Meskipun dia lebih yunior dibandingkan dokter-dokter internis yang kutemui sebelum-sebelumnya, tapi belum tentu kemampuannya di bawah mereka.
“Nona Rosemary,” ucap sang dokter sambil menatap pasiennya serius. “Dari berkas-berkas pemeriksaan yang Anda bawa ini, terus terang saya tidak menemukan hal serius yang perlu dikuatirkan. Akan tetapi saya akan berusaha memeriksa Nona dengan teliti guna menegakkan diagnosis yang tepat. Silakan masuk ke dalam bilik pemeriksaan….”