
Selama dua bulan berikutnya Rosemary sama sekali tak menghasilkan omzet asuransi. Dia merasa sangat tak nyaman memprospek nasabah dalam keadaan tubuh tidak sehat. Lidahnya masih terasa pahit dan perutnya mual setiap hari.
Perempuan itu sudah memeriksakan dirinya ke dokter spesialis penyakit dalam. Dia diberi obat pereda rasa mual dan suplemen untuk menjaga kesehatan lambung. Untuk mengatasi rasa pahit pada lidahnya, dokter memberinya obat kumur. Selain itu Rosemary juga dianjurkan agar tidak memforsir dirinya dalam bekerja.
Karena benar-benar ingin sembuh, dipatuhinya semua saran internis tersebut. Perempuan itu akhirnya hanya mengurus klaim-klaim nasabah dan mengikuti kegiatan-kegiatan pertemuan kantor saja.
Selang seminggu kemudian, tidak ada perubahan signifikan yang dirasakannya. Rosemary lalu melakukan kontrol ke dokter tersebut. Lagi-lagi dia diminta mengkonsumsi obat dan suplemen yang satu minggu lalu telah diresepkan padanya. Bahkan sekarang ditambah lagi dengan sebuah suplemen produksi luar negeri yang menurut dokter tersebut bagus sekali khasiatnya. Si pasien lagi-lagi menuruti saran tenaga medis yang dianggapnya lebih paham tentang gangguan kesehatan yang dideritanya itu.
Kekecewaannya bertambah ketika satu minggu berikutnya kondisi perut dan lidahnya tak kunjung membaik. Rosemary memutuskan untuk memeriksakan dirinya pada internis lain. Dan lagi-lagi perempuan itu kecewa. Akhirnya dia malas pergi ke dokter lagi. Disenang-senangkannya dirinya setiap hari dengan berjalan-jalan di mal, membaca di toko buku, dan berusaha menikmati makanan yang dia sukai.
Rosemary berpikir siapa tahu dengan membahagiakan dirinya sendiri seperti itu, penyakitnya akan hilang dengan sendirinya. Akan tetapi cara tersebut rupanya juga tak menunjukkan hasil yang berarti.
Suatu ketika dia datang ke kantor dan mengobrol bersama para manajer senior di sebuah ruangan tertutup.
“Rose, kamu kurusan lagi, ya?” tanya Damian perhatian. “Pipimu kelihatan tambah tirus. Apa kamu diet?”
Sahabatnya menggeleng. “Nggak, Dam. Ya mungkin karena aku sekarang nggak bisa makan kenyang. Perutku masih terasa mual setiap hari. Lidahku juga tetap pahit,” jawab Rosemary apa adanya.
“Lho, bukankan gejala-gejala itu sudah kamu rasakan sejak kita tur di London? Sudah dua bulan lebih, kan? Masih belum sembuh juga?” tanya pria itu bertubi-tubi. Raut wajahnya tampak cemas.
Sahabatnya mendesah putus asa. Dia lalu berkata, “Belum, Dam. Padahal aku sudah periksa ke internis. Ya dikasih obat, suplemen, sama obat kumur. Tapi nggak mempan.”
“Ya cari dokter lain. Siapa tahu lebih cocok,” saran Damian perhatian.
“Haiz…. Sudah dua dokter yang menanganiku. Tapi ya begitulah. Penyakitku nggak sembuh juga. Akhirnya kubiarin aja. Kusenang-senangin hatiku saja dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang kusuka….”
“Jalan-jalan di mal, baca buku, makan…,” potong Damian sambil mengerling. Rosemary terbahak melihatnya. Sahabatnya ini memang paling tahu kegemarannya.
Tiba-tiba Jeslyn, salah seorang manajer senior yang juga berada di dalam ruangan tersebut, menyeletuk, “Wah, hepi-hepi terus kamu, Rose. Pantas semenjak kembali dari tur keliling Eropa, kamu belum closing!”
Sindiran tajam perempuan berumur awal tiga puluhan dan bertubuh agak gemuk itu membuat Rosemary terpaku. Apa sih, maunya orang ini? Kok tiba-tiba omongannya nggak enak kayak gitu?! batin wanita itu tersinggung. Apa haknya mengurusi aku closing apa nggak? Dasar tukang ikut campur urusan orang lain!
Damian berusaha menengahi. “Rosemary kan lagi nggak enak badan, Jes. Wajar dong, kalau dia mau beristirahat sejenak untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Lagipula selama ini Rose bekerja banting tulang gila-gilaan. Sudah waktunya dia menikmati hasil kerjanya, kan,” tuturnya masuk akal.
Rosemary menatapnya penuh rasa terima kasih. Dirinya tahu sekali Damian selalu dapat diandalkan dalam keadaan apapun juga.
“Aku sama sekali nggak pernah menganggap mereka semua sainganku, Jes,” tandas Rosemary kesal. “Kita semua bekerja untuk mencari nafkah. Jadi sebaiknya tidak saling menjatuhkan. Sori, aku permisi dulu. Mau urus klaim nasabah di rumah sakit.”
Demikianlah wanita bermental baja itu memutuskan untuk meninggalkan ruangan tersebut daripada melanjutkan perdebatan yang dianggapnya sangat tak berfaedah itu.
***
“Aduh. Thank you banget lho, Rose. Setiap kali aku masuk rumah sakit, kamu selalu repot-repot menjenguk segala. Padahal aku kan, udah paham betul cara klaimnya. Gampang banget. Pokoknya kasih aja kartu asuransi dan KTP sama pihak rumah sakit. Beres, deh,” celoteh nasabah Rosemary yang tengah duduk di atas pembaringan kamar rumah sakit.
Si agen asuransi tersenyum. Kliennya ini memang selalu diperlakukan secara istimewa olehnya. Perempuan itu tak pernah lupa bahwa Sisil, nasabahnya yang sedang sakit tipes itu, adalah klien pertamanya di bisnis asuransi.
Masih terngiang dalam ingatan Rosemary betapa putra wanita itu yang bernama Boy, dulu menangis di mal karena kehilangan mama dan pengasuhnya. Rosemary-lah yang menemukan dan menghiburnya waktu itu. Sisil yang akhirnya berhasil menemukan anaknya merasa berterima kasih sekali hingga langsung membuka tiga polis asuransi. Untuk suaminya, dirinya sendiri, dan sang putra tercinta.
Selama hampir sepuluh tahun ini Sisil sekeluarga telah beberapa kali menjalani rawat inap di rumah sakit. Penyebabnya bemacam-macam. Sakit demam berdarah, flu Singapore, muntaber, jatuh waktu naik sepeda, dan lain-lain.
Untungnya Rosemary selalu dalam keadaan siap sedia di Surabaya setiap kali keluarga kliennya itu mendapatkan masalah. Jadinya dia dapat dengan cepat membantu mengurus prosedur asuransi yang diperlukan. Kliennya itu puas sekali dengan pelayanannya. Dia sampai tak segan-segan meningkatkan manfaat polis-polis keluarganya dengan menambah jumlah premi. Otomatis omzet produksi Rosemary meningkat pula.
“Ngomong-ngomong, mukamu kok agak pucat dan tirus ya, Rose?” tanya Sisil menyadari perbedaan wajah agennya dibanding biasanya. “Kamu nggak enak badankah? Atau lagi diet?”
Wanita di hadapannya tersenyum. Dia lalu bercerita tentang gangguan kesehatan yang akhir-akhir ini dialaminya. Nasabahnya tersebut mendengarkan dengan seksama.
“Hmm…, agak aneh juga gejala-gejala yang kamu alami itu, Rose,” komentarnya sambil mengerutkan dahi. “Aku baru kali ini mendengarnya. Pasti menderita sekali rasanya, ya. Apalagi sudah dua bulan lebih kamu mengalaminya.”
Ini baru komentar yang menyejukkan hati, batin Rosemary terenyuh. Bukan seperti Jeslyn yang tadi jelas-jelas berusaha menjatuhkan diriku di depan umum!
“Rosemary,” cetus Sisil sambil menatapnya sungguh-sungguh. “Di rumah sakit ini ada seorang internis yang terkenal pintar, sabar, dan nggak sembarangan ngasih obat pada pasiennya. Namanya Dokter Christopher Wibisana. Barangkali kamu mau mencoba memeriksakan dirimu pada dokter itu….”
Agen asuransinya tersenyum simpul. Dia berusaha menunjukkan sikap hormat atas saran kliennya tersebut. Tapi dalam hati Rosemary sudah tak bersemangat menjalani pemeriksaan lagi dengan dokter manapun. Paling-paling dikasih obat, suplemen, terus disarankan supaya tidak terlalu lelah bekerja. Agar dirinya lebih menikmati hidup. Bla-bla-bla…. Malas, ah!
Selanjutnya dengan kemampuan komunikasinya yang telah terlatih sekian tahun ini, Rosemary mengalihkan pembicaraan mereka pada hal-hal lain. Sisil yang terlena akhirnya tak menyebut-nyebut lagi tentang penyakit agen asuransinya itu. Juga dokter spesialis penyakit dalam yang direkomendasikannya.
***