Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Edward Tak Peduli



Gadis itu lalu mengatur bantal-bantal di atas tempat tidur. Lalu dia duduk bersandar dan menyalakan televisi. Dipilihnya serial komedi situasi untuk menyegarkan pikirannya. Walaupun dirinya tidak terlalu fasih berbicara dalam bahasa Inggris, namun kemampuan pendengarannya dalam memahami percakapan bahasa internasional tersebut bisa dibilang cukup baik.


Kebetulan serial komedi yang disaksikannya itu dimainkan oleh aktor dan aktris Inggris yang cukup punya nama di Indonesia. Rosemary menikmati akting apik mereka. Ia beberapa kali tertawa lepas akibat kelucuan adegan dan dialog yang ditampilkan. Meskipun aksen British para artis tersebut kental sekali, namun gadis itu masih dapat memahami makna yang terkandung dalam serial itu.


Untuk sementara waktu pikiran Rosemary teralihkan dari kekecewaannya terhadap Edward. Hingga akhirnya ada adegan seorang pemain muntah-muntah di pagi hari akibat hamil muda. Gadis itu tersentak. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu.


“Aku sepertinya sudah lama nggak menstruasi,” gumamnya pada dirinya sendiri. Dengan cepat diraihnya ponselnya. Rosemary selalu menyimpan jadwal haidnya di dalam perangkat komunikasinya tersebut.


“Ya, ampun!” pekik gadis itu sembari menutup mulutnya dengan tangan. “Terakhir aku haid dua bulan yang lalu!”


Keringat dingin keluar dari pelipisnya. Gadis itu panik sekali. Tubuhnya terasa menggigil. Dimatikannya televisi. Dia lalu berbaring dan menyelimuti tubuhnya rapat-rapat. “Oh, Tuhan. Apakah aku sedang hamil? Kalau ya, apa yang harus kulakukan? Aku takut…. Takut sekali.”


Selanjutnya air mata berjatuhan membasahi pipi mulusnya. Air mata ketakutan sekaligus penyesalan….


***


“Bang Edward, bisa kita bicara sebentar?” tanya Damian pada seniornya tersebut saat mereka berada di depan Buckingham Palace.


Edward menatap yuniornya itu penuh tanda tanya. Enggan sekali rasanya menanggapi permintaan kawan dekat Rosemary ini. Namun akhirnya pria itu menganggukkan kepalanya. Pria itu lalu berpamitan pada teman-temannya sesama manajer senior dan Inge yang sejak tadi asyik berfoto-foto bersamanya.


Diikutinya langkah kaki Damian menuju ke tempat yang lebih sepi. “Apa yang mau kamu bicarakan, Dam?” tanya pria itu kemudian. Sorot matanya tampak menyelidik.


Damian mendesah. Dengan hati-hati pemuda itu berkata, “Rosemary nggak ikut acara tur hari ini, Bang. Kata Renata, teman sekamarnya, Rose sepertinya masuk angin. Dia meriang, mual, dan muntah-muntah tadi pagi. Badannya sudah dikerokin sama Renata tadi. Warnanya merah tua katanya.”


“Oh, gitu,” jawab lawan bicaranya datar. “Kasihan, ya. Sayang sekali dia nggak bisa melihat Buckingham Palace dari dekat.”


Pemuda di hadapannya tercengang. What?! cetusnya dalam hati. Gitu doang tanggapanmu tentang pacarmu yang sedang sakit?


“Rose juga nggak ikut breakfast hari ini, Bang,” lanjut Damian mencoba menggerakkan hati seniornya itu. “Dia nelepon room service untuk sarapan di kamar. Bahkan kemarin malam dia juga nggak ikut dinner. Pesan makanan lewat room service juga.”


Edward langsung teringat akan pertemuannya dengan gadis itu di depan lift hotel kemarin petang. Kelihatan sekali tatapan Rosemary begitu kecewa memandangnya. Laki-laki itu mendesah. Dia sebenarnya tak bermaksud menyakiti hati gadis itu. Namun apa dikata. Hubungan mereka memang sejak awal tidak dimaksudkan untuk menuju ke jenjang yang serius oleh laki-laki itu.


“Ya, nanti biar ku-WA dia. Nanya gimana kabarnya. Thanks atas pemberitahuannya ya, Dam,” ucap pria itu seraya menepuk-nepuk bahu pemuda tersebut.


Damian terperangah. “Rosemary sakit, Bang. Apa nggak ada keinginan dalam hati Bang Edward untuk melihat keadaannya? Dia kan….”


Kalimat pemuda itu terhenti seketika. Edward menatap tajam padanya. Apa orang ini tahu tentang hubungan spesialku dengan Rosemary? pikir pria itu curiga. Masa Rose memberitahunya? Mereka memang berteman dekat. Tapi Rose sudah berjanji akan menyembunyikan hubungan kami….


Edward tersenyum simpul. Damian tak mampu menafsirkan makna di balik senyuman itu. Namun dari sikap seniornya ini, pemuda tersebut dapat membaca ketidakpedulian Edward terhadap kondisi kesehatan Rosemary.


“Kurasa sebaiknya Rosemary kutelepon aja, Dam. Nggak perlu sampai harus menjenguknya. Nggak enak sama teman sekamarnya nanti. Biar bagaimanapun kami kan lawan jenis. Takut ada gosip yang nggak-nggak nanti kalau aku masuk ke dalam kamar agen perempuan.”


Jawaban diplomatis pria itu membuat hati Damian kecewa. Pemuda itu menghela napas panjang. Ya sudahlah, batinnya pasrah. Yang penting aku sudah berusaha sebisaku untuk menggerakkan hati orang ini. Kasihan sekali Rosemary. Sepertinya perasaan cintanya yang begitu besar pada Bang Edward tidak mendapatkan balasan serupa.


“Udah? Ini aja yang mau kamu katakan, Dam?” tanya Edward selanjutnya. Kelihatan sekali dia ingin segera pergi dari tempat itu untuk bergabung kembali dengan teman-temannya.


Damian mengangguk.


“Ok. Kalau gitu kutinggal ke sana lagi, ya. Mereka sudah nungguin sejak tadi. Atau…kamu mau ikut jalan bareng kita, Dam?” ajak Edward berbasa-basi.


Lawan bicaranya menggeleng. Dia lebih suka berkumpul dengan teman-temannya sendiri. “Silakan duluan, Bang,” ujarnya mempersilakan. “Tapi tolong, jangan lupa telepon Rosemary, ya. Siapa tahu badannya nanti sehat kembali begitu mendengar suara Bang Edward.”


Sindiran pemuda itu membuat Edward menyeringai. Dia kini yakin Damian telah mengetahui hubungan spesialnya dengan Rosemary.


Sambil menyeringai, pria don juan itu balas menyindir, “Kurasa dari semua agen asuransi yang berada di sini, kamulah yang paling memahami Rosemary. Hubungan kalian begitu dekat. Aku yakin dia akan bahagia sekali kalau diperhatikan olehmu, Dam. Jaga Rosemary baik-baik, ya. Dia itu gadis yang baik dan masih lugu. Jangan sampai ada orang yang menyakitinya. Kasihan.”


Selanjutnya Edward bergegas melangkah meninggalkan Damian yang menatapnya dengan sorot mata penuh amarah.


Dasar bajingan kau, Edward Fandi! maki pemuda itu dalam hati. Tega-teganya kamu berkata seperti itu. Rosemary itu benar-benar mencintaimu setulus hati. Seandainya dia mendengar kata-katamu barusan, hatinya pasti hancur sekali. Aku menyesal telah mencintaimu sekian lama. Kamu benar-benar manusia tak punya hati!


Dan semenjak saat itu penilaian Damian terhadap pria yang telah mengisi hatinya sekian lama itu berubah. Pemuda itu akhirnya menyadari bahwa Edward bukanlah pria baik-baik. Orang seperti itu tak layak mendapatkan cinta yang tulus dari siapapun.


***


Dan ternyata Edward sama sekali tak menelepon kekasihnya selama di London. Dia asyik bersenang-senang dengan kawan-kawannya dan Inge. Rosemary pun tak berusaha menghubunginya. Dia enggan memberitahukan keadaannya yang sedang tidak sehat pada sang kekasih.


Hari-hari selanjutnya gadis itu masih mual dan muntah-muntah. Dia memutuskan tidak mengikuti kegiatan apapun. Hanya beristirahat di dalam kamar hotel. Dirinya takut kalau di tengah jalan muntah-muntah maka akan menimbulkan kecurigaan orang-orang.


Renata sungguh seorang kawan yang baik. Gadis itu tak keberatan membantu membelikan oleh-oleh buat keluarga Rosemary di Balikpapan, Indri, Indah, dan Teresa.


“Oya, big boss-mu itu kok nggak ikut tur ini, Rose? Mestinya dia dapat free trip juga, kan?” tanya Renata penasaran.