Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Niat Jahat



Bagi Indri sendiri, bosnya itu bagaikan perpaduan antara iblis dan malaikat. Iblis karena tak sedikitpun memberikan toleransi pada agen yang tak mematuhi aturannya. Omzet yang seharusnya menjadi hak pribadi agen tersebut secara ajaib bisa berubah menjadi omzet pribadinya sendiri hanya dengan satu kali telepon ke kantor pusat Jakarta. Demikian pula orang-orang yang direkrut agen yang tak disukainya bisa tiba-tiba nama-namanya muncul pada sistem perusahaan sebagai rekrutan Edward pribadi.


Indri yang tahu persis itu adalah ulah bosnya sendiri hanya bisa menjawab tidak tahu ketika ditanya oleh agen yang bersangkutan. Dia tak mungkin mengungkapkan bahwa itu adalah cara-cara halus yang biasa digunakan Edward untuk menghentikan laju karir agen-agen yang tak mematuhi kebijakan-kebijakannya.


Kalaupun mereka mengajukan komplain pada Teresa sebagai pemilik kantor, wanita itu hanya menanggapi dengan sopan dan berkata akan menindaklanjutinya lagi. Namun bos di perusahaan manapun ternyata sama. Cenderung membela orang yang lebih berprestasi dan menghasilkan banyak keuntungan bagi perusahaan.


Akhirnya agen-agen bau kencur itu pun mundur teratur. Ada yang pindah ke kantor asuransi lain ataupun banting setir pada bidang pekerjaan yang berbeda.


“Ada hal lain apa yang mau kau laporkan padaku, Ndri?” tanya Edward membuyarkan lamunan sekretarisnya tersebut.


Gadis tersebut menggeleng. “Sudah selesai semuanya, Pak Edward. Saya tinggal menunggu screenshoot bukti transfer untuk biaya pameran Mbak Rosemary. Akan saya laporkan pada kepala akunting,” katanya kemudian. Dibereskannya berkas-berkasnya di atas meja. Dia bermaksud kembali ke ruangan kerjanya.


“Ok, Ndri. Nanti kukirimkan padamu.”


“Siap, Pak Edward. Saya kembali dulu ke ruangan saya, ya. Selamat siang.”


“Selamat siang.”


Sepeninggal sekretarisnya itu, Edward menelepon seseorang. “Halo, Danu. Apa kabar?” sapanya begitu terdengar sapaan dari seberang sana. “Aku mau menyewa apartemen dengan dua kamar tidur. Lokasinya paling jauh tiga puluh menit dari kantorku ya, Dan. Terus jangan ada mal. Jumlah unit apartemennya juga jangan terlalu banyak. Aku tidak suka keramaian. Supaya privacy-ku tidak terganggu. Oya, yang terakhir harus ada tempat parkir sepeda motor. Apa kamu punya stok, Dan?”


Pria itu lalu diam mendengarkan kata-kata lawan bicaranya yang rupanya seorang broker properti. Beberapa saat kemudian dia menimpali, “Rencananya sih, kusewa satu tahun dulu. Kalau cocok ya, kemungkinan bisa kuperpanjang masa sewanya. Jadi sebaiknya unit yang sudah full furnished. Berapa kira-kira harga sewanya, Dan?”


Didengarkannya dengan seksama ucapan-ucapan si broker properti. Sesekali dia manggut-manggut tanda mengerti. “Ok Dan, kumpulkan saja dulu beberapa unit pada dua lokasi apartemen yang kamu sebutkan tadi. Kalau sudah siap, tinggal hubungi aku satu hari sebelumnya. Akan kuajak seseorang untuk ikut memilih unit yang paling cocok,” putusnya kemudian.


Tak lama kemudian pria itu menghentikan pembicaraan di telepon. Ia merebahkan punggungnya pada sandaran kursi. Disilangkannya kedua lengan di belakang kepala. Dalam benaknya berkelebat bayangan wajah Rosemary yang cantik, kulitnya yang putih mulus, pinggangnya yang ramping, serta bagian depan dan belakang tubuhnya yang padat berisi.


“Rosemary Laurens,” gumam laki-laki itu sambil tersenyum liar. “Pelan tapi pasti, dirimu akan jatuh dalam genggamanku. Seutuhnya!”


Pria mesum itu menutup matanya. Senyumnya semakin lebar membayangkan betapa tak lama lagi dia akan menjerumuskan agen yang seharusnya dibimbingnya dengan baik itu masuk ke dalam petualangan asmaranya.


Pameran di Z-Mall berjalan dengan lancar selama dua hari pertama pelaksanaannya. Hal itu disebabkan mal ramai pengunjung akibat hari Sabtu dan Minggu. Mereka penasaran dengan blow-up yang luar biasa di media massa dan media sosial beberapa hari sebelumnya.


Rosemary mempraktikkan teknik-teknik yang diajarkan di kantor untuk menjaring nasabah di pameran. Tanpa malu-malu gadis itu mengajak bicara pengunjung yang berjalan sambil lalu di depan booth perusahaannya.


“Permisi, Bu. Bolehkah saya kasih brosur?” sapanya sambil tersenyum ramah. Pengunjung yang seorang ibu setengah baya berjilbab itu mengangguk. Gadis itu lalu menyodorkan selembar brosur kepadanya sambil menjelaskan secara singkat, “Ini brosur tentang dana pensiun sekaligus perlindungan kesehatan, Bu.”


“Oh, asuransi, ya?” balas ibu tersebut menduga-duga. “Saya sudah dikasih asuransi dari kantor suami, Mbak. Terus untuk dana pensiun kami berdua sudah punya sejak muda.”


“Oh, nggak apa-apa, Bu. Produk kami ini bisa melengkapi yang Ibu sudah punya. Nanti saya buatkan proposalnya ya, Bu. Bisa saya minta nama, tanggal lahir, sama nomor teleponnya? Nanti akan saya hubungi kalau proposalnya sudah jadi.”


Si ibu langsung menghindar. “Nggak usah deh, Mbak. Saya sudah punya, kok. Nggak perlu ditambah lagi. Permisi,” jawabnya tegas. Dia lalu bergegas melangkah meninggalkan Rosemary.


Gadis itu melihat kepergian calon kliennya dengan wajah kecewa. Dia mendengus masygul. Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki di belakangnya, “Bukan begitu cara yang tepat memprospek orang tak dikenal. Kamu terlalu frontal, Rose. Pantas saja ibu itu kabur.”


Rosemary menoleh ke arah suara itu berasal. Dilihatnya Damian tengah tersenyum memandanginya. Sorot matanya sangat teduh dan menenangkan hati gadis itu. Rosemary balas tersenyum.


“Salahku di mana ya, Dam?” tanyanya ingin tahu. “Padahal aku cuma mempraktikkan apa yang kemarin diajarkan di kantor.”


Pemuda itu mendesah. “Itulah kekurangan kantor kita. Yang disuruh mengajar di kelas adalah orang-orang yang omzetnya besar melulu. Tidak dipertimbangkan terlebih dahulu dari mana dia biasa mendapatkan nasabah. Kemarin yang ngajar itu kan manajer-manajer yang bertahun-tahun lalu biasa closing dari toko-toko. Mereka lupa bahwa zaman sudah berubah. Metode prospek orang tak dikenal juga mengalami perkembangan. Canvassing di mal mempunyai teknik yang berbeda dengan canvassing toko. Karena orang pergi ke mal tujuannya untuk berjalan-jalan, rileks, belanja, ngafe, dan lain-lain. Sedangkan pemilik toko cenderung bergelut di tempat yang sama terus-menerus. Jadi kadang diajak ngobrol sama orang lain itu dianggap sebagai refreshing. Bisa juga merasa kasihan atau simpati dengan agen yang sudah bolak-balik datang menawari asuransi,” papar pemuda itu panjang lebar.


Rosemary takjub mendengar penuturan Damian. Tak disangka kalimat-kalimat yang terdengar logis itu keluar dari mulut agen muda yang baru satu tahun terjun di bisnis asuransi dan prestasinya biasa-biasa saja!


“Kamu sepertinya sudah berpengalaman canvassing di mal, Dam. Bisa tolong ajarin aku?” pinta gadis itu malu-malu. Dia jadi tertarik menjalin pertemanan lebih lanjut dengan pemuda tersebut. Setidaknya usia mereka sebaya. Juga sama-sama yunior di bidang asuransi.


Damian terkekeh. “Hehehe…. Aku sungkan sama Bang Edward. Dia kan jauh lebih senior dan berprestasi dibanding aku,” katanya terus terang.


Rosemary bersikeras, “Nggak apa-apa. Kan kamu sendiri yang bilang kalau canvassing di mal berbeda dengan di toko. Tolonglah, Dam. Aku besok ujian lisensi keagenan, lho. Kalau lulus kan udah resmi jadi agen. Wajib setor case. Tapi sampai sekarang belum satu orang klien pun yang berhasil kubuatkan proposal. Apalagi closing?!”